KESABARAN KELAS SATU 2

CUCU PELIPUR LARA

oleh Hasanain Juaini pada 18 Agustus 2011 pukul 8:17 ·

 KESABARAN KELAS SATU (2)

(In Memoriam H. M. Djuaini Mukhtar)

 

Surat Alam-Nasyrah adalah Surat Pavorit orang-orang yang ditimpa kesusahan berat. Termasuk juga keluarga H. Muhammad Djuaini dan HJ. Djharah ini.

Bayangkan saja firman Allah: “Inna Ma’al ‘usri yusro” Sesungguhnya dibalik kesulitan itu kemudahan. bahkan diulangi dua kali.

setelah meninggalnya Putra beliau Hudan, keadan rumah tangga memang seperti membaik, hampir dalam semua bidang. Beliau dapat membuat rumah sendiri. Bisa membli beberapa petak tanah. begitu juga pendirian Madrasah lancar.

Di bawah almarhum Hudan ini, ada seorang anak perempuan ( Luthfiatun ), lalu saya sendiri (hasanain) anak ke delapan. Al-hasil perasaan kecewa dengan meninggalmya anak-anak seperti sudah terbayar dengan kelahiran sampai yang ke 14 orang. Semua dari satu rahim Hj. Jahrah.

Seperti biasa, siapapun orang yang beranjak tua, ingin menimang cucu, hendaklah cucu pertama itu laki-laki. Ini normal bukan diskriminatif. Memastikan kelangsungan keturunan adalah diantara maksudnya.

Luthfiatun melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Aulia Mujiburrahman, mungkin H. Djuaini terinspirasi dan ingin agar cucunya ini menjadi seperti Mujiburrahman almarhum Perdana Menteri dan juga Presiden Bangladesh kala itu.

Tidak meleset harapan beliau, anak itu cerdas dan sangat pekerja keras dan sifat paling lekat dengan kakeknya adalah anak ini luar biasa pemurahnya. Setelah cucu kesayangan ini tamat sekolah di Pondok pesantren, seperti tidak bisa dibendung, dia pulang ke kampungg orang tuanya di Denggen, Sakre, Lombok Timur. Dia datangi keluarganya yang kaya-kaya dan minta dibelikan sebuah bukit gundul yang kering kerontang tidak berair.

Satu waktu anak saudara saya ini datang berkonsultasi: “Paman, saya minta ijin, saya akan pulang kampung dan akan bangun pondok pesantren, dan akan kalahkan pondoknya paman ini. saya minta bangku-bangku yang rusak. komputer-komputer afkir digudang itu. Juga saya akan bawa beberapa karung benih tanaman dan polybag untuk saya kerjakan sebagai selingan”

Dalam hati saya berteriak gembira, Inilah semangat Kian Santang. Mental Jayme Escalante. Saya rangkul dia lekat di dada: Bismillah anakku, kerjakan dan yakin berhasil. Demikianlah cucu harapan ini sudah menjadi pelipur lara bagi kakek dan Neneknya yang sejak tahun 1952 seperti tak pernah bebas dirundung kesedihan.

Jabal Rahmah nama Pondok Pesantren yang bertengger di Puncak sebuah bukit bebatuan di Dusun Denggen, Sakra. Jelas sekali, Mujiburrahman telah menyerap apa yang dia lihat dan alami selama dididik dirumah kakek neneknya yang penyabar dan ulet. Bahkan dia punya kelebihan “sangat kocak”.

Dalam beberapa bulan pesantren itu telah didatangi, camat, bupati bahkan Gubernur. Jabar Rahmah mempelopori penanaman pohon-pohon pelindung hampir diseluruh tepi jalan aspal di kecamatan Sakra. Gunung yang penuh semak itu telah mulai rindang dengan pohon mahoni, jati dan nangka. Cerita masyarakat sekitar ” Ustaz Mujib menanam beribu ribu pepaya di manapun dia menemukan lahan kosong, juga dipinggir jalan” Konon pesannya hanya satu, nanti kalau berbuah makanlah biar kalian sehat. Satu kalimat yang bisa saya ucapkan untuk itu: Luar biasa cucu yang satu ini.

Seberat apapun tugasnya di jabal Rahmah, namun dia tidak mau meninggalkan tugasnya membantu kami di Nurul Haramain Narmada. Biasanya dia datang sekali seminggu, dia biasa berangkat jam dua belas malam menggunakan sepeda motor.

Perubahan dramatis yang terjadi adalah sanak keluarga ayahnya di Denggen yang terkenal kaya-kaya namun agak saling berenggangan menjadi bersatu padu. Gelar-gelar yang disandangkan msyarakat pada mereka seperti Cina Hitam atau toke-toke melayu berubah menjadi ustaz-ustazah, keluarga guru dan pendidik. Pamannya yang terkaya bernama H. Lalu Mungguh bahkan saking syukurnya mengatakan: Apapun akan kami lakukan untuk mendukung Mujiburrahman. Majulah anakku!

(Maafkan. Saya sebetulnya tidak mampu melanjutkan cerita ini. namun sudah kepalang tanggung. Untuk mengenang Ayahanda H. Muhammad Djuaini dan cucunya yang jumawa itu: Mujiburrahman (sayang).

Kebiasaan berangkat malam-malam dari Denggen ke Narmada, naik sepeda motor itulah yang menjadi gerbang prahara besar untuk semua keluarga kami dari semua pihak. Cinta dan pengharapan yang begitu besar, akan lahirnya Djuaini muda di sebuah dusun yang selama ini jauh dari agama sudah benar-benar menjadi nyata. Saat itu, saya tengah mengajar di majlis Taklim saya mendengar pengumuman di Load Speaker Masjid Nurur Rahim Tanak Beak : ” Inna lillahi wainna ilaihi roji’un, telah meninggal dunia Aulia Mujiburrahman, Cucu Tuan Guru Djuaini Mukhtar .. . . .”

Kami semua lemas lunglai, tidak kecuali manusia paling tegar dan sabar yang kami kenal yaitu kakeknya sendiri, Ya. H. Djuaini Mukhtar. (Maafkan, saya tidak akan menceritakan keadaan duka lara saat itu) biarlah menjadi kenangan mereka yang melihatnya langsung saja. mari kita ucapkan Inna lillahi wainna ilaihi ro’jiun.

H. Muhammad Djuaini, ayah saya yang saat itu sedang menjalani operasi pengankatan sebelah ginjalnya, minta dipapah untuk pulang mengikuti pemakaman cucunya itu. Saat itulah beliau berpesan: “Biarlah kesenangan untukku tidak di dunia ini. Biar di akhirat saja. Allah …Allaaaaaaah humma Allah.”

“Nanti di kubur kamu (hasanain) yang memberikan ta’ziah. sampaikan pada jamaah, Mujiburrahman ini adalah perwujudan do’a do’aku, semua yang kuminta tentang dia dikabulkan Allah.” sekedar menghibur saya sambut “Enggih mamik, enggih”

Namun dalam hati, saya mengira beliau mengatakan ” semua permintaan untuk anak ini dikabulkan Allah SWT kecuali satu hal saja. DIA yang Maha Kuasa tidak berkenan memberinya umur lebih dari 24 tahun.” kejadian itu pada 4 Februari / 2004. Seperti hendak mengikuti cucunya, beliau menitip potongan ginjal bekas operasi dikubur berdekatan.

Sungguh dibalik kesusahan itu ada kesenangan. Namun orang sering melupakan kebalikannya bahwa Tentu saja dibalik kesenang itu telah menanti kesusahan. Subhanallah.

Selamat berpuasa 18 Ramadlan 1432H /18 Agustus 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: