KEAMANAN ITU ADALAH BUAH DARI KEIMANAN

KHUTBAH JUM’AT

KEAMANAN ITU ADALAH BUAH DARI KEIMANAN

الخطبة الأولي

الحمد لله الذي أكمل لناديننا، وأتمّ علينانعمته ورضي لناالإسلام دينا، وأمرنا أن نستهديه صراطه المستقيم:صراط الذين أنعم عليهم غيرالمغضوب عليهم ولاالضالين. وأشهدأن لاإله إلاالله وحده لاشريك له، وأشهدأنّ محمّداعبده ورسوله، أرسله بالدّين القيّم، والملّةالحنيفة وجعله على شريعة من الأمر.

أعوذبالله من الشّيطان الرّجيم بسم الله الرّحيم

ياأيّهاالذين آمنوااتقواالله حقّ تقاته ولاتموتنّ إلاوأنتم مسلمون. ياأيّهاالذين آمنوااتقواالله وقولوا قولاسديدا يصله لكم أعمالكم ويغفرلكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما. ياأيّهاالنّاس اتقواربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجهاوبثّ منهما رجالا كثيرا ونساء واتقواالله الذي تساءلون به والأرحام إنّ الله كان عليكم رقيبا.

أما بعد فياعبادالله!

Ma’aasyiral Muslimin wazumrotal mukminin rahimakumullah!

Milik paling berharga bagi manusia adalah keimanannya, oleh karena itulah Rasulullah selalu meminta kita untuk selalu mensyukuri nikmat iman ini dengan do’a pendek dan mudah diulang-ulangi:

الْحَمْدُ لله عَلىَ نِعْمَةِ الايْمَانِ وَالاِسلامِ

Kehadiran kita pada majlis yang mulia ini, semga menjadi pertanda bahwa kita termasuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan selalu mensyukuri keimanan itu. Amiin.

Sungguh sangat dalam kita diajak menyelam oleh Al-Imam Fakhruddin Arrazy, ketika beliau menafsirkan Surat Al-Fatihah : “An’amta ‘Alaihim”. Beliau menjelaskan bahwa nikmat yang telah diberikannya itu ialah nikmat iman. Dalilnya adalah adanya alif lam pada kata Al-hamdu (definit article). Yang bermakna tiada lain yang berhak dipuji atas pemberiannya yang tiada satupun yang mampu memberikannya, yaitu nikmat iman. Dengan demikian keimanan itu bukanlah usaha manusia akan tetapi semata-mata pemberian Allah SWT, karena kasih sayang-Nya. Maka wajiblah kita mensyukurinya.[1]

Berdasarkan penjelasan terbut, maka kewajiban manusia selanjutnya adalah mensyukuri nikmat iman yang telah dianugerahkan Allah kepadanya tanpa ia memintanya tapi semat-mata hanya karena hidayah dan kasih sayang-Nya. Manusia wajib pula memeliharanya, mempertahankannya sekuat kemampuannya bahkan dengan jiwa dan raganya sekalipun.

Ketahuilah bahwa nikmat tertinggi inilah yang sedikit sekali disyukuri manusia, sebagaimana dimurkai oleh Allah di dalam Surat Yusuf, ayat 38:

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَشْكُرُونَ.

Dan aku (Muhammad) adalah pengikut agama bapak-bapakku Yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi Kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada Kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).

Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang mensyukuri nikmat Allah yang sangat mulia dan berharga ini.

Hadlirin yang mulia!

Pernahkah kita bertanya mengapa batu itu meluncur jatuh ke bawah? Mungkin kita terlalu sering mendengar rumus-rumus fisika sehingga jawaban yang muncul di kepala dan hati kita adalah hukum grafitasi yaitu karena adanya daya tarik bumi. Itu jawaban empirisnya, jawaban yang digali oleh akal manusia. Dan akal itu pemberian Allah agar manusia bisa memahami sunnatullah di alam ini sehingga bisa hidup berdampingan dengan alam dan saling menguntungkan serta melestarikan khususnya dlam menjaga keimanan kita.

Jawaban ilahiyyah atas peristiwa jatuhnya batu dan benda-benda lain ialah karena dia beriman kepada Allah. Perhatikan firman Allah berikut ini:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدَّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الانْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ.

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: ayat 74 )

Mengalirkan air, terbelah dan meluncur jatuh karena takut itu maksudnya karena batu itu bertaqwa dan tentu saja ketaqwaan itu bisa ada karena adanya iman.

Sahabat Rasulullah Ibnu Abbas yang dijuluki sebagai Samudranya Ilmu, dalam tafsir menyatakan bahwa Allah SWT. sengaja mengambil permisalan dengan batu, padahal semua benda bisa dijadikan contoh, agar tergambar di benak kita bahwa batu yang sedemikian keras itupun jika sudah berhadapan dengan Allah dan sunnah-sunnahnya akan sedemikian tunduknya. Agar manusia membuka ruang malu dalam hatinya sehingga tak hendak mau melakukan perbuatan yang lebih rendah dari batu[2].

Iman adalah pusaran dan poros penghubung antara Allah SWT dengan makhluqnya. Iman inilah yang dimaksud amanah, itulah missi yang di emban manusia untuk disampaikan kepada manusia lainnya. Kata amanah itu adalah derivasi dari kata iman. Seluruh alam jagat raya ini telah dan akan tetap beriman kepada Allah SWT, oleh karenanya manusia tidak diperintahkan untuk mengajak makhluk lain itu untuk beriman.

Hadlirin rahimakumullah!

Dari kata iman itu muncul derivasi lainnya yaitu kata aman, maka dari kaca mata bahasa seharusnya dapat dikatakan bahwa jika iman sudah ada tentu otomatis ke-amanan itu akan tercipta dengan sendirinya. Dalam hal ini Rasulullah sendiri sudah menegaskan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidaklah si pezina itu berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, para pemabuk itu ketika mabuk, juga para pencuri itu ketika mencuri. Tegasnya semua mereka itu melakukan dosa-dosa tersebut tidak dalam keadaan beriman. (HR. Imam Bukhari & Immam Muslim)[3].

Hadits tersebut menjelaskan mutlaknya hubungan antara keberadaan iman dan keadaan aman di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Maka dari persfektif Islam membina keamanan itu seharusnya bertitik tolak dari penanaman keimanan, sebab keamanan yang didapatkan tidak berlandaskan keimanan tentu akan sangat rentan dan mudah lenyap.

Almagfuuru lahu Prof. DR Hamka pernah mengusulkan solusi kepada para penegak keamanan agar mengangkat seluruh rakyat Indonesia menjadi polisi. Usulan ini memang terdengar lucu, karena tidaklah memungkinkan jumlah polisi sebanyak orang yang diawasinya. Lagi pula negara mana yang mampu menggaji sedemikian banyak polisi di sebuah negara?

Beliau menjawab, ini tidak lucu tapi cobalah fikirkan, seandainya semua rakyat Indonesia ini dianggkat menjadi polisi dengan tugas hanya satu saja yaitu mengawasi dirinya seorang saja agar tidak melanggar hukum. Kira-kira mampukah? Jawabnya mudah, ada dua kemungkinan yaitu: Mampu dan tidak mampu. Mampu kalau dalam diri mereka ada iman, tetapi kalau tidak ada iman dapat dipastikan keamanan tidak mungkin terjadi. (Maaf) sekarang saban hari kita mendapatkan berita bahwa penegak hukum juga melanggar hukum, bahkan yang membuat hukum juga melanggar hukum. Ini bukan gejala tetapi fakta. Apakah dengan adanya fakta ini kita masih berkeras mau menegakkan keamanan tanpa dilandasi keimanan? Si kucapang si kucaping kata orang Padang, maksudnya: Uang habis keamanan semakin jauh.

Jamaah Juh’at yang dirahmati Allah!

Keamanan dan keimanan adalah satu kesatuan, kita hanya memisahkannya ketika kita kita hendak menjelaskannya, sama seperti kita menjelaskan hakekat manusia, dimana kita dipaksa untuk memisahkannya agar mudah mendifinisikannya, tapi kalau kita memisahkannya dalam kenyataan maka dia bukan manusia lagi tapi mayat, atau ruh, atau hawa atau nafsu.

Keamanan adalah salah satu cabang keimanan dari 60 cabang lainnya, namun jika cabang yang satu ini tidak ada maka terancam runtuhlah bangunan keimanan kita. Jadi memperjuangkan keamanan sama dengan memperjuangkan keimanan. Iman sebagai landasan dasarnya, pendorongnya dan tujuan akhirnya. Ini wajib ain bagi setiap muslim karena setiap muslim wajib mempertahankan imannya.

Adapun himbauan Pemerintah untuk menjaga dan memelihara keamanan dapat kita jadikan sebagai penyemangat serta bukti ketaatan rakyat kepada Pemerintahnya, dimana allah SWT juga mewajibkan mentaati Pemerintah yang menyuruhkan kepada kebaikan.

Sedangkan tujuan tujuan seperti demi stabilitas ekonomi, kesuksesan pariwisata atau ketahan negara seharusnya kita memahaminya sebagai barakah, atau tambahan manfaat yang akan kita peroleh. Para sosiolog menyebutnya the unintended result keuntungan otomatis yang diperoleh ketika prasyarat sesuatu telah terpenuhi.

Demikian khutbah kita untuk jum’at yang mulia ini, semoga Allah memberikan rahmat dan taufiqnya bagi kita sekalian. Aminn ya robbal alamin.

يَا جَابِرَ مَنْ كَثُرَتْ نِعَمُ اللهِ عَلَيْهِ كَثُرَتْ حَوَائِجُ النَّاسِ اِلَيْهِ فَاِنْ قَامَ بِمَشِِِْ يُحِبُّ اللهَ فِيهَا عَرَضَهَا اللهُ لِلدَّوَامِ وَالْبَقَاءِ وَاِنْ لمَ ْيَقُمْ بِمَا يحُِبُّ للهُ عَرَضَهَا لِلزَّوَالِ.

بارك الله لي ولكم في القران الظيم ونفعني واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم و تقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم


الخطبةالثانيّة

الحمدلله حمداكثيراطيّبامباركافيه والصّلاة والسّلام علي رسوله المبعوث رحمة للعالمين وعلى آله وصحبه أجمعين. صلّوا وسلّموا علي من أمركم باالصّلاة والسّلام عليه فقال: إنّ الله وملائكته يصلّون علىالنّبي ياأيّهاالذين آمنواصلّواعليه وسلّمواتسليما, وقدقال: من صلّي عليّ صلاة صلّى الله عليه بهاعشرا.

اللهمّ فصلّ وسلّم على نبيّك وحبيبك محمّدواعرض عليه صلاتناوسلامنافي هذه السّاعةالمباركة ياربّ العالمين. وارض اللهمّ عن الصّحابةأجمعين وعن التابعين ومن تبعهم بإحسان إلىيوم الدّين وعنّامعهم بعفوك وكرمك وميّك ياأرحم الرّاحمين.

اللهمّ اغفرللمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياءمنهم والأموات من مشارق الأرض إلىمغاربهاإنّك أنت الغفورالرّحيم.

اللهمّ أعنّاعلى ذكرك وشكرك وحسن عبادتك. اللهمّ اجعلنامقيمي الصّلاة ومن ذرّيّتك ربّناتقبّل دعائناربّنااصرف عنّاعذاب جهنّم إنّ عذابهاكان غراما إنّهاساءت مستقرّاومقاما.

عبادالله!

إنّ الله يأمر باالعدل والإحسان وإيتاءذي القربى وينهىعن الفهشاءوالمنكروالبغي يعظكم لعلّكم تتّقون. فااذكرواالله العظيم يذكركم وشكرواعلى نعمه يزدكم ولذكرالله أكبر، أقم الصّلاة.


[1] Tafsir Mafatiihul Ghaib, Imam Faruddin Arrazy, Juz 1, Bab 7, halaman: 238

[2] , تفسير القرآن العظيم أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي,, Juz 2, hal 239

[3] Tercantum dengan lafaz yang sama di dalam kedua Kitab Sahih Bukhary dan sahih Muslim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: