Kesabaran Kelas Satu

KESABARAN KELAS SATU

(In Memoriam H. M. Djuaini Mukhtar)

 

Dari sekian kualifikasi Kenabian yang wajib ada pada diri pejuang adalah KESABARAN. Tanpa itu pejuang itu akan runtuh dengan mudahnya di depan tantangan dan cobaan. Namun sebaliknya jika kesabaran itu sudah dimiliki, maka cobaan bisa menjadi penambah semangat bahkan bisa menjadi hiburan. Setiap kesusahan menjadi seperti bisikan Ilahi: ” Hai karena AKU tahu kamu kuat, maka KUberi cobaan seperti ini”

 

Ibu saya pernah berkata: “hanya untuk belajar mengejar tingkat kesabaran mamikmu itu, aku harus menghabiskan usiaku dengannya. Setiap derita yang menimpa kami seakan ujian kenaikan tingkat yang harus kujalani. aku tidak mau gagal”

Bahtera rumah tangga Muhammad Djuaini dan Djahrah ini layaknya sebuah aquarium dengan dua ikan yang digelayuti ikan-ikan kecil yang kesemuanya diajak berenang didalam air penderitaan.

 

Saya akan mulai thema kesabaran ini dengan kasus-kasus yang kalau saya sendiri mengalaminya mungkinn saya akan terkapar ditengah jalan kehidupan. Tidak tahu kalau pembaca sendiri, cobalah kita ukut sejauh mana nanti kita bisa menandinginya.

 

BETULKAH ANAK-ANAK ITU HIBURAN?

 

Mari kita telaah kisahnya semampu saya menguraikannya:

Mula-mula rumah tangga M. Djuaini dan Djahrah yang dipertemukan dalam medan juang tanpa bekal apapun selain mentaati guru yang mengirimnya ke Narmada, Orang tua mereka yang miskin-miskin yang menyerahkan mereka bulat bulat kepada masyarakat Desa Tanak Beak.

 

Kehadiran anak adalah pelipur lara bagi keluarga seperti ini. Dengan iringan tawa ria dan rowah para jamaah disambutlah kelahiran Sakduddin nama putra pertama mereka. Inilah anak mungil yangg senyumannya dapat mencincang semua kesusahan mereka, lapar kekurangan makanan pada musim paceklik kala itu bisa diatasi. Namun hanya 4 bulan ketika Sakduddin mulai bisa tersenyum, anak itu diambil oleh Pemiliknya.

 

Setahun berikutnya lahir putri kedua, Lagi-lagi Allah hanya memberi masa indah keluarga perantau itu hanya dua bulan saja. Kini kelahiran anak ketiga Sudah penuh dengan bayang kematian. Ayah saya pernah menceritakan bahwa ibu saya itu nyaris sembilan bulan waktu hamil hanya menangis saja; jangan-jangan anak dalam kandungan ini akan meninggal dalam masa kanak-kanaknya yang lucu dan menghibur. Benar saja. anak laki-laki itu sudah berumur dua tahun, sangat putih kulitnya (ikut ibu) dan seperti menunjukkan kepandaian dan bakat menjadi guru seperti ayahnya. Tahun 1957 waktu itu, musim cacar datang memupus harapan mereka untuk dapat mempertahankan nyawa anak itu.

 

Perlu waktu dua tahun, dan dengan berbagai usaha penguatan keimanan dan penguatan semangat, sampai-sampai ibu saya dititipkan kembali untuk bersekolah di Pancor agar memiliki keberanian untuk melahirkan lagi. Memiliki anak? Tentu tidak ada keluarga normal yang tidak menginginkannya. Tapi kalau hanya untuk dilahirkan, tersenyum dan tertawa lalu berlari dan kemudian mati??? Siapa yang mampu menjalaninya.

 

Ayah saya bercerita bahwa para murid-murid dan tetangga bergiliran diminta datang menghibur dan meyakinkan. Akhirnya dengan Bismillahirrahmanirrahim, ibu saya dengan tawakkal kepada Allah memutuskan BERANI.

Singkat cerita anak ke empat dan kelima sama saja. Allah SWT yang maha tahu apa maksudnya, namun seperti telah memberikan TAQDIR MENDERITA bagi kedua pasangan suami istri itu. Ya kedua anak-anak mereka secara berutun juga meninggal diusia lucu-lucunya. Allahumma Ya Allah. Demikian ibu saya bercerita: ” kami ikhlas jika anak-anak ini kelak bisa menyelamatkan kami dari neraka. ambilllah sesuka Engkau Ya Allah. Engkaulah Pemiliknya”.

 

Do’a-do’a ataupun kata seperti begitu, kenang orang tua saya, hanya gampang diucapkan dengan mulut. Tapi menjalaninya dalam kenyataan seolah seperti menghadapi hantu-hantu. Kalau saya mengajar di kelas tentang kesabaran, maka terbayang seperti saya sedang menantangg Allah untuk mematikan anak-anak yang akan kami lahirkan. Kalau dalam pengajian saya membahas masalah sabar, seakan ada senyuman diatas sana yang berbisik: “betulkah katamu itu?Menyuruh orang untuk bersabar?”. “Apalagi kalau ada jamaah yang kesusahan lalu datang meminta nasihat kami, maka seakan setiap nasihat yang kami sampaikan menusuk nusuk diri kami sendiri.”

 

“Setalah itu kami berdua nyatanya belum berani untuk memiliki anak lagi. Kami memilih untuk mengambil putra putri keluarga untuk kami pelihara. satu, dua tiga bahkan enam orang”. Sampai para tetangga yang sat ini masih masih hidup dan menjadi saksi mata menceritakan bahwa sejak saat itu rumah (pondok pinjaman) keluarga Djuaini & Djahrah tidak pernah kurang dari 18 penghuni. Keluar masuk entah anak saudara, tetangga atau anak mondok. Semua diperlakukan sama seperti anak2 mereka sendiri.

 

Tahun 1966 an, saat genting-genting PKI mulai reda, keberanian memiliki anak muncul. “Kami yakin” kata ibu saya, bahwa setelah belajar mengasuh banyak anak dengan baik, Allah SWT akan berkenan memberikan kami anak dari dalam rahimku sendiri. Alhamdulillah keyakinan itu benar adanya”

 

Lahirkahlah kakak saya nomor lima dan diberi nama HUDAN yang berarti Petunjuk atau hidayah.

 

Setahun, dua tahun, tiga tahun dan sampai Hudan masuk sekolah. . .Tidak terjadi apa-apa. Alhamdulillah hati pasangan guru madrasah itu mulai lapang. “Allah sudah berdamai dengan kami” Begitulah biasanya kami membtahin setiap melihat Hudan yang dengan lacar berpidato dalam selingan-selingan deklamsi, baca puisi, hafalan ayat2 pendek di Majlis Taklim berbagai desa yang kami asuh (Mambalan, Gerung, Sekotong, Dasan Tapen, Mentaram, Sintung, Pringgarata dll). Tiga orang misannya digandengkan dengannya karena mereka sebaya dan memang senang tinggal di tanak Beak yang mulai semarak dengan Agama. Lalu Mursidin putra bibik saya dari Punie. Mazidi Putra Bibiknya saya yang di Belencong, satu lagi Sakkaki putra misan ayah saya dari Pancor.

 

Kejadian dibawah inilah yang sebelumnya saya katakan bahwa mungkin kita-kita ini tak memiliki kelas untuk menyamai kesabaran pasangan suami istri pejuang itu. Suatu hari, Lalu Mursidin, Mazidi dan Sakki juga Hudan, sebagaimana anak-anak seusia mereka bermain diseputar kampung. Mereka berempat berjalan-jalan kaki sampai kebablasan memutuskan untuk melihat-lihat kota Narmada.

 

Disamping sebelah selatan jalan Negara sepanjang Desa Lembuak, seperti keadaannya sampai sekarang ada kali kecil yang berair sangat jernih karena merupakan pembuangan dari mata air di Taman Narmada. Tepat di posisi bengkel sepeda H. Mustamin, mereka berempat turun ke kali itu untuk berwudlu karena mendengar Azan zohor berkumandang.

Hanya Allah SWT yang Maha bijaksana yang tahu rahasianya, sebuah Mobil Jeep warna hijau tentara sekonyong-konyong berbelok mengarah ketempat Hudan sedang berwudlu. Terjadilah apa yang sudah terjadi Innalillahi wainna ilaihii rajiun, anak harapan itu diambil juga oleh pemiliknya. Ketiga anak-anak yang tersisa ditepi kali itu, Sakkaki, Mursidin dan Mazidi terpana saling berangkulan dan pingsan karena melihat saudaranya yang lebur digulung roda mobil jeep itu. Di kemudian hari ketika misan2 saya itu bercerita bahwa bahwa kai menjerit melolong lolong: ” mengapa bukan saya ……..saja……tidak saya sajaaaa yang ditabrak”

 

Ayah ibu saya tidak pernah sampai bisa mendetail menceritakan suasana hati beliau saat saat menerima khabar kematian kakak saya itu. beliau berdua hanya akan mendongak sangat lama kalau ditanya tentang hal itu. Seolah-olah berusaha memasukkan kembali air mata yang memaksa muncrat keluar.

 

Yang bisa beliau ceritakan adalah bahwa setelah beberapa jam dari mendengar peberitahuan dari rumah sakit. Ayah saya pertama-tama mengambil air wudlu, shalat dua rakaat lalu berangkat naik sepeda merek phoenix ke kantor Polisi, Beliau menemui sopir jeep yang menabrak putranya itu. beliau merangkulnya, memeluknya dan mengatakan pada dia:” Saya yakin kamu tidak sengaja. Kamu tidak sengaja. Maka saya akan membuat pernyataan bahwa saya tidak keberatan dan tidak menuntut apapun darimu. saya akan meminta agar kamu dibebaskan segera.

 

Hudanpun dimakamkan layaknya seorang pahlawan, Banyak sekali tentara yang datang berbela sungkawa. Dalam sambutannya, sang komandan mengatakan bahwa : ” Seandainya kami mengalami hal semacam ini, belum tentu mampu membuka pintu maaf bagi orang yang membunuh anak kami sendiri”.

 

Demikian seri sabar pertama dari kesabaran Al-Marhum H. M. Djuaini Mukhtar.

Selamat sahur (18)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: