KORELASI AGAMA & POLITIK

Korelasi Agama dan Politik

(Antara Perspektif Ulama dan Kaum Sekularis)

 

Dari Buku: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Meluruskan Dikotomi Agama dan PolitWDr. Yusuf Al-Qaradhawi; Penerjemah: Khoirul Amru Harahap, Lc., M.Ag; Editor: Yasir Maqosid Al-Azhary, Lc. cet. ke-l– Jakarta: Al-Kautsar, 2008. xx + 288 hlm.: 23 cm. BELILAH BUKU ASLI UNTUK MELENGKAPI INFORMASI ANDA***

setelah kita mengetahui pengertian masing-masing istilah kunci; agama dan politik, dengan mudah kita bisa memahami hubungan keduanya. Apakah korelasi (hubungan) tersebut berlawanan dan saling bertentangan? Atau dengan kata lain, jika salah satunya sudah ada, yang lain tidak ada?

 

Ataukah hubungan tersebut erat dan saling terkait, sehingga keduanya tidak bisa dipisahkan? Juga masing-masing membutuhkan lainnya?

Atau hubungan keduanya bersifat toleran dan saling memahami? Seperti hubungan dua orang yang berbeda -baik agama, madzhab, ras maupun Negara- yang bekerjasama menyelesaikan suatu pekerjaan besar? Atau seperti kerjasama dan toleransi yang tercipta di antara negara-negara yang berbeda ideologi?

Persepsi Sekularis

 Para pengikut paham Modernis, Marxisme, dan Sekularisme mengatakan bahwa hubungan antara agama dan politik adalah hu-bungan yang saling berlawanan dan bertentangan. Mereka meng-anggap agama sebagai lawan dari politik, dan sampai kapan pun keduanya tidak akan pernah bisa bertemu. Sebab, sumber, ciri, dan tujuan keduanya berbeda. Agama berasal dari Allah sementara politik berasal dari manusia. Agama bersifat sakral, suci, dan lurus, sementara politik bersifat kotor dan kejam. Agama bertujuan untuk akhirat sementara politik untuk kepentingan di dunia. Karena itu agama harus diserahkan kepada ahli agama, begitu juga dengan politik yang harus diserahkan kepada politikus.

 

Premis-premis di atas tentu sama sekali tidak bisa dibenarkan karena ada beberapa kebijaksanaan politik yang bersumber dari perintah Allah. Ada juga politik yang tidak kotor dan tidak kejam karena tetap mengikuti aturan akhlak. Begitupun ada politik yang bertujuan untuk akhirat dan menghasilkan pahala dari Allah swt Mereka juga menafikan ajaran Islam yang komprehensif dan saling melengkapi, ajaran yang selalu diserukan oleh para dai dan ulama pada masa sekarang ini. Mereka menginginkan akidah tanpa syariat, ibadah tanpa muamalah, agama tanpa dunia, dakwah tanpa Negara, dan kebenaran tanpa kekuatan.

Pemahaman seperti ini menimbulkan dampak negatif baik dari tataran konsep maupun praktik. Dampak tersebut antara lain:

  1. Menolak konsep komprehensifitas Islam yang diusung oleh para ulama dan cendekiawan muslim.
  2. Memisahkan agama dari politik dan sebaliknya, juga mempro-paganda semboyan, “Tidak ada agama dalam politik, dan tidak ada politik dalam agama.”
  3. Melecehkan para aktivis yang ingin menerapkan hukum Islam dengan mengatakannya politisasi Islam.
  4. Tuduhan bahwa secara eksplisit, agama membatasi politik dan tidak mengenal adanya konsep maslahat. Akibat pemahaman yang sempit ini, banyak maslahat umat yang terabaikan.
  5. Kesimpulan bahwa politik selalu berubah dan berkembang sebagaimana persoalan hidup lainnya, sementara agama selalu tetap dan stagnan. Juga menganggap pembaharuan sebagai bid’ah yang sesat, karena itu politik dan agama tidak akan pernah bisa bertemu.

Kelima persoalan di atas, akan penulis paparkan dalam bab berikut, juga disertai kritik secara ilmiah.

 

Sekularis Menafikan Universalitas Islam

 Mengapa para pembaharu Islam mengaitkan politik dengan agama?

Konsep tentang universalitas Islam yang ditentang keras baik oleh para pemikir Modernis, Sekularis, maupun Marksis, adalah sebuah konsep yang sudah menjadi konsesus di kalangan ulama Islam dan para pembaharu pada masa sekarang ini.

Kita lihat para pahlawan pembaharu muslim pada masa sekarang, mulai dari Ibnu Abdul Wahab, Al-Mahdi, Khairuddin At-Tunisi, Al-Amir Abdul Qadir, Jamaluddin Al-Afghani sampai Al-Kawakibi, Muhammad Abduh, Syakib Arsalan, Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna di Mesir, Ibnu Badis dan kawan-kawannya di Aljazair, Ala1 Al-Fasi di Maroko, Al-Maududi di Pakistan dan sebagainya. Mereka sepakat bahwa syariat Islam mencakup akidah dan syariat, dakwah dan daulah, serta agama dan politik. Bukan hanya dibuktikan melalui teori-teori, tetapi mereka terjun langsung dalam kancah perpolitikan. Mereka merasakan pahit dan kejamnya politik, bahkan mereka menjadi korban kekerasan karena mempertahankan konsep ini. Mengapa mereka rela melakukan semua ini, penyebabnya ada tiga hal, yaitu:

1.    Ajaran Islam Bersifat komprehensif

 Pertama; Ajaran Islam yang disyariatkan oleh Allah, tidak meng-abaikan satu aspek pun dalam kehidupan kita. Islam memberikan ketentuan ataupun petunjuk hidup kita karena Islam mencakup seluruh aspek, baik material maupun spiritual serta individu maupun sosial. Allah berfnman kepada Rasulullah dalam ayat berikut:

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (AL-Qufan) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89)

 Allah berfirman, Wai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (Al-Baqarah: 183)

 Allah berfirman, Wai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (Al-Baqarah: 178)

 

Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf.” (Al-Baqarah: 180)

Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (Al-Baqarah: 216)

Kita lihat Al-Qur‘an menggunakan redaksi yang sama untuk menunjukan ketentuan hukum yang bersifat fardhu, yaitu kata (diwajibkan atas kamu), Di dalam ayat-ayat tersebut, Allah telah mewajibkan kaum muk-minin untuk melaksanakan beberapa perintah Allah, yaitu puasa sebagai salah satu kewajiban berbentuk ibadah ritual; qishah yang merupakan ketentuan syariat berkaitan dengan tindakan kriminal; wasiat yang berhubungan dengan hukum keluarga dan perang yang merupakan persoalan Negara.

Semua hukum tersebut adalah ketentuan Allah yang harus dijalankan kaum mukminin sebagai sarana mendekatkan diri dengan Tuhan-Nya. Seorang muslim tidak boleh menerima kewajiban puasa tetapi menolak ketentuan lainnya, seperti qishas, wasiat, ataupun perang. Sebab, semua kewajiban tersebut menggunakan redaksi yang sama, yaitu (diwajibkan atas kamu).

 

Syariat Islam mengatur segala perbuatan manusia, tidak ada satu perbuatan pun yang tidak memiliki ketentuan hukumnya, karena suatu perbuatan tidak akan terlepas dari salah satu hukum syariat yang jumlahnya ada lima; wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah. Sebagaimana disampaikan oleh ulama ahli ushuliyyin maupun fuqaha dari semua kalangan dan madzhab mana pun yang menisbahkan dir-i kepada agama (Islam).

Kesempurnaan Islam ini ditunjukkan oleh Al-Qur‘an dan As-Sunnah. Allah a befirman kepada Rasulullah “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89)

 

Allah SWT. juga menceritakan tentang keberadaan Al-Qur’an dalam firman-Nya, “Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu; dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Yusuf: 111)

 Demikian juga dengan Rasulullah yang selalu menyerukan kepada kita untuk melakukan perbuatan yang dapat mendekatkan kepada Allah s, dan tidak ada satu perbuatan pun yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya, kecuali telah diperintahkan beliau kepada kita. Begitu juga dengan perbuatan yang menjauhkan kita dari Allah, tentu Rasulullah sudah melarang kita untuk melakukannya, sampai beliau mening-galkan kita di dalam jalan yang terang. Rasulullah saw. bersabda, “Malam pun terang bagaikan siang hari, tidak ada orang yang menyimpang (dari Sunnah Rasul) kecuali akan binasa?

 Islam adalah petunjuk bagi segala aspek kehidupan, petunjuk bagi seluruh manusia, bagi dunia secara keseluruhan, dan tetap akan berlaku untuk selama-lamanya.“62 Siapa pun yang membaca buku-buku tentang syariat Islam -maksud penulis adalah buku-buku fikih Islam- dalam berbagai madzhab, akan menemukan bahwasanya Islam meliputi setiap persoalan hidup manusia. Dari pembahasan tentang fikih kebersihan dan kesucian, fikih keluarga, fikih sosial, juga fikih kenegaraan, semuanya dibahas secara jelas dan mudah dipahami termasuk oleh para pemula, apalagi bagi seorang yang sudah memiliki keilmuan yang memadai.

2.    Islam Menolak jika Ajaran-ajarannya Dipilah-pilih dan Dibedakan

Islam menolak bila aj aran-ajaran dan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, dipilah-pilih, diikuti sebagian dan sebagian lagi ditentang.

Betapa Al-Qur‘an sangat keras menolak sikap yang hanya mengikuti sebagaian ajarannya seperti yang dilakukan oleh Bani Israil. Allah a berfirman, “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah: 85) Sama halnya ketika orang-orang Yahudi mengajukan penawaran masuk Islam dengan syarat sebagaian ajarannya tetap dipertahankan. Mereka ingin hari Sabtu dianggap sebagai hari yang mulia. Rasulullah saw. menolak tawaran tersebut. Beliau tetap meminta mereka masuk Islam secara kaffah (komprehensif) dan mengikuti semua ajaran-ajaran Is-1am.63 Karena itulah Allah SWT menurunkan firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208) Al1a.h SWT juga berf’irman kepada Nabi Muhammad a, “Dan hen-daklah kamu memutuskanperkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (Al-Ma’idah: 49)

 

Dalam ayat tersebut Allah swt. menjelaskan kepada Rasulullah & untuk mengingatkan umat non Islam agar mereka tidak tidak meng-ubah sebagian hukum Islam. Ayat tersebut juga ditujukan kepada setiap orang yang hidup setelah beliau dan memiliki perhatian pada agama dan persoalan umat.

Pada hakilratnya, ajaran Islam satu sama lain memiliki hubungan saling menyempurnakan, baik berupa akidah, syariah, akhlak, ibadah, maupun muamalah. Ajaran-ajaran tersebut tidak akan memberikan fixngsinya secara utuh, kecuali harus dilakukan secara keseluruhan. Sama halnya dengan resep yang diberikan dokter untuk mengobati penyakit. Agar penyakit bisa disembuhkan, seluruh nasehat dokter harus dipenuhi, baik berupa obat yang harus diminum, makanan yang harus dikonsumsi, hal-ha1 yang harms dihindari, olahraga yang harus dilakukan, dan lain sebagainya. Jika ada salah satu nasehat dokter yang diabaikan, akan berakibat pada kesembuhan pasien yang tidak optimal.

3.    Hidup Tidak Bisa Dibagi-bagi dan Dipi.sah-pisahkan, Sama Seperti Manusia

Kehidupan ini tidak bisa dipisah-pisahkan ataupun dibagi-bagi. Kehidupan tidak akan menjadi baik kalau Islam hanya diwujudkan dalam ibadah ritual yang tercermin dari keberadaan mesjid-mesjid, misalnya. Sementara dengan berbagai alasan, umat Islam mening-galkan sebagian ajaran yang berkaitan denagn aspek kehidupan lainnya, seperti hukum positif, pemikiran manusia, atau filsafat alam yang lebih dipilih untuk mengarahkan kehidupan ini.

Sama sekali tidak benar jika dikatakan bahwa Islam cukup memiliki mesjid, sementara sekularisme yang berhak memiliki sekolah, universi-tas, pengadilan, radio, televisi, media massa, teater, sinema, pasar, jalan raya, dan seluruh kehidupan ini.

Demikian juga seorang manusia tidak akan menjadi lebih baik jika hanya memahami agamanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya, sementara aspek materi, akal, dan perasaan diserahkan sepenuhnya kepada negara, bukan kepada agama.

 

Pada hakikatnya, tidak ada dualisme dalam diri manusia maupun kehidupan ini, keduanya tidak bisa dipisahkan maupun dibagi-bagi.

Manusia mencakup jiwa dan raga, akal dan perasaan, hasrat dan hati, yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Hal ini diakui pula oleh pengetahuan modern. Manusia tidak dapat dibagi-bagi dan dipisah-pisahan, begitu juga dengan kehidupan ini.

Sebenarnya seluruh teori filsaat, aliran revolusi, atau idiologi reversal yang ada saat ini memiliki sifat menyeluruh dan komprehensif. Karena itu, semua orang sepakat bahwa kehidupam ini tidak boleh dibagi-bagi dan dipisah-pisahkan. Semua orang juga sepakat bahwa tidak boleh ada salah satu aspek kehidupan yang dominan, tetapi seluruh aspek tersebut harus sama-sama mendapatkan perhatian yang memadai. Kita harus memperhatikan seluruh aspek hidup tersebut sesuai dengan filsafat dan pemikiran yang menyeluruh terhadap eksistensi, pengetahuan, norma-norma, alam semesta, manusia, dan sejarah.

Seorang pemikir sosialis Arab yang sangat terkenaF membantah teori ini. Ia berkata, “Anggapan bahwa sosialisme hanya merupakan sebuah aliran ekonomi adalah anggapan yang salah. Sosialisme me-mang memberikan solusi dari segi ekonomi terhadap berbagai persoalan lainnya. Akan tetapi solusi tersebut hanya satu dari sekian banyak sisi yang ada pada aliran sosialisme. Pemahaman pada satu sisi saja (ekonomi), tidak bisa berbuat banyak karena pemahaman tersebut tidak bersifat mendalam. Seharusnya, aspek lain juga harus diperhatikan seperti tujuan jangka panjang yang ingin dicapai oleh aliran sosialisme ini.” Sosialisme adalah sebuah aliran atau paham terhadap kehidupan secara menyeluruh, bukan hanya aliran ekonomi saja, tetapi juga politik, pendidikan, pengajaran, perkumpulan, kesehatan, akhlak, etika, pengetahuan dan sejarah serta aspek hidup lainnya baik besar maupun kecil.

 

Jika Anda adalah seorang sosialis, berarti Anda memiliki pemikiran sosialis terhadap segala aspek yang disebutkan di atas. Anda juga akan berusaha memiliki semua aspek di atas secara sosialis.” Perlu penulis tegaskan, pemahaman yang menyeluruh bukan hanya pada aliran sosialisme, tetapi juga merupakan dasar pemahaman pada setiap aliran sosial lainnya. Bukti-bukti menguatkan bahwa aliran tersebut bersifat menyeluruh, mencakup semua aspek kehidupan dan menjadi solusi bagi seluruh problematika hidup. Sebab, keharusan pandangan yang menyeluruh adalah karena hidup ini merupakan kesatuan utuh, kesatuan aspek yang tidak dapat dipisah-pisahkan sesuai dengan keinginan akal kita. Sebagian orang beranggapan, dengan memisah-misahkan kehidupan ini dapat mempermudah dalam meraih semua yang diinginkan. Ia lupa bahwa dia sendirilah yang memisahkan hidup ini karena menganggap sejak dulu hidup ini memang terbagi-bagi. Kehidupan sama sekali tidak melepaskan antara hubungan ekonomi dengan sosial atau dengan aspek hidup lain, seperti politik.

Hidup ini adalah kesatuan yang saling menyempurnakan dan saling berhubungan. Tetapi otak kita yang lemah dan senang meneliti atau mempelajari segala sesuatu, tidak akan pernah bisa memahami secara tuntas hanya melalui kajian dan penelitian, kecuali dengan memisah-misahkan berbagai aspek hidup tersebut. Kemudian kita membagi hidup ini menjadi beberapa aspek dan hubungan. Salah satu aspek tersebut dikenal dengan istilah “ekonomi ,” aspek yang lain disebut dengan politik dan ada juga yang disebut dengan aspek sosial, akhlak, agama, sastra, pengetahuan, juga aspek-aspek lainnya.

Hidup ini seperti sungai, sesuatu yang hanya satu, berhubungan dan terus berjalan. Demikian juga kehidupan seluruh masyarakat, baik kecil maupun besar, masyarakat maupun anggota keluarga, peme-rintah maupun partai.

Pandangan masyarakat terhadap kebebasan politik, akan mem-pengaruhi pandangannya dalam ekonomi. Pandangan terhadap teori ekonomi, akan berpengaruh pada pandangannya terhadap kebebasan politik, begitu juga pandangannya dalam imperalisme, akhlak, pendidikan, etika, sejarah, dan aspek lainnya yang tidak terbatas.

Selanjutnya, dapat penulis simpulkan keberadaan sosialisme sebagai sebuah aliran yang komprehensif. Kata sosialisme tidak hanya terbatas untuk mengungkapkan kondisi ekonomi tertentu, tetapi ungkapan untuk segala aspek kehidupan ini secara keseluruhan.

 

Itulah tabiat seluruh idiologi resesal, lalu mengapa Islam yang merupakan ajaran yang komprehensif dan mencakup akidah, syariah, akhlak, budaya, dan lainnya hanya dipahami sebatas mesjid dan pengadilan agama? Bukan hanya membatasi Islam pada mesjid dan pengadilan agama, tetapi lebih dari itu, peran keduanya pun sangat dibatasi. Mesjid tidak lagi bebas melakukan perannya dalam masya-rakat begitu juga dengan pengadilan agama yang tidak sepenuhnya bisa memutuskan suatu hukum.65 Dalam kitab Injil disebutkan, “Serahkan urusan kekaisaran kepada Kaisar, dan serahkan urusan Allah kepada Allah!‘66 Tetapi saat memiliki kesempatan dan kekuatan yang memunginkan, kaum Nasrani tidak lagi menyerahkan persoalan negara kepada Kaisar. Mereka merasa harus berkuasa dan mengatur hidup ini sesuai dengan ajaran yang diya-kininya, sama halnya dengan seluruh ideologi agama dan sekularisme dari dulu hingga sekarang ini.

 

Jika kaum Nasrani bersikap demikian, bagaimana dengan Islam yang menganggap manusia adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara materi dengan spiritualnya. Islam bukan hanya menolak dikotomi antara urusan Allah dengan urusan Kaisar, tetapi juga menegaskan bahwa Kaisar dan seluruh wewenangnya haruslah ditujukan untuk mencapai ridha Allah Yang Mahaesa.

Allah SWT. berfirman,

‘Waka patutkah aku mencari hakim (penentu keputusan) selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci?” (Al-An’am: 114)

 

Allah SWT berfirman, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang tebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-or-ang yang yakin?” (Al-Ma’idah: 50)67

 

Prof. Dr. Muhammad Al-Bahi mengomentari statemen Ali Abdur Razik dalam bukunya yang berjudul “Al-Islam wa Ushul Al-Ahkam,” “Kepemimpinan Rasulullah terhadap umatnya adalah kepemimpinan dalam ha1 spiritualitas yang menitikberatkan pada keimanan hati, dengan demikian ketaatan umat pada beliau adalah ketaatan tulus yang kemudian diikuti oleh ketaatan fisik.

Berbeda dengan kepemimpinan seorang hakim yang kepemim-pinanya bersifat materialistik, ketaatan rakyatnya hanya berasal dari fisik tanpa ada kaitan dengan hati.

Kepemimpinan Rasulullah mengarahkan manusia kepada hidayah dan petunjuk Allah SWT& sementara kepemimpinan manusia mengarah kepada kepentingan hidup dan untuk memakmurkan bumi. Kepemim-pinan pertama untuk Allah dan agama, sementara yang kedua untuk manusia dan dunia. Kepemimpinan Rasulullah adalah kepemimpinan agama, sementara kepemimpinan manusia adalah kepemimpinan politik. Agama dan politik adalah dua ha1 yang sangat berbeda.

Pandangan ini adalah jawaban dari soal yang penulis lontarkan sebelumnya, sebuah pandangan yang berasal dari “dualisme” pemikiran tentang manusia pada abad pertengahan. Pemikiran yang lahir karena terpengaruh pemikiran Sekularisme di Barat yang memisahkan antara “Gereja” dan “Negara”.

Dikotomi manusia artinya; Ada dikotomi antara jasmani dan ruhani, keduanya dianggap sebagai dua ha1 berbeda yang tidak memiliki hubungan sama sekali, tidak dianggap sebagai dua hal yang menyatu. Pemikiran seperti ini muncul pada abad pertengahan yang meliputi beberapa persoalan filsafat baik ketuhanan maupun kemanusiaan. Pemikiran yang sama kemudian ditemukan juga pada para filosof Muslim maupun Kristiani, baik para founding maupun guru. Pemikiran tersebut berasal dari filsafat Yunani yang kemudian mempengaruhi baik terhadap kaum Muslimin maupun kaum Kristiani.

Dikotomi manusia ini dilontarkan oleh pengetahuan modern melalui sebuah penelitian yang menggunakan tes psikis. Penelitian yang tidak didukung oleh pandangan yang sesuai untuk mengatur dan menga-rahkan manusia. Saat ini, sebuah penelitian ilmiah menyatakan bahwa manusia adalah satu kesatuan yang utuh. Tidak boleh ada dikotomi antara fisik dan psikis, karena memang mustahil dapat membagi peran terhadap dua ha1 yang berlawanan, seperti halnya tidak mungkin membagi tugas antara dua kekuasaan yang saling bertentangan.

Eksperimen pembagian wewenang kekuasaan yang dilakukan bangsa Barat, antara pihak gereja dengan pihak raja -atau yang dikenal dengan dikotomi Agama dan Negara- tidak hanya menim-bulkan benturan, bahkan salah satunya berusaha untuk meng-hegemoni lainnya. Realita yang terjadi, justru Negara yang mematikan peran gereja! Negara-negara maju di Barat, terutama Eropa dan Amerika menganut sistem Demokrasi, sistem yang ditentukan oleh suara rakyat. Tetapi, dalam proses pemungutan suara tersebut, partai politik yang berjuang keras -untuk melaksanakan perintah gereja-dengan mengumbar berbagai janjilah yang kemudian mendapatkan kemenangan.

 

Dikotomi manusia yang timbul karena pemisahan agama dari negara, jika dilihat dari sudut pandang ilmiah termasuk pernikiran yang tidak tepat. Sementara dalam praktiknya, tidak bisa diterapkan. Para pengusung pembaharuan pemikiran Islam modem, mengakui bahwa kesatuan yang ada dalam diri manusia berbeda dengan kesatuan dalam kepemimpinan, karena ha1 tersebut merupakan salah satu dasar-dasar Islam.

4.    Peran Penting Negara dalam Rangka Mencapai Tujuan Bersama

 Penyebab yang keempat adalah sebuah ha1 yang aksiomatik dan tidak bisa dipungkiri bahwasanya sejak dulu umat manusia sudah mengetahui pentingnya peran negara atau kekuasaan politik dalam mencapai tujuan hidup bersama, menerapkan berbagai hukum, mengajarkan umat serta menjaga mereka dari kejahatan dan kemung-karan. Oleh karena itu, Khalifah Ketiga Utsman bin Mfan berkata, “Allah SWT menyerahkan persoalan yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an kepada pemerintah (negara)

Terlebih pada saat ini, negara sangat berperan dalam mengen-dalikan berbagai urusan, mulai dari urusan pendidikan sampai peng-adilan, dari budaya sampai media massa, pengurusan mesjid, ekonomi, maupun sosial. Seorang reformis tidak mungkin menyerahkan segala persoalan hidup tersebut kepada kekuatan sekularisme karena mereka akan berbuat sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Dengan mudah, mereka dapat segera menghancurkan seluruh bangunan yang sudah lama didirikan oleh para reformis. Apalagi, umumnya tindakan meng-hancurkan jauh lebih mudah daripada membangun, ditambah lagi jika mereka menghancurkannya dengan born nuklir yang bisa menyulap gedung-gedung megah menjadi rata dengan tanah hanya dalam hitungan detik!

 

Pada masa lalu, negara tidak memiliki pengaruh dan kekuatan seperti yang dimiliki saat sekarang. Sekarang ini, negara memiliki wewenang dan pengaruh yang sangat besar, sebagaimana disampaikan oleh Bertrand Russel dalam salah satu buku karyanya.

Penulis pernah menyinggung persoalan ini dalam buku yang berjudul “Tarikhuna Al-Muftara ALaihi” Sepanjang sejarah Islam, negara dan kepala negara tidak memiliki peran dan wewenang dalam urusan umatnya, sebesar wewenang dan peran negara pada saat ini.

Bahkan negara biasanya hanya terbatas mengendalikan bidang tertentu yang berada di ibu kota atau kota-kota besar saja. Sedangkan rakyat berperan dalam bidang tertentu yang bukan menjadi wewenang negara, dengan tetap merujuk kepada ajaran Islam dan biasanya juga ulama ikut berperan dan memiliki andil yang sangat besar.

Saat itu, urusan pendidikan diserahkan kepada ulama yang akan mengajarkan langsung tentang keislaman, bahasa, sastra, sejarah, dan pengetahuan-pengetahuan lainnya.

Pada masa lalu, persoalan hukum menjadi wewenang ulama, mereka akan menentukan hukum dengan menggunakan aturan syariat baik yang bersifat umum maupun khusus. Begitu juga dengan fatwa tentang suatu hukum, umat yang ingin menanyakan perma-salahan baik agama maupun persoalan hidup lainnya, secara sukarela datang kepada ulama untuk mendapatkan jawaban atau nasehat.

Ulama juga pemegang wewenang penuh terhadap segala bentuk wakaf untuk kebaikan. Ulama akan menggunakan dana tersebut untuk berbagai keperluan seperti pembangunan mesjid, madrasah, dakwah atau pendidikan sesuai dengan syarat yang ditentukan oleh para pewakaf.

Umat tetap berpegang teguh menjalankan agamanya walaupun para penguasa dan pejabat tingginya menyimpang dari syariat. Umat akan tetap mengikuti ketentuan syariat walaupun konsekuensinya harus melanggar peraturan pemerintah. Umat akan tetap kuat dan menjaga lembaga-lembaga sipil dan kemasyarakatan ketika jalannya roda pemerintahan terhenti. Masyarakat sipil -istilah yang biasa digunakan saat ini- akan tetap berpegang pada dasar agamanya, bepegang pada al-urwatul wutsqa (tali agama yang sangat kuat), saat mereka terhimpit oleh ikatan negara atau penguasa.

Pergeseran sudah banyak terjadi. Kekuatan yang dulu menjadi milik rakyat, sekarang sudah menjadi milik negara. Negara sudah menjadi penentu kebijakan di setiap persoalan, baik dalam ha1 pen-didikan, media informasi, budaya, keputusan hukum, kesehatan, urusan agama, keamanan, angkatan bersenjata, maupun persoalan ekonomi.

Bagaimana mungkin seorang reformis akan melanjutkan proses reformasi yang dicita-citakannya, jika negara berjalan di arah yang berlawanan ? Ketika ia berusaha memajukan, negara justru melemahkan; ketika ia berusaha mempersatukan, negara justru menceraiberaikan; dan ketika ia berusaha mengarahankan ke timur, negara justru mengarahkan ke barat. Persis yang disebutkan dalam bait syair,

Ia berjalan ke arah barat, saat kuberjalan ke arah timur

Sungguh jauh perbedaan antara timur dan barat

Dalam lantunan syair lainnya dikatakan,

Kapan bangunan bisa selesai sempurna

Jika kamu membangunnya sementara yang lain merobohkannya

Lalu bagaimana jika yang.merusak bangunan adalah sebuah negara yang memiliki kekuasaan penuh dengan lengkap dengan segala sarananya?

Inilah alasan mengapa para reformis dan tokoh pergerakan Islam akhirnya terjun langsung ke dalam politik praktis dan melakukan reformasi melalui ide “Pembentukan Negara Islam” dalam rangka merealisasikan firman Allah SWT:

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lab kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 41)

Bukan merupakan ha1 yang penting jika kemudian mereka yang akhirnya menjadi penguasa negara tersebut, tetapi yang terpenting adalah ada orang yang mampu mendirikan sebuah negara yang memenuhi syarat dan rukunnya. Jika penguasa saat itu bersedia menjalankannya, maka tidak menjadi persoalan kalau mereka terus menjadi penguasa.

 

Tetapi jika mereka menolak atau merasa tidak mampu mela-kukannya -dan demikian realita yang seringkali terjadi- maka para reformis serta pengusung perubahan dan pembaharuan harus turun langsung utuk menangani tugas-tugas tersebut. Di antara tugas awal yang harus mereka perhatikan adalah pola pikir masyarakat, perlengkapan materi, dan fasilitas masyarakat lain yang dapat membantu merealisasikan tujuan pembaharuan tersebut. Cita-cita mereka tidak akan terwujud hanya dengan banyak bicara maupun angan-angan semata.

 

Dikotomi Agama dan Politik

 Strategi awal yang dilakukan oleh para sekularis untuk mewujudkan pemikiran mereka adalah mengubah hubungan antara negara dengan agama sesuai dengan teori yang mereka anut. Mereka memisahkan politik dari agama serta memisahkan agama dari negara. Mereka juga mempopulerkan ungkapan, “Tidak ada agama di dalam negara dan tidak ada negara di dalam agama.” Sebuah ungkapan yang tidak boleh lagi dikaji ulang maupun dikritik secara ilmiah.

 

Bahkan ada sebagian sekularis yang memisahkan agama dari semua aspek kehidupan ini secara keseluruhan. Mereka menganggap bahwa agama adalah persoalan yang bersifat pribadi. Seseorang bisa berbuat lebih dengan syarat ia berada di dalam tempat suci mereka (gereja atau mesjid). Inilah pemikiran yang disebutkan oleh Dr. Abdul Wahab Al-Masiri dengan istilah “Sekularisme total.”

 

Kritik terhadap Ungkapan “Tidak Ada Agama di Dalam Negara”

 Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ungkapan “Tidak ada agama dalam negara ?” Apakah yang dimaksud adalah politik tidak memiliki agama, dengan demikian tidak diharuskan melaksanakan norma dan kaidah-kaidah agama dalam berpolitik. Agama hanya dipandang sebagai ritualitas yang mengikui kepentingan tertentu atau kepentingan materi, kepentingan partai, kepentingan kelompok atau tujuan jangka pendek lainnya. Mereka menganggap bahwa tujuan jangka panjang berada di atas agama. Bag-i mereka, Allah beserta perintah, larangan dan ketentuannya, tidak punya tempat di kancah perpolitikan.

Konsep tersebut sebenarnya mengikuti teori Machiaveli72[i] yang memisahkan politik dari etika. Ia berpendapat bahwa untuk mencapai tujuan, boleh menghalalkan segala cara. Pemikiran ini dianut oleh para penindas yang diktator dan selalu menyalahgunakan kekuasaan serta memakai kekerasan untuk melawan rakyatnya, terutama terhadap kalangan oposisi. Segala cara akan dilakukan termasuk membunuh, memboikot, ataupun memenjarakan kelompok lain dengan alasan menjaga keamanan negara dan stabilitas nasional serta alasan klise lainnya.

Apakah politik semacam ini yang dicita-citakan oleh manusia? Apakah politik seperti ini yang akan menjadikan menusia menjadi lebih baik?

Umat manusia tidak akan mejadi lebih baik kecuali dengan menggunakan sistem politik yang mengikuti norma agama dan kaidah-kaidah etika. Yaitu sistem politik yang konsekuen terhadap pertim-bangan baik buruk serta kebenaran dan kebatilan.

Jika dikaitkan dengan agama, politik berarti keadilan bagi rakyat, pemberian hak yang sama, membantu rakyat yang tertindas dan menghukum para pelaku kejahatan, mengambil hak rakyat lemah dari yang kuat, memberikan kesempatan yang sama, melindungi rakyat kelas bawah seperti anak yatim, fakir miskin, para perantau dan yang terpenting memenuhi hak rakyat banyak.

Keberadaan agama di dalam politik, tidak seperti anggapan para materialistis dan sekularis. Mereka memandang negatifterhadap politik itu sendiri, terutama terhadap agama.

Agama yang benar, jika masuk dalam dunia politik, akan mem-berikan pengaruh positif dan mengarahkan kepada kebaikan, menunjukkan jalan yang benar dan menghindarkan dari kesesatan dan kesalahan. Agama tidak akan menerima segala bentuk kezhaliman, tidak akan tinggal diam terhadap penipuan, tidak akan menutup mata dari tindakan salah, tidak akan mendukung penindasan dari yang kuat terhadap rakyat lemah, dan tidak akan menghukum pencuri kelas kecil sementara membiarkan pencuri kelas berat, seperti koruptor!

Jika agama masuk dalam politik, ia akan berusaha keras untuk mencapai tujuan manusia yang paling utama, yaitu mengesakan Allah, membersihkan hati, mengagungkan ruhani, menciptakan umat yang istiqamah, sekaligus merealisasikan tujuan Allah dalam menciptakan manusia -yaitu supaya beribadah kepada Allah, menjadi khalifah di muka bumi, serta menciptakan kebenaran dan keadilan. Selain itu, agama akan berfungsi mempererat hubungan keluarga, meningkatkan solidaritas masyarakat, kematangan umat, keadilan negara, dan menciptakan suasana yang ramah di antara sesama rakyat.

Bersama hidayah, kita berusaha mencapai maksud dan tujuan utama kita yaitu agama menjadi penunjuk cara terbaik untuk mencapai tujuan bersama dan merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Bukan hanya terhenti pada teori pemikiran atau idealisme kosong.

Dalam waktu yang sama, agama akan memberikan dukungan kepada pemerintah untuk selalu berusaha mencapai kebaikan. Agama akan bersama mereka dalam kebenaran dan membantu mereka untuk memperjuangkan keutamaan, menghibur mereka yang bersedih, memperkuat mereka yang lemah, mengadili yang berbuat kezhaliman, memperhatikan para pelaku kejahatan sampai mereka benar-benar berhenti melakukannya. Sebagaimana terdapat dalam sabda Ra-sulullah a, “Tolonglah saudaramu, baik yang berbuat zhalim maupun yang terzhalimi”.

 

Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami akan meno-long saudara kami yang terzhalimi, tapi bagaimana kami harus menolong saudara kami yang berbuat zhalim?” Rasulullah menjawab, “Cegah dia agar tidak melakukan kezha-liman lagi, itulah pertolongan bagi dia.

Agama memberikan sesuatu yang tersembunyi tetapi hidup kepada para pemerintah atau dengan istilah lain, memberikan “An-naf Al-Lawwamah”  Jiwa yang selalu menyesali) yang membuatnya takut memakan harta kekayaan yang haram, menghalalkan kemuliaan yang haram, memakan kekayaan rakyat dengan cara batil, atau menerima suap dengan alasan sebagai hadiah. Inilah alasan yang menjadikan seorang pemimpin besar meminta rakyatnya untuk selalu meng-ingatkan dan mengadilinya bila ia berbuat salah, “Jika saya bersalah, maka hukumlah saya !“,  “‘Jika saya telah menyimpang, luruskan saya!”

Agama berperan mengarahkan rakyat untuk mengatakan kebe-naran, agama juga menasehati, menilai dan meluruskan pemerintah kalau mereka berbuat salah. Demi menjalankan ajaran Allah SWT, tidak peduli walau banyak kecaman dari berbagai pihak. Tujuannya adalah merealisasikan firman Allah SWT, “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfal: 25) Juga hadits Nabi & yang artinya, “Jika kamu melihat umatku tidak berani mengatakan kepada orang yang zhalim, “‘Hai Zhalim,” maka ucapkan selamat tinggal kepada mereka?

 Maksud hadits ini adalah mereka tidak memiliki kebaikan lagi, keberadaan mereka sama dengan ketiadaannya, kehidupan mereka dianggap sama dengan kematiannya.

Seorang politikus yang berpegang pada agamanya, berarti ia berpegang pada tali agama yang sangat kuat. Karena itu, agama akan menjaganya dari segala perbuatan jahat dan kemunafikan yang hina. Jika ia berbicara, ia tidak akan berdusta; jika berjanji tidak akan mengingkari; jika ia dipercaya ia tidak akan berkhianat; jika sudah melakukan kesepakatan, ia tidak akan menghindar; jika bertanding, tidak akan berbuat curang karena ia terikat oleh ajaran yang luhur dan akhlak mulia.

 

Sebagaimana teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad & saat menolak sumbangsih dari tentara muslim untuk melawan orang-orang musyrik karena sebelumnya beliau sudah membuat kesepakatan damai dengan orang-orang musyrik tersebut. Rasulullah n bersabda, “Penuhi kesepakatanmu dengan mereka, sedangkan untuk melawan mereka, kami akan meminta bantuan kepada Allah?

Dalam sebuah peperangan, Rasulullah menolak membunuh se-orang perempuan. Beliau bersabda, “‘Perempuan ini tidak boleh dibunuh? Rasulullah saw. juga melarang membunuh perempuan dan anak keci1.7g Jika tindakan seperti penipuan, kebohongan, pengelabuan dan kemunafikan disebut sebagai politik, kami tidak sepakat. Lebih tepatnya tindakan-tindakan tersebut disebut sebagai politik para penjahat yang harus dienyahkan dan dihindari semua orang.

Menjauhkan politik dari agama sama dengan menjauhkan politik dari unsur-unsur pembentuk kebaikan dan penolak kejahatan, men-jauhkan dari pendorong kebaikan dan ketakwaan, serta membiarkan politik penuh dengan dosa dan permusuhan.

Sebaliknya, mengaitkan politik dengan agama berarti membantu negara dalam memperbesar “kekuatan iman” atau ‘kekuatan psikologis” agar dapat melayani masyarakatnya. Juga mengisi politik dalam negeri dengan petunjuk bukan dengan kesesatan, dengan istiqamah bukan dengan penyimpangan, dan dengan bermain bersih bukan dengan cara-cara kotor yang haram.

Agama juga akan membantu memperkuat politik luar, dalam rangka menjaga dan mempertahankan negara dalam menghadapi musuh. Jika tanah air sedang dijajah, agama akan memperkuat semangat juang rakyat dalam menghadapi para penjajah, Begitu juga jika negara sedang dilecehkan atau kehormatannya diinjak-injak bangsa lain, agama dapat menanamkan keberanian kepada rakyat dalam membela negaranya.

Pada masa kejayaan Islam, kita lihat umat Islam mengaitkan politiknya dengan agama, mereka mampu menaklukan banyak negara dan mengalahkan negara-negara besar. Mereka mampu mendirikan negara keadilan dan kebenaran dan melengkapinya dengan budaya keilmuan dan keimanan dengan bernaung di bawah bendera Al-Qur‘an.

Sama halnya dengan negara yang berkuasa pada pada saat ini, yaitu Negara Zionis (Israel). Mereka menggunakan agama Yahudi untuk mendirikan Negara Israel dan membentuk solidaritas umat Yahudi di seluruh pelosok dunia dalam membela negaranya. Begitu juga dengan para sekularis Yahudi yang tetap berkeyakinan akan pentingnya peran agama bagi negara mereka.

Begitu juga dengan Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush beserta kelompoknya yang merupakan pengikut ekstrim aliran Gereja Kanan. Bagaimana mereka menggunakan agama mereka dalam mem-perkuat tirani politiknya yang membelenggu dunia dengan cara tidak benar. Seringkali Bush berbicara seolah dia adalah seorang Nabi yang mendapatkan wahyu Tuhan, seperti ucapan berikut ini, “Allah telah menyuruhku untuk menyerang Irak, Allah telah menyuruhku untuk menyerang Afganistan.. .” dan ucapan lainnya yang seolah-olah berasal dari wahyu Ilahi!

Kita menyaksikan partai-partai berhaluan sekular di Negara Eropa berusaha mencari kekuatan dari agama. Mereka menisbatkan partai kepada agama mereka, yaitu agama Nasrani. Banyak ditemukan partai-partai Nasrani, baik partai Demokrat maupun partai Sosialis yang banyak terdapat di negara-negara Eropa. Mereka kemudian menda-patkan banyak suara bahkan mampu memegang tampuk kekuasaan sampai beberapa waktu lamanya.

Mengapa mereka menginginkan kaum muslimin saja yang memisahkan politik dari agama Islam? Atau menjauhkan agama dari unsur-unsur politik? Mereka hanya ingin kaum muslimin terlepas dari rahasia kekuatannya, sayap-sayapnya patah, senjata-senajatanya musnah, selanjutnya kaum muslimin tidak punya daya dan kekuatan sama sekali.

Sebenarnya, para penguasa Islam bersepakat bahwa mengaitkan agama dengan kekuasaan atau negara akan menghasilkan banyak keuntungan dan kekuatan bagi negara tersebut.

Seorang ulama yang bernama Al-Biruni berkata dalam bukunya yang terkenal “Tahqiq ma Zi Al-Hind min Maqulah,” “Sebuah negara jika bersandar pada salah satu sisi agama, maka negara dan agama akan menjadi seperti saudara kembar, kemudian pembangunan akan tercapai secara sempurna berkat kebaradaan agama dan negara secara bersamaan.” Ibnu Khaldun menulis dalam bukunya yang sangat terkenal, “AZ-Muqaddimah,” tentang dua jenis masyarakat. Ada masyarakat duniawi semata ada juga masyarakat duniawi yang agamis. Masyarakat jenis kedua lebih utama dan lebih tepat daripada masyarakat jenis pertama. Ibnu Khaldun menulis tentang peran agama dalam kehidupan masyarakat sosial yang tidak lebih kecil dari peran sikap fanatisme (nasionalisme). Jenis masyarakat yang paling ideal bagi sebuah Negara adalah masyarakat yang menggabungkan agama dengan negara.“*O

 

Bantahan terhadap Asumsi I: Tidak Ada Politik dalam Agama

 Apa maksud ungkapan, “Tidak ada politik dalam Agama?” Jika yang dimaksud dari ungkapan tersebut adalah agama tidak memiliki perhatian terhadap politik manusia sama sekali, tidak berurusan dengan problematika hidup manusia, tidak mengatur persoalan pendapatan mereka atau tidak mengatur hubungan antar sesama, maka ungkapan tersebut sama sekali tidak benar. Semua agama memiliki ajaran yang khusus membahas tentang politik, ada satu agama yang membicarakan politik secara luas ada juga yang hanya sekilas. Dan Islamlah agama yang memiliki perhatian paling besar dalam bidang politik. Banyak sekali teks agama yang membahas tentang politik, baik dari Al-Qur‘an, hadits, maupun warisan fikih lengkap dengan buku-buku penjelas-annya dan perbedaan madzhab yang dianut oleh fuqaha.

Syaikh Ali Abdur Raziq berkata dalam bukunya yang berjudul “AZ-Islam wa Ushul Al-Hukmi,” u Bagi Allah, dunia ini terlalu hina untuk dibahas secara jelas dalam nash-nash wahyu yang Dia turunkan?

Beliau lupa atau sengaja melupakan bahwa ayat terpanjang yang ada di dalam kitab Allah Al-Qur‘an adalah ayat yang menerangkan tentang urusan dunia, yaitu tentang pencatatan hutang dan dikuatkan dalam dokumen yang sah. Ayat tersebut ada dalam surat Al-Baqarah ayat 282, sebuah ayat yang terkenal dengan ayat utang-piutang. Demikian juga dengan ayat-ayat tentang hukum lainnya yang menjadi perhatian fuqaha dan mufassirin yang mencapai ratusan ayat.

Setiap pemeluk agama ikut berperan dalam mengontrol kehidupan politik, termasuk pihak Gereja yang sebenarnya memiliki suatu ajaran -sebagaimana terdapat dalam Injil- “Serahkan urusan kekaisaran kepada kaisar, serahkan urusan Allah kepada-Nya.” Umat Kristiani tidak memahami teks tersebut secara Zeterlijk, bahkan mereka terus berusaha melakukan intervensi serta kendali terhadap urusan kaisar. Lebih dari itu, mereka seringkali merampas wewenang kaisar.

 

Memisahkan Agama dari Politik Merupakan Tindakan Sesat

 Seorang ulama besar, Syaikh Muhammad Al-Khidhr Husain -salah seorang Syaikh Al-Azhar- mengunakan istilah Dhalalah (Kesesatan) untuk mengungkapkan tindakan memisahkan agama dari politik. Istilah syar’i yang tepat sekali untuk menyebut sebuah ajaran yang diusung oleh salah seorang penulis terkenal tersebut, karena meru-pakan suatu ha1 baru yang masuk dalam kategori bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shahih.82 Syaikh Al-Khidhr juga menulis artikel panjang yang diterbitkan oleh majalah “Nurul Islam” yang kemudian diletakkan dalam bukunya yang berjudul “Rasa‘il AZ-Ishlah.”

 Di antara isi artikel ilmiah yang ia tulis adalah, “Kami mengetahui bahwa yang mempunyai keinginan memi-sahkan agama dari politik berasal dari dua kelompok:

Pertama; Sekelompok orang yang mengetahui betul bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat hukum-hukum dan dasar-dasar yang berkaitan dengan pengadilan dan politik, tetapi mereka menolak adanya kesesuaian ajaran-ajaran tersebut dengan maslahat yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan secara optimal. Mereka tidak peduli ketika kaum muslimin menuduh mereka telah melanggar hukum dan dasar Agama, bahkan mereka rela disebut sebagai kafir atau orang yang menyimpang dari agama. Mereka juga mengakui bahwa mereka tidak mempercayai Al-Qur‘an beserta ajaran-ajaran yang ada di dalamnya.

Kedua; Kelompok kedua adalah mereka yang mengakui bahwa di antara ajaran agama ada yang berisi tentang hukum maupun politik, tetapi mereka menyatakan bahwa ajaran tersebut tidak sesuai lagi digunakan pada saat ini. Karena itu, mereka berusaha memisahkan agama dari politik. Tetapi tujuan mereka tidak akan berhasil dan usaha mereka sia-sia belaka. Mereka menggunakan cara yang dianggap lebih tepat yaitu menganggap Islam hanya berisi tentang tauhid dan ibadah, mereka juga mengingkari hakikat adanya ajaran yang berkaitan dengan hukum dan politik. Mereka terus menghembuskan syubhat (tuduhan miring) dengan harapan ada orang-orang bodoh yang terpengaruh oleh usaha mereka tersebut.

Itulah dua kelompok yang berusaha memisahkan agama dari politik, kemudian mereka mendekati kekuasaan agar bisa menciptakan hukum dan peraturan bagi kaum muslimin yang bertentangan dengan syariat Islam. Mereka juga mengikuti aliran yang menggunakan ajaran yang tidak diridhai oleh Allah -karena ajaran tersebut tidak membawa kebaikan yang dikehendaki syariat. Langkah yang dilakukan oleh kedua kelompok tersebut menjadi penyebab munculnya berbagai fitnah karena mengikuti politik hawa nafsu serta mencerminkan dangkalnya pemahaman terhadap ajaran hikmah yang ada dalam syariat Islam.

Pada kenyataannya, Islam mengajarkan tentang banyak ha1 termasuk dasar-dasar hukum dan norma-norma dalam politik. Orang yang mengingkari adanya ajaran-ajaran tersebut hanyalah orang yang bodoh terhadap ajaran Al-Qur‘an dan As-Sunnah serta sejarah Khulafaur Rasyidun yang memutuskan persoalan dengan timbangan syariat dan ketika terjadi perbedaan pendapat, mereka kembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Syaikh Al-Khidhr menjelaskan, banyak dalil-dalil yang menun-jukkan bahwa Al-Qur‘an sangat memperhatikan urusan muamalah (interaksi sosial) dan mengandung petunjuk politik bagi pemerintah.

Allah berfirman,

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (h&urn) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maa‘idah: 50)

 Setiap peraturan yang bertentangan dengan syariat Allah, ter-masuk bagian dari peraturan jahiliyah.

Firman Allah SWT, ‘Bagi orang-orang yang yakin,” adalah sebuah isyarat bahwa orang-orang yang tidak yakin terhadap hukum-hukum yang ditetapkan Allah s kelak akan menentang-Nya. Karena hawa nafsunya tersebut, umat Islam mengubah hukum Allah dengan hukum jahiliyah. Mereka telah tertutup oleh pemikiran orang yang hanya mengekor umat lain yang diagung-agungkan. Mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dari bangsa lain.

Allah SWT berfirman, “‘Dan hen-daklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafiu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. ” (Al-Maai’dah: 49)

Dalam ayat tersebut, Allah mengharuskan kita untuk memutuskan suatu hukum sesuai dengan Kitabullah. Allah juga memperingatkan kita bahwa orang yang tidak memiliki iman, dalam hatinya ada kei-nginan agar seorang penguasa menciptakan hukum yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Lebih dari itu, mereka mengancam pemerintah untuk memahami wahyu Alah sesuai dengan nafsu mereka dan meminta penguasa agar hanya mendengarkan perkataan mereka. Selanjutnya mereka mengganti hukum Allah dengan hukum yang sesuai dengan keinginan mereka.

Allah berfirman, “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” (Al-Maa’idah: 45)

 Firman-Nya yang lain, “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq. ” (Al-Maa’idah: 47)

Juga firman berikut ini, “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maa’idah: 44)

 Di dalam Al-Qur‘an terdapat banyak sekali ayat yang tidak berkenaan dengan tauhid maupun ibadah, seperti hukum jual-beli, riba, gadai, kesaksian, hukum perkawinan, cerai, Li’an (sumpah yang dilakukan suami dan istri karena salah seorang dari keduanya menuduh pasangannya berzina, sementara yang dituduh tidak mengakuinya), perwalian, zhihar (menyamakan punggung istri dengan pungung ibunya, dalam Islam perbuatan tersebut menyebabkan terjadinya perceraian), pengelolaan negara terhadap harta anak yatim, wasiat, waris, hukum qishas, diyat, pemotongan tangan pencuri, menyambuk pezina, menuduh orang baik-baik dan hukuman bagi orang yang melakukan kerusakan di muka bumi ini.” Kemudian Syaikh Al-Khidhr menyebutkan beberapa ayat yang berkenaan dengan peperangan, perdamaian, perjanjian, dan hubungan internasional.

Begitu juga dengan sunnah-sunnah Nabi yang shahih, banyak sekali hukum-hukum yang disampaikan secara terperinci, baik hukum yang berkenaan dengan muamalah, kriminal, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang ingin memisahkan agama dari politik, sebenarnya karena ia berfikir tentang agama selain Islam.

Disebutkan dalam sejarah para sahabat Nabi -mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang tujuan-tujuan syariat Islam-bahwasannya agama memiliki peran politik yang sangat besar. Saat membaiat seorang khalifah, mereka mensyaratkan agar khalifah tersebut bersedia menjalankan negara dengan berdasarkan pada ajaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Kalau bukan karena mereka tahu bahwa politik tidak bisa dipisah-kan dari agama, pasti saat membaiat khalifah, mereka hanya akan menyaratkan khalifah mau melaksanakan kebijakan politik apa pun yang oleh perwakilan rakyat dianggap sebagai suatu mashlahah. Disebutkan dalam “Shahih Al-Bukhari,”  Para pemimpin kaum muslimin setelah wafatnya Nabi Muhammad saw., bermusyawarah dengan ulama yang terpercaya dalam memutuskan berbagai persoalan mubah (yang dibolehkan oleh syariat) agar bisa memilih keputusan yang paling mudah dan sesuai. Jika jelas ada ajaran Kitabullah atau Sunnah Nabi, maka mereka tidak merujuk kepada sumber selain kedua sumber hukum Islam tersebut.

Di antara contoh pemerintah yang meminta pendapat ulama adalah saat Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq bermusyawarah dengan Umar bin Al-Khathab untuk menentukan hukuman bagi mereka yang enggan membayar zakat. Musyawarah tersebut membicarakan seputar bagaimana memahami sebuah hadits Nabi, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan “Tidak ada Tuhan selain AllahV4 Umar berkesimpulan bahwa selama masih mengucapkan kalimat syahadat, manusia haram dibunuh, pendapat Umar diperkuat dengan sabda Nabi saw. “Jika mereka sudah mengucapkannya (syahadat), nyawa dan harta mereka terjaga dariku.”

Sementara Abu Bakar menggunakan dalil pengecualian yang berbunyi “Kecuali dengan cara yang hak.” Abu Bakar berkata, “Zakat adalah kewajiban yang berkaitan dengan harta kekayaan.” Jika mereka berdua tidak merasa yakin bahwa kebijakan politik tidak bisa dite-rapkan kecuali jika agama mengizinkanya, Umar tidak akan menye-butkan hadits di atas. Demikian juga dengan Abu Bakar, jika ia tidak melihat adanya ikatan erat antara agama dan politik, ia akan mem-bantah pendapat Umar dengan mengatakan, “Itu adalah hadits Rasulullah, sementara membunuh orang-orang yang enggan membayar zakat adalah urusan politik.” Eratnya hubungan agama dan politik tersebut diketahui oleh semua sahabat Nabi baik sahabat-sahabat tertentu maupun sahabat lainnya secara keseluruhan. Bukti lain adalah rencana Umar yang ingin membatasi besar mahar bagi perempuan, tetapi ia mengurungkan niatnya tersebut setelah ada seorang perempuan membaca ayat berikut,

“Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun.” (An-Nisaa’: 20)

Begitu perempuan tersebut selesai membaca ayat di atas, Umar menjawab, “Seorang laki-laki bersalah, sementara pendapat perempuan benar.

Dan, masih banyak kisah-kisah yang serupa baik dalam hadits Nabi maupun atsar (perkataan) sahabat. Dalam praktiknya, tidak ada seorang pemimpin Islam pun -termasuk mereka yang dikenal sebagai penguasa yang zhalim- yang berusaha memutuskan hubungan antara agama dengan politik, walaupun di antara mereka banyak yang melanggar perintah Allah, baik karena bodoh maupun sebagai pe-nindasan terhadap rakyatnya.

Seperti Al-Hajaj yang ingin menghukum seseorang akibat kesa-lahan yang dilakukan oleh kerabatnya, tetapi ia ubah keputusannya saat ada seorang membaca ayat berikut,

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”  (Al-An‘am: 164)

Al-Hajjaj yang dikenal sebagai penguasa yang sewenang-wenang pun mencabut keputusannya. Sama sekali tidak terbersit dalam hatinya untuk mengatakan, “Yang engkau baca adalah urusan agama, dan yang akan saya lakukan adalah urusan politik!”

Kemudian Syaikh Al-Khidhr berkata, “Memisahkan agama dari politik sama dengan menghancurkan sebagian besar hakikat agama. Tidak ada seorang muslim yang menyerukan ide ini kecuali setelah mereka menjadi orang non Muslim. Tindakan mereka bisa dikategorikan ke dalam tindak kejahatan yang dampaknya tidak lebih kecil dari tindakan orang asing yang berusaha menghancurkan agama kita. Menurut hemat saya, orang yang telah memisahkan agama dari politik, berusaha mempengaruhi kita agar menjadi orang yang paling jauh dari hidayah Al-Qur‘an. Saya percaya bahwa jika kelompok mana pun yang terpengaruh dengan ide seorang penulis ini, kalau memiliki kesempatan dan kemampuan akan menghapus seluruh pengadilan yang mem-berlakukan dasar-dasar Islam. Mereka juga akan mengubah lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu syariat dengan lembaga yang hanya mengajarkan permainan dan kegilaan. Bahkan mereka sama sekali tidak memiliki perhatian pada mesjid-mesjid tempat disebutnya Asma Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang hanya mengharapkan kemuliaan dari Allah SWT.

 

Agama Tidak Hanya Sebatas Urusan Psikis

 Jika kita melihat idiom “Tidak ada politik dalam agama dan tidak ada agama dalam politik” dari sudut pandang berbeda, kita akan ber-kesimpulan bahwa ungkapan tersebut tidak bisa dibenarkan oleh agama mana pun. fl Menjauhkan seluruh agama di muka bumi ini dari politik atau sebaliknya menjauhkan politik dari agama hanya meru-pakan penyederhanaan konyol, bahkan merupakan kebohongan yang nyata.

Semua agama yang ada, tidak hanya sebatas ajaran yang memper-hatikan aspek psikologi ataupun ketuhanan saja, sementara menge-sampingkan persaolan hidup manusia. Memang ada agama yang demikian, tetapi bagi agama lainnya pemikiran seperti ini sama sekali tidak benar.

Di antara agama yang tampak memiliki perhatian besar pada persoalan hidup adalah agama Nabi Musa m (Yahudi). Hal ini terlihat pada ajaran yang terdapat dalam kitab Taurat atau dikenal dengan kitab “An-Namus.” Sebagaimana dikatakan oleh Al-Masih g bahwa ia diutus bukan untuk menghapus ajaran An-Namus. Ia berkata, “Saya diutus bukan untuk menghapus ajaran An-Namus, akan tetapi untuk menyempurnakannya.“

Di dalam kitab Taurat, terdapat banyak hukum syariat yang beragam, ada yang berkenaan dengan keluarga, sosial, hukuman -semisal melukai gigi diqishash giginya, melukai mata diqishash ma-tanya, dsb.. 5 dan ada juga yang berkenaan dengan hubungan internasional.

Begitu juga dengan agama Islam yang datang dengan membawa banyak ajaran, baik tentang akhlak maupun hukum perundang-undangan yang berkaitan dengan dunia dan kehidupan. Baik ajaran tersebut berasal dari ayat-ayat Al-Qur‘an maupun hadits Nabi. Para ulama yang bergelut dalam ilmu tafsir dan hadits kemudian menge-nalkan tentang “Ayatul Ahkam”, dan “‘Ahaditsul- Ahkam”. Selanjutnya fuqaha membahasnya secara lebih terperinci dalam kitab-kitab fikih karya mereka. Kitab-kitab tersebut berbicara tentang persoalan manusia baik sebagai individu maupun dalam institusi keluarga, masyarakat, dan juga negara. Mulai persoalan etika bersuci setelah membuang hajat, etika di meja makan sampai bagaimana cara mendirikan sebuah negara dan hubungannya dengan suluruh umat manusia dan negara lainnya.


[i] 72       Nicholas Machiaveli adalah seorang penulis politik berkebangsaan Italia (w. 1527 M), ia terkenal dengan bukunya yang berjudul The Prince. Isi buku tersebut sudah menghegemoni seluruh dunia politik. Sebuah pemikiran yang terlepas dari segala norma dan etika dalam mendirikan sebuah Negara dan politik. Segala cara kotor, pengkhianata, penipuan dan dusta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: