DERITA MEMBAWA NIKMAT

DERITA MEMBAWA NIKMAT

oleh Hasanain Juaini pada 17 Agustus 2011 pukul 2:26 ·

 (In Memoriam H Djuaini Mukhtar)

Assalamu’alaikum

Pertama-tama:

Saya mohon berjuta maaf, karena harus menceritakan kisah pribadi. janganlah saya dicibir karena hal ini. saya hanya ingin memberi penghormatan kepada seorang yang telah mendidik masyarakat sepanjang usianya. Saya hanya kebetulan menjadi anaknya.

(1) Pada usia 78 tahun H Djuaini tidak banyak rambutnya yang beruban. ketika kami anak-anaknya bertanya apa resepnya? beliau membuka kopiahnya, meminta tangan2 kami untuk memegang bagian atas tengah kepala yang licin botak. Beliau lalu menceritakan: “Kepala saya botak ini sejak saya muda sekali karena sejak umur 7 tahun saya harus meletakkan NYIRU yang panas dan berminyak tempat menaruh dagangan pisang goreng, apem, naga sari, tigapo, terang bulan dan berkeliling berjualan disela-sela saya sekolah. Itu saya lakukan karena saya harus menolong ibu saya yang miskin dan sudah tua, kakak saya yang jadi kusir cidomo, adik saya yang juga sekolah juga untuk biaya saya makan dan sekolah. Alhamdulillah kepala yang botak ini sudah melahirkan puluhan lembar ijazah anak-anak, cucu dan bahkan anak-anak orang lain.

Kami semua menangis mendengar cerita itu. Ada saudara saya yang menukas: Tapi mamik kan bisa naik hajji, berarti kaya dong?

(2) Beliau dengan tegar melanjutkan ceritanya:

Oh jangan dikira saya sudah kaya waktu itu. Modalnya hanya berani dan SONGEL (tidak malu2 dlm kebaikan).

saya hanya coba-coba ketika mendaftar di PT arafat dengan harapan Lot (undian haji) nama saya keluar saat saya punya uang. ternyata lot itu keluar terlalu cepat.

Beliau melanjutkan:

Saya lalu mencari semua jamaah yang akan berangkat bersama dan minta agar saya menjadi tukang panggulnya, berapapun imbalan akan saya terima. Karena itu tidak cukup, maka saya mencari orang-orang yang akan membeli BADAL HAJJI, dan uang itu saya minta ijin untuk dipakai melunasi ongkos haji saya. nanti saya akan mencarikan gantinya di Makkah dengan menjadi buruh. Mungkin karena saya tidak dikenal sebagai pembohong maka mereka mengijinkan. Saya juga membawa SAHRE (koper besar dari kayu) dan saya isi dengan sebanyak-banyaknya barang2 orang untuk saya jualkan dan nanti saya dapat persenan. Di Makkah selain harus melaksanakan ibadah hajji, saya juga menjadi buruh bermacam-macam kerja berat Alhamdulillah lunas semua tanpa hutang se senpun. Alhamdulillah sebelum saya mati, mata kepala saya melihat kalian semua sudah berhajji (kami bersaudara 15 orang /6 orang meninggal kecil)

(3) ***Sahabat2 yang saya hormati, kalau diperkenankan saya akan senang untuk melanjutkannya… di post berikutnya.

Selamat Nyaur (16)

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: