GENERASI TERBURUK DALAM SEJARAH ISLAM

GENERASI TERBURUK DALAM SEJARAH ISLAM
Karena pengaruh peradaban dan filsafat barat, kali ini, Kaum Mulimin terjangkit penyakit penyembahan materi, cinta dunia, mengejar keuntungan sesaat, mendahulukan kepentingan pribadi yang bersifat meterialistis daripada prinsip dan akhlak, layaknya bangsa-bangsa barat yang jahiliah. Akhlak, kejiwaan dan pendidikan itulah yang menghalangi mereka untuk menjalankan kewajiban jihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat-Nya, dan bersusah-payah demi membela prinsip yang benar dan akidah yang luhur.
Dampak dari itu semua adalah munculnya sebuah generasi yang otaknya cerah tapi hatinya gelap, hatinya kosong, keyakinannya lemah, tidak taat beragama, dadanya sempit, tekadnya lemah dan akhlaknya bobrok. Agamanya ditukar dengan dunia, akhiratnya ditukar dengan kesenangan sesaat, menjual umat dan negaranya untuk mendapatkan keuntungan pribadi, kedudukan dan kemuliaan ilusif. Tidak percaya diri, banyak bergantung kepada orang lain. Allah berfirman, “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakanakan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap ieriakan yang keras ditujukan kepada mereka.” (QS. Al- Mundfiqun: 4).

Mereka itulah yang menyebarkan sifat pengecut dan wahan di antara Kaum Muslimin. Mereka itulah yang mengalihkan Kaum Muslimin dari kebiasaan bergantung kepada Allah —lalu kepada diri sendiri— kepada kebiasaan bergantung kepada orang lain; meminta-minta dan mengadu kepada mereka pada saat-saat genting. Generasi itu juga yang telah memadamkan semangat jihad/t sabililldh yang ada di dalam hati Kaum Muslimin, menggantikan sentimen keagamaan dengan nasionalisme yang sakit dan mengantuk. Kegilaan yang telah membangunkan kebijaksanaan dari tidurnya, mengeluarkan akal dari penjaranya, hingga menghasilkan karya besar yang tidak pernah bisa dicapai oleh akal dan ilmu pengetahuan ribuan tahun sebelum itu, juga digantikannya dengan akal cacat dan sakit, yang hanya mengenal rintangan dan halangan.

Perubahan besar dalam akidah, kejiwaan dan kebangkrutan semangat dan iman ini telah muncul dalam bentuknya yang paling buruk di dalam perang Palestina. Dimana Kejadian itu benar-benar merupakan skandal besar bagi dunia Arab pada abad keempat belas Hijriah, sebagaimana kekalahan telak Kaum Muslimin di hadapan serbuan Tatar-Mongol merupakan skandal Dunia Islam di abad kedelapan. Dalam perang Palestina itu, Tujuh negara Arab telah bersatu untuk memerangi negara Zionis dan membela wilayah Arab Islam, kiblat pertama Kaum Muslimin, masjid ketiga yang dianjurkan untuk dikunjungi dengan memacu kendaraan, Jazirah Arab dan wilayahwilayah lain yang terancam oleh bahaya Yahudi. Jadi, perang Palestina adalah peperangan untuk mempertahankan hidup, kehormatan, agama dan ideologi. Saat itu, semua pandangan tertuju kepada tanah Palestina. Semua orang memperkirakan terjadinya peperangan seperti perang Yarmuk atau Hattin. Mengapa tidak? Bukankah umat yang berperang itu sama dan akidahnya pun tidak berbeda? Bahkan, jumlahnya jauh lebih banyak dan peralatannya jauh lebih lengkap. Mengapa orang Arab tidak bisa menang, padahal jumlah mereka sangat besar? Mengapa tidak mampu menghancurkan musuh, padahal hanya segelintir gelandangan? Meskipun banyak dan bersenjata lengkap, mereka melupakan segala sesuatu yang telah diperbuat oleh waktu, pendidikan, negara, kepemimpinan politik, dan materialisme terhadap bangsa Arab di zaman ini. Memang benar, orang Arab telah turun ke pertempuran Yarmuk; namun, tanpa iman yang pernah menyertai para pendahulu mereka, waktu turun ke medan pertempuran ini di masa lalu.

Mereka memang betul-betul mengarungi peperangan yang menentukan seperti perang Hattin —kalau saja mereka menang. Hanya saja, mereka telah mengarunginya tanpa semangat yang dimiliki oleh Solahuddin dan pasukannya yang beriman. Mereka maju ke medan pertempuran dengan hati kosong; takut mati. Pikiran kacau. Tidak seiya-sekata. Ingin memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, tetapi tidak mau kehilangan apa pun. Ingin menjaga kehormatan, namun tidak mau berkorban. Masing-masing merasa, bahwa orang lainlah yang bertanggung jawab atas kemenangan dan kekalahan.

Mereka berperang sedang kendalinya dipegang oleh orang lain. Jika dikendorkan, akan maju; jika ditarik akan mudur. Jika orang lain itu mengatakan, “Maju!”, maka mereka akan maju. Sebaliknya, jika mereka mengatakan, “Berdamailah!”, mereka akan berdamai. Tidak demikian, kemenangan akan diperoleh. Tidak demikian, musuh bisa dikalahkan.

Dunia merindukan hal-hal yang pernah dibacanya di dalam sejarah perjuangan Islam. Dia merindukan kembalinya keimanan yang teguh, keberanian, ketabahan, patriotisme, kedisiplinan tinggi, harapan mati syahid, kepatuhan dan sikap mendahulukan orang lain, tetapi tidak menemukannya, kecuali beberapa berkas cahaya iman yang memancar dari beberapa orang tentara suka rela. Semangat keagamaan telah mendorong mereka ini untuk berpetualang di kancah pertempuran. Dari situ, mereka telah mengharumkan agama, membuat takut hati musuh, mengembalikan sejarah lama, dan membuktikan, bahwa iman masih tetap menjadi sumber kekuatan dan disiplin serta mampu melahirkan semangat juang yang tidak dipunyai oleh negara-negara besar yang terorganisasi rapi. []
***DARI BUKU: KEMBALI KE PANGKUAN ISLAM, Karya: Sayid Abul Hasan Ali Nadwi, Judul Asli: Ila Al-lslam Minjadid Al-Majma’ AUslami Al-llmi, Penerbit: Nadwat Al-Ulama’, Lucknow, India, Cetakan Pertama : Oktober 2006 ISBN: 979-25-0164-9 Penerjemah: Salim Rusydi Cahyono, Lc.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: