MENJADI MURID DAN GURU DIRINYA SENDIRI

MENJADI MURID DAN GURU DIRINYA SENDIRI

oleh Hasanain Juaini pada 17 Agustus 2011 pukul 4:07 ·
(In Memoriam H Djuaini Mukhtar)

Lebih baik membaca ceritanya dari pada judul yang ribet itu.

kisah nyata ini dimulai ketika kepala Madrasah H. Masnun dan saya sendiri minta ijin kepada Ketua yayasan H.M. Djuaini Mukhtar untuk menutup Madrasah Ibtidaiyyah Nurul Huda Narmada. Alasannya sederhana, Semua wali murid telah memindahkan anak-anaknya karena melihat murid2 di Madrasah ini sangat sedikit. Tentu beralasan karena mereka tidak ingin anak-anak mereka dikelilingi kesedihan setiap masuk sekolah. Kini tinggal anak saya sendiri dan lima orang anak panti asuhan yang tidak punya pilihan selain di Madrasah ini.

Kami berdua dipanggil masuk kantor beliau dan beginilah yang beliau katakan:

Saya telah mendirikan 18 belas buah madrasah dan saya menjadi kepalanya tidak satupun yang ditutup. Saya bersyukur kamu ada, saya berdo’a agar kamu memajukannya dan tidak membunuhnya.

Saat itu saya baru saja tamat di Gontor dan dunia masih sempit bagi saya. saya keluar dari kantor itu dengan hati menjerit. Tidak mampu berkata apa-apa. lebih dari menangis, dadapun terasa sesak sekali.

Ibu saya Alm. Hj Jahrah, titip pesan agar saya pulang dari Narmada ke Tanak Beak. Waktu itu malam setelah isya kepala saya dipangku dan ibu mengusap-usap rambut saya. Beliau seperti berbisik mengatakan:

” Saya melihat kamu menangis ketika keluar dari ruangan ayahmu. Kamu harus tahu sejarah madrasah itu”

” Kami dulu dikirim ke Narmada ini oleh Maulana Syeikh, Guru kami, tanpa selembar kertas apapun. tidak sesenpun bekal uang, kami diantar oleh Amak Kakemu dengan cikar dari Pancor. perjalanannya hampir satu harian”.

Ketika ayahmu menjadi kepala madrasah Nurul Huda itu, dia juga menjadi kepala Madrasah dan sekaligus murid disana sampai tamat dan mendapat ijazah. Lalu karena ingin memiliki Ijazah lebih tinggi, ayahmu mendirikan PGAP dan diapun menjadi Kepala madrasah itu sekaligus menjadi muridnya, sampai tamat berijazah. Iapun diangkat menjadi GAH (guru agama honorer). beliau lalu mendirikan PGAA, menjadi kepalanya dan juga kembali menjadi murid dirinya sendiri sampai tamat berijazah, yang dia sendirilah menanda tangani raport-rapornya. Nah dengan ijazah-ijazah itulah beliau diangkat menjadi pegawai negeri sampai jabatan terakhir kepala seksi penerangan agama Islam kandepag lombok Barat.

Dengan penjelasan itu terasa ringan beban yang menghimpit perasaan saya. Saya bangkit dari pangkuan ibu dan mohon diri.

Waktu bersalaman pulang ke Narmada, malam itu juga, Ayah saya mengangkat telunjuknya ke arah langit (lamaaaaaaa sekali sampai saya ikut mendongak langit) dan mengatakan: Kalau kalian tidak mampu memberi anak-anak itu ilmu yang banyak, maka Allah akan memberi mereka barakah. Berangkat sana!

Anak-anak ibtidaiyyah kesepian itu akhirnya tamat juga. seorang diantaranya saat ini menuntut ilmu di Al-Azhar Mesir. Yakinlah anak2ku / murid2ku bahwa ilmu itu sekalipun tidak banyak akan tetap saja sangat berarti asalkan mendapat barakah Allah.

(Selamat Nyaur 16 )

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: