apa-itu-partai-komunis

Apa itu Partai Komunis?

SAYA DAPATKAN ARTIKEL CUKUP PANJANG DAN SERIUS MEMBAHAS MASALAH KOMUNIS. UNTUK MEMUDAKAN MEMBACANYA,  SAYA KOPASKAN DISINI, SEMOGA BERMANFAAT. TERIMA KASIH KEPADA: http://erabaru.net/1-apa-itu-partai-komunis

—————————————————————————————————————————————-

Lebih dari satu dekade setelah runtuhnya kekuasaan rejim komunis di bekas Uni Soviet maupun negara-negara Eropa Timur, gerakan komunis internasional telah dicampakkan pula oleh masyarakat dunia. Jalan Partai Komunis China (PKC) menuju liang kubur pun hanya tinggal hitungan waktu saja. 9 Komentar Mengenai Partai Komunis China

Nasib sial bagi bangsa Tionghoa, karena sebelum menghadapi keambrukan total, PKC masih berupaya keras mengikatkan nasibnya pada rakyat negeri kuno yang telah mempunyai sejarah peradaban lebih dari 5.000 tahun ini. Kini masyarakat Tionghoa harus menghadapi beberapa masalah, yaitu bagaimana orang Tionghoa memandang Partai Komunis, bagaimana Tiongkok menempuh suatu kehidupan sosial tanpa PKC, dan bagaimana menjaga dan meneruskan nyala gemilang obor bangsa Tionghoa

Koran berbahasa Mandarin Dajiyuan menerbitkan rangkaian editorial khusus membahas “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis”. Sebelum peti mati PKC ditutup, kami ingin menyampaikan penilaian akhir tentang PKC dan gerakan komunis internasional, yang telah menjadi momok bagi umat manusia selama lebih dari satu abad.

Mengamati sejarah perjalanan PKC selama 80 tahun lebih, semua yang dilakukan PKC senantiasa diliputi dengan kebohongan, perang, kelaparan, kediktatoran dan ketakutan. PKC telah merusak secara brutal kepercayaan dan nilai-nilai tradisional. Mencerai beraikan konsep etika moral dan sistem sosial yang telah ada sebelumnya. Cinta kasih dan harmonisasi antar manusia diselewengkan menjadi pertarungan dan dendam kesumat. Rasa menghargai serta segan dan hormat pada alam jagat raya diubah menjadi “memerangi langit memusuhi bumi”, membawa keambrukan total pada sistem moral masyarakat dan sistem ekologi, menyeret bangsa Tionghoa dan bahkan umat manusia kepada cengkeraman krisis hebat. Segala bencana ini terjadi di bawah perencanaan, organisasi dan kendali ketat dari PKC.

“Apa boleh buat, bunga-bunga telah berguguran”, kata sebait sajak Tionghoa yang terkenal. Kekuasaan PKC yang sedang sekarat makin mendekati ajalnya, kehancuran mereka sudah di ambang pintu. Sebelum mereka terbasmi total, kita patut merenungkan dan harus menyingkap berbagai karya organisasi ajaran sesat terbesar yang terhimpun sejak jaman dulu maupun sekarang, di Tiongkok maupun diluar negeri. Dengan demikian orang-orang yang masih dibohongi oleh kekuasaan Partai Komunis bisa mengenal hakikat berbagai kejahatan besar yang dilakukannya. Membersihkan diri dari pengaruh racun Partai Komunis, membebaskan diri dari kendali psikologis roh jahat Partai Komunis, melompat keluar dari belenggu teror, melepaskan segala khayalan kosong terhadap Partai Komunis.

Kekuasaan Partai Komunis China adalah lembaran paling hitam dan paling gila dalam sejarah Tiongkok. Penindasan terhadap “Sejati-Baik-Sabar” yang dimotori oleh Jiang Zemin merupakan puncak keiblisannya. Gerakan ini merupakan tancapan paku terakhir pada peti mati PKC. Merenungkan kembali potongan sejarah ini, adalah penting agar drama tragis semacam ini tidak terjadi lagi. Bersamaan juga mari kita semua mawas diri dan menimbang hati nurani kita, apakah karena perasaan pengecut dan kompromi kita telah menyeret ke banyak tragedi yang mestinya bisa dihindari.

Saat ini Anda bisa mendownload video 9 Komentar mengenai Partai Komunis, silakan klik : Apa itu Partai Komunis.

Apa itu Partai Komunis

(Bagian 1 dari 9)

Penggunaan kekerasan mungkin tak dapat dihindarkan ketika mencoba untuk merebut kekuasaan politik, tetapi tidak pernah ada sebelumnya sebuah rejim yang begitu bernafsu melakukan pembunuhan dalam masa damai seperti Partai Komunis China.

Lebih dari lima ribu tahun, bangsa Tionghoa telah tumbuh berkembang diatas tanah subur yang dialiri Sungai Kuning dan Sungai Yangtze, melewati puluhan dinasti silih berganti dan menciptakan pasang surut kebudayaan Tionghoa yang cemerlang. Kisah-kisah yang mengagumkan telah memainkan peran hidup dipanggung sejarah Tiongkok.

Tahun 1840, sejarah mencatat sebagai awal era moderen Tiongkok, ditandai dengan dimulainya perjalanan dari abad tradisional menuju era moderen. Sejak saat itu, peradaban Tionghoa telah melalui lebih kurang empat episode tantangan dan tanggapan. Tiga episode pertama meliputi penyerbuan Beijing oleh aliansi tentara Inggris-Perancis pada awal 1860, perang Tiongkok-Jepang (disebut juga “Perang Jiawu”) pada tahun 1894, dan perang Rusia-Jepang di Timur Laut Tiongkok pada tahun 1906. Terhadap tiga episode tantangan ini, tanggapan Tiongkok adalah memasukkan peralatan dan senjata moderen (yaitu pergerakan kebaratan), reformasi institusional melalui Gerakan Reformasi pada tahun 1898 dan usaha memberlakukan hukum konstitusional pada akhir Dinasti Qing, dan setelah itu, Revolusi Demokrasi pada tahun 1911.

Selesai perang dunia pertama, kepentingan Tiongkok sebagai salah satu negara pemenang sama sekali tidak diperhitungkan oleh negara-negara kuat, masyarakat Tiongkok saat itu menganggap bahwa tanggapan terhadap ketiga episode diatas telah mengalami kekalahan, oleh sebab itu muncullah “Gerakan 4 Mei”, gerakan episode keempat yang merupakan sebuah tanggapan bidang terakhir, bidang lingkup kebudayaan yang secara menyeluruh berkiblat ke Barat, setelah itu dimulai revolusi ekstrim yang disebut sebagai pergerakan komunis.

Yang diurai dalam bab ini adalah dampak dari gerakan komunis dan Partai Komunis terhadap peradaban di Tiongkok. Menganalisa apa yang terjadi setelah Tiongkok melewati sejarah 160 tahun lebih, dengan korban meninggal secara tak wajar yang mendekati ratusan juta orang, serta hancurnya seluruh kebudayaan dan peradaban Tionghoa, apakah itu dipilih oleh Tiongkok ataupun dipaksa oleh unsur dari luar.

I. Mengandalkan Kekerasan dan Teror untuk Merebut dan Mempertahankan Kekuatan

“Komunis mengganggap tidak perlu menyembunyikan pandangan dan tujuan mereka. Mereka mendeklarasikan secara terbuka bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan menggunakan kekerasan, menggulingkan seluruh sistem sosial yang ada”, demikian kutipan dari “Manifesto Komunis”; dokumen prinsip-prinsip Partai Komunis. Kekerasan adalah satu-satunya alat dan cara utama Partai Komunis untuk memperoleh kekuasaan. Ciri karakter ini telah diputuskan menjadi gen turunan sejak kelahiran partai tersebut.

Sesungguhnya, Partai Komunis dunia yang pertama didirikan beberapa tahun setelah kematian Karl Max. Tahun kedua setelah Revolusi Oktober 1917, “Partai Komunis Rusia (Bolshevik)”, yang nantinya dikenal sebagai “Partai Komunis Uni Soviet”, didirikan secara resmi. Partai komunis ini tumbuh ketika menggunakan kekerasan melawan “musuh kelas” dan setelah itu mempertahankan eksistensinya dengan menerapkan kekerasan terhadap anggotanya sendiri maupun warga negara biasa yang dianggap pengkhianat. Tahun 1930 ketika Stalin melakukan pembersihan internal, Partai Komunis Soviet membunuh lebih dari 20 juta orang yang disebut sebagai mata-mata dan pengkhianat, serta mereka yang dianggap mempunyai pendapat yang berbeda.

Partai Komunis China (PKC) pertama kali didirikan sebagai cabang Komunisme Internasional Ketiga yang dikendalikan oleh Partai Komunis Soviet, maka dengan sendirinya telah mewarisi kekerasan seperti itu. Selama masa perang saudara pertama antara Komunis dan Kuomintang dari tahun 1927 hingga 1936, jumlah penduduk propinsi Jiangxi menurun dari 20 juta sampai 10 juta lebih. Kerusakan yang timbul akibat menggunakan kekerasan dapat dilihat dari besarnya korban itu sendiri.

Bila dikatakan bahwa penggunaan kekerasan tidak dapat dihindarkan ketika merebut kekuasaan politik, maka tidak pernah ada sebelumnya sebuah rejim yang begitu bernafsu melakukan pembunuhan dalam masa damai seperti Partai Komunis China. Sejak tahun 1949, angka kematian akibat pembunuhan secara kejam oleh PKC telah melebihi jumlah kematian selama masa perang 30 tahun sebelumnya.

Dalam hal ini, yang mencapai rekor adalah Khmer Merah Kamboja yang didukung sepenuhnya oleh PKC, setelah merebut kekuasaan lantas membunuh seperempat penduduk Kamboja, termasuk diantaranya mayoritas perantauan Tionghoa dan warga asing keturunan Tionghoa. Bahkan sampai kini Komunis Tiongkok masih menghalangi masyarakat internasional mengadili Khmer Merah secara terbuka, tujuannya adalah untuk menutupi peran mereka didalamnya serta peran kejahatan yang dimainkannya.

PKC mempunyai hubungan dekat dengan rejim-rejim tirani dan pasukan revolusioner bersenjata yang paling brutal di dunia. Selain Khmer Merah, juga Partai Komunis di Indonesia, Pilipina, Malaysia, Vietnam, Burma, Laos, dan Nepal – semua didirikan atas dukungan PKC. Banyak diantara pemimpin Partai Komunis ini adalah orang Tionghoa, sebagian dari mereka sampai hari ini masih bersembunyi di Tiongkok.

Partai komunis lain yang menganut ideologi Mao adalah Shining Path dari Afrika Selatan dan Tentara Merah Jepang yang terkenal dengan kekejamannya dan dikutuk oleh masyarakat dunia.

Salah satu sumber teori komunisme adalah teori evolusi. Partai Komunis menerapkan kompetisi species ke dalam pertarungan kelas evolusi sosial. Partai komunis menganggap perjuangan kelas adalah satu-satunya kekuatan penggerak dalam kemajuan perkembangan sosial, maka pertarungan menjadi “keyakinan” utama dalam memperoleh kekuasaan politik dan mempertahankan hidup. “800 juta orang, apakah dapat tidak bertarung?” Ini adalah kata-kata terkenal Mao yang merupakan pernyataan logika kehidupan seperti ini.

Pernyataan Mao lain yang sama-sama terkenal adalah, bahwa Revolusi Kebudayaan harus diadakan “setiap tujuh atau delapan tahun”. Berulang-ulang menggunakan kekerasan adalah metode utama Partai Komunis dalam mempertahankan kekuasaan politik. Tujuan menggunakan kekerasan adalah menciptakan teror. Setiap gerakan pertarungan adalah untuk membuat ketakutan, agar rakyat gentar dan takluk hingga menjadi budak ketakutan di bawah kontrol PKC.

Saat ini, terorisme telah menjadi musuh utuma peradaban dan dunia bebas. Penggunaan teror kekerasan oleh PKC, dengan membonceng aparat negara, skalanya semakin besar dan waktunya semakin panjang, kadarnya pun semakin bengis. Dalam abad ke-21 ini, kita jangan lupa, karakter bawaan Partai Komunis ini pada saatnya akan membawa pengaruh yang pasti terhadap nasibnya dimasa depan.

II. Menggunakan Kebohongan untuk Membenarkan Kekerasan

Tingkat peradaban umat manusia dapat diukur dengan tingkat penggunaan sistim kekerasan. Menelusuri penggunaan kekerasan oleh rejim Komunis, secara jelas mewakili langkah mundur yang besar dalam peradaban manusia. Namun, sekali lagi komunis telah sukses membuat masyarakat dunia menganggap bahwa itu adalah suatu kemajuan. Orang-orang ini beranggapan, penggunaan kekerasan adalah proses yang mesti dan harus dilalui untuk mencapai kemajuan masyarakat.

Berbohong dan berdusta adalah karakter lain yang diwarisi partai komunis, penggunaan cara ini sudah mendatangkan hasil yang tiada tara.

“Sejak kecil kita sudah tahu bahwa Amerika adalah suatu negara yang disukai. Kita percaya bukan saja karena Amerika tidak menjajah Tiongkok, Amerika juga tidak pernah menggerakan peperangan menyerang Tiongkok; lebih mendasar lagi dapat dikatakan kesan baik orang Tionghoa terhadap orang Amerika adalah bersumber dari sikap demokratis serta keterbukaan yang dipancarkan oleh masyarakat Amerika”.

Kutipan ini berasal dari tulisan editorial yang dipublikasikan oleh surat kabar resmi PKC, Harian Xinhua, 4 Juli 1947. Selang tiga tahun kemudian, PKC mengirim tentara berperang dengan pasukan Amerika di Korea Utara, dan juga menggambarkan orang Amerika sebagai imperialisme yang paling jahat di dunia. Setiap orang yang berasal dari daratan Tiongkok, akan sangat terkejut bila membaca editorial PKC yang ditulis lebih dari 50 tahun yang lalu. Hingga PKC harus memeriksa dan melarang buku-buku terbitan ulang yang berhubungan dengan artikel tersebut.

Sejak berkuasa, PKC selalu menggunakan cara yang sama untuk menghancurkan kontra revolusi, “kerja sama” antara perusahaan umum dan swasta, gerakan anti kanan, Revolusi Kebudayaan, peristiwa 4 Juni Tiananmen dan yang paling baru, penindasan terhadap Falun Gong. Diantaranya yang terkenal adalah penindasan terhadap para intelektual pada tahun 1957. PKC memanggil para intelektual agar mereka memberikan pendapatnya kepada PKC, namun setelah itu mereka ditindas sebagai “golongan kanan”, pendapat mereka dijadikan sebagai bukti tindak kriminal. Ketika orang mengkritik penindasan tersebut sebagai konspirasi gelap, Mao memberikan pernyataan kepada publik secara terbuka : “Itu bukan konspirasi gelap, tetapi siasat dalam keterbukaan”.

Penipuan dan kebohongan telah memainkan peran yang sangat penting bagi PKC dalam memperoleh dan mempertahankan kekuasaannya. Kaum intelektual Tiongkok sejak dahulu kala memiliki kesadaran sejarah yang dalam. Tiongkok adalah suatu negara yang mempunyai catatan sejarah paling panjang dan paling sempurna, karena orang Tionghoa mau menggunakan sejarah untuk menilai kenyataan, hingga mencapai peningkatan spiritual pribadi di dalamnya. Oleh sebab itu, menyembunyikan dan mengubah sejarah juga menjadi metode utama rejim PKC agar tetap berkuasa. Dalam propagandanya dan publikasinya, PKC telah menulis ulang sejarah, mulai dari awal masa negara-negara berperang Chunqiu (770 – 476 SM), hingga yang terakhir Revolusi Kebudayaan, semuanya diputar-balikkan dan diubah, terus menerus dilakukan selama lebih dari 50 tahun, segala upaya untuk meletakkan kembali wajah kebenaran sejarah telah dihalangi, dihancurkan dan dimatikan.

Ketika kekerasan saja tidak cukup sehingga perlu dimodifikasi, maka penipuan dan kebohongan lantas digunakan. Kebohongan adalah sisi lain dari kekerasan dan alat pembenaran kekerasan.

Kita harus mengakui, penipuan dan kebohongan bukan diciptakan oleh Partai Komunis China, itu hanya ketidak senonohan yang telah ada sejak dahulu dan digunakan oleh PKC tanpa malu. PKC berjanji akan memberikan tanah kepada petani, berjanji memberikan pabrik kepada pekerja, berjanji memberikan kebebasan dan demokrasi kepada kaum intelektual, berjanji memberikan kedamaian. Tak satupun dari janji-janji ini terlaksana. Satu generasi orang Tionghoa yang dibohongi telah mati dan satu generasi berikutnya terus dibohongi. Ini adalah kepedihan paling besar dari orang Tionghoa, juga adalah kemalangan besar dari bangsa Tionghoa.

 

 

[Komentar 2] Awal Partai Komunis China (PKC)

 

 

 

(bagian 2)

Menurut buku ‘Menjelaskan Bahasa dan Mengurai Kata’ (Shuowen Jiezi) yang ditulis oleh Xu Shen (147 AD), huruf Mandarin tradisional yang berarti “partai” atau “geng” terdiri dari dua akar kata yang meliputi arti “masih gelap”. “Partai” atau “anggota partai” (yang juga bisa diartikan “geng” atau “anggota geng”) mengandung arti yang merendahkan.

Konghucu berkata, “Saya dengar bahwa orang yang terhormat tidak akan bergabung dengan geng (partai).” Dalam kata ulasan buku itu, pengartian Konghucu untuk huruf ini menjelaskan bahwa orang yang membantu satu sama lain untuk menyembunyikan kejahatan mereka dan yang melakukan tindak kejahatan dianggap membentuk geng (partai). Di dalam kebudayaan Tionghoa tradisional, hal ini mengandung pengertian yang tidak baik, mempunyai persamaan arti dengan “geng brandalan” dan berhubungan dengan pengaruh kelompok untuk tujuan egois.

Mengapa Partai Komunis bisa muncul dan akhirnya merebut kekuasaan di Tiongkok? Partai Komunis China (PKC) secara terus menerus telah menanamkan ke dalam pikiran orang-orang Tionghoa bahwa sejarah telah memilih PKC, bahwa rakyat telah memilih PKC, dan bahwa “tanpa PKC tidak akan ada Tiongkok baru”.

Apakah, memilih Partai Komunis atas keinginan mereka sendiri? Atau Partai Komunis yang memaksakan keinginan egois dan pandangan mereka kepada rakyat Tionghoa? Kita hanya bisa temukan jawabannya dalam sejarah.

Saat ini Anda bisa mendownload video 9 Komentar mengenai Partai Komunis, silakan klik : Awal Partai Komunis China (PKC).

Sejak masa akhir Dinasti Qing sampai masa awal periode Republik (1911-1949), Tiongkok mengalami kejutan luar biasa dari luar dan usaha untuk reformasi internal secara besar-besaran. Masyarakat berada dalam gejolak yang memilukan. Banyak intelektual dan orang-orang dengan pemikiran yang bijaksana ingin menyelamatkan negara dan rakyat, tetapi di tengah-tengah krisis dan kekacauan nasional, kekhawatiran mereka tumbuh, pada awalnya dari kekecewaan yang kemudian menjadi ke-putus asa-an sepenuhnya. Seperti orang sakit yang sembarangan mencari dokter, mereka mencari solusi di luar Tiongkok. Ketika cara Inggris dan Perancis gagal, mereka berpaling pada metode Rusia. Karena ingin cepat berhasil, mereka tidak ragu-ragu untuk meramu obat yang paling keras untuk penyakitnya, dengan harapan Tiongkok bisa menjadi kuat dengan cepat.

Gerakan 4 Mei pada 1919 adalah cermin yang jelas dari ke-putus asa-an ini. Sebagian orang memilih tindakan anarkis, sebagian lain mengusulkan untuk membuang doktrin-doktrin Konghucu, dan yang lainnya lagi menyarankan untuk mengadopsi kebudayaan asing. Secara singkat, mereka menolak kebudayaan tradisional Tionghoa dan menentang doktrin Konghucu yang mengambil jalan tengah. Karena ingin mengambil jalan pintas, mereka menjalankan pemusnahan dari semua hal yang bersifat tradisional. Pada satu sisi kelompok radikal tidak mempunyai cara untuk menjalankan negara, pada sisi lain mereka percaya sepenuhnya pada pendapat mereka sendiri. Mereka merasa dunia tanpa harapan, dan percaya bahwa hanya dengan diri sendiri barulah mereka bisa menemukan cara yang benar bagi perkembangan masa depan Tiongkok. Mereka bernafsu untuk melakukan revolusi dan kekerasan.

Pengalaman yang berbeda menyebabkan perbedaan pada teori, prinsip dan jalur di antara beberapa kelompok. Akhirnya sekelompok orang bertemu dengan penghubung Partai Komunis dari Uni Soviet. Ide “menggunakan kekerasan untuk menduduki kekuasaan politik” dari teori Marxisme-Leninisme, menarik bagi pikiran resah mereka dan sesuai dengan keinginan mereka untuk menyelamatkan negara dan rakyat. Maka mereka memperkenalkan Komunisme, suatu konsep yang sangat asing ke negeri Tiongkok. Ada 13 orang wakil yang menghadiri kongres pertama PKC. Setelah itu, sebagian meninggal, sebagian melarikan diri, sebagian bekerja untuk kepentingan kubu Jepang dan menjadi pengkhianat, dan sebagian keluar dari PKC untuk bergabung dengan Kuomintang (Partai Nasional, yang selanjutnya kita sebut KMT). Pada 1949, ketika PKC berkuasa, hanya Mao Zedong (Mao Tse Tung) dan Dong Biwu yang masih tersisa dari 13 anggota Partai semula. Tidak jelas pada waktu itu apakah pendiri-pendiri PKC menyadari bahwa “dewa penyelamat” yang mereka perkenalkan dari Uni Soviet sebenarnya adalah makhluk jahat, dan obat yang mereka dapatkan untuk menguatkan negara sebenarnya adalah racun mematikan.

Partai Komunis Rusia yang baru saja memenangkan revolusi, terobsesi untuk menggarap Tiongkok. Pada tahun 1920, Uni Soviet mendirikan Biro Timur Jauh di Siberia yaitu sebuah cabang dari Komunis Internasional (Internationale) Ketiga, atau Komintern (Comintern). Ia bertanggung jawab untuk mengatur pendirian Partai Komunis di Tiongkok dan negara lainnya. Begitu didirikan, wakil deputi biro Grigori Voitinsky tiba di Beijing dan menghubungi barisan depan komunis Li Dazhao. Li mengatur pertemuan Voitinsky dengan pemimpin komunis lainnya, Chen Dixiu di Shanghai. Pada bulan Agustus 1920, Voitinsky, Chen Dixiu, Li Hanjun, Shen Xuanlu, Yu Xiusong, Shi Cuntong dan lainnya memulai persiapan dari pendirian PKC.

Pada Juni 1921, Zhang Tailei tiba di Irkutsk – Siberia, untuk menyerahkan proposal pendirian PKC sebagai cabang dari Komintern kepada Biro Timur Jauh. Pada 23 Juli 1921, dengan bantuan Nikolsky dan Maring dari Biro Timur Jauh, maka secara resmi terbentuklah PKC.

Sejak itu gerakan Komunis diperkenalkan ke Tiongkok sebagai uji coba, dan sejak itu PKC memposisikan dirinya di atas segalanya, menaklukkan segalanya sehingga membawa bencana tanpa akhir bagi Tiongkok.

I. PKC Tumbuh Dengan Cara Menumpuk Kejahatan Secara Berkesinambungan

Bukan tugas yang mudah untuk memperkenalkan makhluk asing seperti Partai Komunis, sesuatu yang sama sekali tidak sejalan dengan tradisi Tionghoa, ke dalam negeri yang mempunyai sejarah peradaban 5000 tahun lebih. PKC dengan mempergunakan ideologi Keserasian Besar Komunisme membohongi rakyat dan kaum intelektual nasionalis, melangkah lebih jauh lagi memutar balik teori komunisme yang telah diselewengkan dengan parah oleh Lenin, menjadikannya sebagai dasar untuk menghancurkan segala nilai tradisi yang tidak menguntungkan kekuasaannya, membasmi segala tingkat sosial dan tokoh yang membahayakan kekuasaannya. PKC membawa pengaruh besar kepada penghancuran keyakinan beragama, terlebih lagi membawa konsekuensi atheisme komunis. PKC membawa pengingkaran komunisme akan sistem kepemilikan pribadi, juga membawa teori revolusi kekerasan Lenin. Bersamaan pula PKC meneruskan dan mengembangkan bagian paling jahat dari kaisar Tiongkok.

Sepanjang sejarah PKC, sejak berdirinya sampai memperoleh dan menjalankan kekuasaan, secara terus menerus ia bertambah jahat. Dalam perkembangannya PKC mengandalkan sembilan unsur dasar yang diberikan oleh hantu Komunis, yaitu jahat/ busuk, menipu, menghasut, penjahat masyarakat, memata-matai, merampok, berkelahi, memusnahkan, dan mengontrol. Dalam menghadapi krisis yang berkesinambungan, PKC terus menerus menjalankan dan memperkuat cara-cara serta melanjutkan peran dari karakter-karakter jahat ini.

Unsur Dasar Pertama: Sesat/ Jahat – Menjalankan Bentuk Kejahatan Dari Marxisme-Leninisme

Pada awalnya Komunis Tiongkok tertarik pada Marxisme karena berpijak dari “melancarkan revolusi dengan kekerasan untuk menghancurkan alat-alat negara lama dan mendirikan kekuasaan kaum proletar.” Ini sesungguhnya adalah akar kejahatan dari Marxisme dan Leninisme. Teori materialisme dari Marxisme dibuat atas dasar konsep ekonomi yang sempit dari tenaga produksi, hubungan produksi dan nilai surplus. Pada masa awal ketika kapitalisme belum begitu berkembang, Marx membuat prediksi picik bahwa kapitalisme akan hancur dan kaum proletar akan menang, yang mana sekarang telah terbukti salah. Teori Marxis-Lenin akan revolusi sosial dengan kekerasan dan kekuasaan kaum proletar, merupakan promosi kekuasaan politik dan dominasi dari kaum proletar. Pernyataan Komunis berhubungan dengan basis filosofi dan sejarah dari Partai Komunis terhadap perjuangan dan konflik kelas. Kaum proletar melepaskan diri dari moral tradisional dan hubungan sosial demi mendapatkan kekuasaan. Dengan demikian, sejak awal kemunculannya, doktrin dari Komunis bertentangan dengan semua tradisi.

Sifat hakiki manusia secara universal menolak kekerasan dalam bentuk apapun. Kekerasan membuat orang menjadi brutal dan bersifat tiran. Oleh sebab itu di segala tempat dan sepanjang waktu, secara hakiki umat manusia menolak keberadaan dari teori kekerasan Partai Komunis. Teori yang belum pernah ada dalam sistem-sistem pengajaran, filosofi, atau tradisi. Sistem komunis yang bersifat menteror jatuh di muka bumi entah dari mana.

Dasar dari ideologi PKC adalah manusia bisa menguasai alam dan mengubah dunia. Partai Komunis menarik minat banyak orang dengan ide-idenya tentang “pembebasan bagi semua umat manusia” dan “Persatuan dunia”. PKC menipu banyak orang, terutama mereka yang perduli dengan keadaan manusia dan ingin membuat sejarah dalam masyarakat. Sehingga orang-orang ini lupa akan keberadaan Tuhan di atas. Terinspirasi secara keliru dengan konsep indah “membangun surga dunia”, mereka memandang hina tradisi dan memandang rendah nyawa orang lain, yang mana malah membuat rendah diri mereka sendiri.

Partai Komunis menyuguhkan mimpi “surga Komunis” sebagai sebuah kebenaran, dan memicu antusiasme orang-orang untuk memperjuangkannya: “Dengan alasan ciptakan guntur baru, ada dunia yang lebih baik dilahirkan”[1] PKC menggunakan ide yang absolut dan tak masuk akal, untuk memutuskan hubungan antara umat manusia dan surga, memutuskan hubungan garis yang menyatukan orang dengan nenek moyang dan tradisi nasional mereka. Dengan menyerukan kepada rakyat agar menyerahkan hidup mereka kepada komunis, PKC bertambah kuat untuk melakukan kejahatan.

Unsur Dasar Kedua: Menipu-Berbohong Supaya Mencampur adukkan Baik dan Jahat

Kejahatan harus berbohong. Untuk mengambil keuntungan, PKC menganugerahi kaum buruh dengan sebutan “Kelas yang paling progresif”, “kelas yang tidak egois”, “kelas paling depan” dan “pioner dari revolusi kaum proletar”. Ketika Partai Komunis membutuhkan para petani, ia menjanjikan “lahan bagi petani”. Mao menyanjung petani dengan mengatakan, “Tanpa petani yang miskin tidak akan ada revolusi, menyangkal peran mereka sama dengan menyangkal revolusi.” [2] Ketika Partai Komunis membutuhkan bantuan dari kaum kapitalis, ia menyebut mereka “yang sejalan dalam revolusi kaum proletar” dan menjanjikan mereka “republik yang demokratis”. Ketika Partai Komunis hampir dibasmi oleh KMT, mereka memohon dengan lantang, “Orang Tionghoa tidak bertempur dengan sesama orang Tionghoa.” Tetapi apa yang terjadi? Begitu perang anti-Jepang berakhir, PKC menggunakan seluruh kekuatannya melawan KMT dan menumbangkan pemerintahannya. Begitu mulai berkuasa, PKC juga memusnahkan kaum kapitalis, dan pada akhirnya mengubah petani dan buruh menjadi kaum proletar yang miskin.

Konsep dari front persatuan adalah sebuah contoh kebohongan yang biasa dilakukan PKC. Agar bisa memenangkan perang saudara dengan KMT, PKC memulai dengan taktiknya mengadopsi “strategi front persatuan sementara” dengan musuh-musuhnya, termasuk para pemilik tanah (kaum feodal) dan petani kaya. Pada 20 Juli 1947, Mao Zedong mengumumkan bahwa “Kecuali bagi yang sungguh memberontak, kita harus memberikan perlakuan yang lebih baik kepada kelompok pemilik tanah…untuk mengurangi kondisi kekerasan.” Tetapi setelah PKC mendapatkan kekuasaan, para pemilik tanah dan petani kaya tidak luput dari penghancuran.

Mengatakan suatu hal dan melakukan sebaliknya adalah hal yang wajar bagi PKC. Ketika PKC membutuhkan KMT, ia mengutarakan bahwa kedua pihak seharusnya “berjuang demi keberadaan bersama untuk jangka waktu panjang, menjalankan supervisi bersama, tulus satu sama lain, dan berbagi dalam kehormatan dan kegagalan”. Tetapi setelah berhasil berkuasa pada 1949, PKC melenyapkan semua orang yang berbicara tentang demokrasi, menyebut mereka sebagai sayap kanan anti-partai. Semua orang yang tidak setuju atau menolak untuk mengikuti konsep, kata-kata, tindakan atau organisasi Partai dilenyapkan. Para pemimpin Marx, Lenin dan PKC menegaskan bahwa kekuatan politik Partai Komunis tidak akan berbagi dengan kelompok atau individu manapun. Sejak awal, Komunis dengan jelas membawa sifat kediktatoran. Dengan sewenang-wenang, PKC tidak pernah berada bersama kelompok atau partai politik lainnya dengan perilaku yang tulus. Bahkan pada masa yang disebut periode “santai”, keberadaan PKC dengan kelompok lainnya hanyalah pura-pura semata.

Sejarah membuktikan bahwa kita jangan sampai mempercayai apa yang dijanjikan PKC, atau mempercayai bahwa apa yang dijanjikan akan dipenuhi. Percaya dengan kata-kata dari PKC bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa.

Unsur Dasar Ketiga: Menghasut-Menyulut Kebencian dan Menghasut Pertikaian Massa

Penipuan digunakan untuk menghasut kebencian. Pertikaian harus disulut dari kebencian. Jika kebencian tidak ada, maka bisa dibuat.

Sistem kepala kelompok yang berurat berakar di daerah pedesaan Tiongkok menjadi halangan utama bagi pendirian kekuasaan politik Partai Komunis. Masyarakat pedesaan pada awalnya cukup harmonis, dan hubungan antara pemilik tanah dan penyewa tidak sepenuhnya bertentangan. Pemilik tanah mengatur dan menyewakan tanah pada petani, dan petani bertumpu pada tanah ini untuk kelangsungan hidupnya. Dengan kata lain, pemilik tanah memberikan sarana bagi petani untuk hidup, dengan timbal balik petani mendukung pemilik tanah.

Hubungan saling ketergantungan ini telah diputarbalikkan oleh PKC menjadi pertentangan dan pemisahan kelas secara ekstrim. Keharmonisan dibalikkan menjadi permusuhan, kebencian dan pertikaian; hal yang bisa diterima menjadi tidak dapat diterima, hal yang lancar dibuat menjadi kacau, dan republik dibuat menjadi otoriter. Partai Komunis mendorong rakyat untuk tidak mengakui kepemilikan tanah pribadi, membunuh demi keuntungan dan membunuh pemilik tanah, petani kaya dan keluarga mereka. Banyak petani yang tidak mau mengambil barang milik orang lain. Sebagian dari mereka mengembalikannya di malam hari apa yang telah mereka ambil di siang hari dari para pemilik tanah, tetapi mereka dikritik oleh tim kerja PKC untuk pedesaan dengan sebutan “kesadaran tingkat rendah”.

Untuk menghasut kebencian kelompok, PKC menjadikan panggung pertunjukan Tiongkok menjadi alat propaganda. Sebuah cerita terkenal tentang penindasan kelompok, “Gadis Berambut Putih”, yang mulanya adalah cerita mengenai seorang dewi dan tidak ada hubungannya dengan pertentangan kelas. Tetapi oleh seorang penulis dari militer, diubah menjadi sebuah drama, opera dan balet modern yang digunakan untuk menghasut kebencian antar kelompok. Ketika Jepang menjajah Tiongkok, PKC tidak melawan Jepang, malahan menyerang pemerintah KMT dengan tuduhan menjual negara tidak melawan Jepang, mengakibatkan krisis nasional dan menghasut rakyat untuk melawan pemerintahan KMT.

Menghasut massa untuk bertikai satu dengan yang lain adalah tipuan klasik dari PKC. PKC menciptakan tugas kelompok dengan rumus 95:5 yaitu: 95% dari populasi ditugaskan pada berbagai kelompok yang bisa dimenangkan, sementara 5% sisanya ditempatkan sebagai kelompok musuh. Orang yang berada dalam 95% aman, tetapi yang termasuk dalam 5% diperangi. Karena ketakutan dan ingin melindungi diri mereka sendiri, orang-orang berupaya untuk masuk ke dalam kelompok 95%. Ini menyebabkan banyak kasus di mana orang-orang saling mencederai satu sama lain, dari penghinaan sampai bentrokan fisik. PKC dalam banyak gerakan politiknya dengan menggunakan hasutan terus menerus menyempurnakan taktik ini.

Unsur Dasar Keempat: Berandalan-Perusuh dan Sampah Masyarakat Menempati Jabatan di PKC

Sampah masyarakat adalah biangnya kejahatan, maka kejahatan harus memanfaatkannya. Revolusi sosial yang dilancarkan komunis paling sering menggunakan para berandalan pemberontak dan sampah masyarakat. Contohnya dalam “Komune Paris”, sebenarnya melibatkan pembunuhan, pembakaran, dan kekerasan yang dilakukan oleh sampah masyarakat. Bahkan Marx merendahkan “kaum proletar dungu”. [3] Dalam “Manifesto Komunis” Marx berkata, “Kelompok yang berbahaya, sampah masyarakat, yang dengan pasif telah membuat busuk masyarakat dan dibuang oleh lapisan terendah dari masyarakat lama, dapat dimasukkan dan dipergunakan ke dalam gerakan revolusi kaum proletar. Tetapi karena kondisi kehidupannya, mereka mau dibeli dan bisa digunakan lebih lanjut sebagai alat suap dari pertikaian reaksioner.” Di sisi lain, Marx dan Engels menganggap sifat alamiah petani yang mudah dipecah belah dan kedunguan mereka, maka tidak mempunyai kualifikasi untuk termasuk ke dalam kelompok kelas apa pun.

PKC mengembangkan lebih lanjut sisi gelap dari Teori Marxisme. Mao Zedong berkata, “Sampah masyarakat dan perusuh selalu ditampik oleh masyarakat, tetapi sesungguhnya mereka adalah yang paling pemberani, paling seksama dan teguh dalam revolusi di daerah pedesaan.” [4] Kaum proletar gelandangan telah memperkuat keganasan PKC. Telah membangun rejim pedesaan Soviet awal. Kata “revolusi” dalam bahasa Mandarin yang diartikan satu per satu adalah “memutus nyawa”. Meskipun PKC bisa menerapkan “revolusi” dalam pengertian yang positif, tetap saja itu menakutkan dan menjadi bencana bagi orang baik, adalah mengambil “nyawa”. Demikian juga, dalam beda pendapat mengenai istilah “kaum proletar gelandangan” selama masa Revolusi Kebudayaan, PKC merasa “gelandangan” terdengar tidak baik, maka PKC menggantinya dengan “kaum proletar” saja.

Perilaku lainnya dari berandalan adalah bertindak brutal. Ketika dikritik karena kediktatoran mereka, pejabat partai cenderung untuk merendahkan orang dan tanpa malu mengeluarkan pernyataan seperti, “Kamu benar, itulah yang kami lakukan. Pengalaman orang Tionghoa selama beberapa dekade terakhir mengharuskan kami untuk menjalankan kekuatan demokrasi dengan diktator. Kami menyebutnya ‘kediktatoran demokrasi rakyat’ “.

 

 

 

[Komentar 3] Membahas Kekuasaan Tirani Partai Komunis China

 

 

(Bagian 3 dari 9)

Membahas Kekuasaan Tirani Partai Komunis China

Saat membicarakan tentang tirani, orang Tiongkok akan selalu menghubungkannya dengan Qin Shi Huang (259-210 Sebelum Masehi), Kaisar pertama dari Dinasti Qin, yang memerintah dengan tangan besi, membakar buku-buku filsafat dan mengubur hidup-hidup murid-murid Konghucu. Kebijakan yang dikeluarkan Qin Shi Huang yaitu “mendukung pemerintahannya dengan seluruh sumber daya yang ada dibawah langit” [1] diberlakukan sangat keras pada rakyatnya.

Kebijakan ini mempunyai empat aspek utama yaitu membebankan pajak tinggi, memeras tenaga rakyat untuk proyek yang mengagungkan dirinya, memberlakukan hukuman yang kejam, dan menguasai pikiran rakyat dengan memblokade segala bentuk kebebasan berpikir dan berekspresi, membakar buku-buku dan bahkan mengubur hidup-hidup para intelektual. Di saat pemerintahan Qin Shi Huang, Tiongkok memiliki populasi sebesar 10 juta jiwa, kurang lebih 2 juta darinya dikirim dalam kerja paksa atau 1/3 dari jumlah penduduk usia dewasa. Qin Shi Huang juga memberlakukan hukumnya kepada kalangan intelektual, melarang kebebasan berpikir dalam skala besar. Selama masa pemerintahannya, ribuan murid Konghucu dan pejabat yang mengritik pemerintahannya mati dibunuh.

Saat ini Anda bisa mendownload video 9 Komentar mengenai Partai Komunis, silakan klik : Membahas Kekuasaan Tirani Partai Komunis China(PKC).

Dibandingkan dengan kekejaman tirani Dinasti Qin, kekerasan dan kekejaman yang dilakukan Partai Komunis China (PKC) bahkan melebihi beberapa kali lipat. Seperti diketahui umum, filosofi PKC menganut filosofi kontradiksi. Kekuasaan Komunis dibangun dari serangkaian “konflik antar tingkat”, “konflik dalam jalur politik”, “konflik antar intelektual” terhadap berbagai kalangan dalam dan luar partai. Mao Zedong sendiri pernah berterus terang, “Apa yang Qin Shi Huang perbuat bukanlah sesuatu yang besar. Dia telah mengubur hidup-hidup 460 intelektual, sedangkan kita telah mengubur 46,000 intelektual. Orang memaki kita diktator, adalah Qin Shi Huang, kita mengakuinya karena itu sebuah kenyataan. Sayangnya, yang kalian ceritakan masih tidak cukup, jadi perlu kami tambahkan.”

Mari kita melihat kesengsaraan yang dialami Tiongkok selama 55 tahun di bawah kekuasaan PKC, bagaimana setelah PKC merebut kekuasaan, bagaimana mereka menggunakan instansi pemerintah berdasarkan teori konflik antar kelas sosial untuk menjalankan pemusnahan kelas sosial, dan memerintah dengan teror yang merupakan manifestasi dari filosofi revolusi dengan kekerasan. “Membunuh orang” dan “menumpas hati” digunakan untuk menindas segala kepercayaan di luar Partai Komunis. Setelah itu membuat satu gerakan yang menggambarkan Partai Komunis sebagai Kesempurnaan dan Tuhan. Berdasarkan filosofi kontradiksi antar kelas dan revolusi kekerasan, Partai Komunis berusaha menghapus orang-orang yang tidak sepaham dan menentang persamaan kelas sosial, menggunakan kekerasan dan taktik untuk memaksa seluruh rakyat Tiongkok menjadi abdi yang patuh terhadap peraturan tirani.

I. Landreform – Penghapusan Kelas Tuan Tanah

Saat baru tiga bulan berkuasa, Partai Komunis langsung mengadakan landreform secara menyeluruh, dengan slogan “Tanah untuk penggarap” telah membangkitkan sisi keserakahan para petani yang tidak memiliki sawah, mendorong mereka untuk merampas dengan kekerasan dan tanpa mempertimbangkan dampak moral yang diakibatkan oleh tindakan mereka, bahkan juga telah menghasut para petani yang tidak mempunyai lahan untuk menyerang para petani yang memiliki lahan pertanian. Kampanye ini telah menghapuskan secara tegas kelas tuan tanah, dimulai dari pengelompokan populasi penduduk pedesaan ke dalam perbedaan kategori sosial. Lebih dari 20 juta penduduk desa di seluruh Tiongkok dikategorikan sebagai “tuan tanah, petani kaya, kaum pembangkang atau elemen buruk”, telah menjadi kelas terendah dalam masyarakat Tiongkok. Orang-orang buangan ini mengalami diskriminasi, penghinaan dan kehilangan hak-hak sipil mereka. Seiring dengan meluasnya program landreform ini sampai ke daerah terpencil dan ke pedesaan suku minoritas, organisasi Partai Komunis juga menyebar dengan pesat. Komite Partai beserta cabangnya tersebar di seluruh pelosok Tiongkok dan didirikan di tingkat pedesaan dan kota praja. Cabang-cabang lokal adalah perpanjangan mulut dari instruksi-instruksi Komite Pusat PKC dan juga sebagai garis depan pertentangan antar kelas, menghasut petani untuk melawan tuan tanah. Hampir 100.000 orang tuan tanah tewas selama gerakan ini. Di beberapa daerah tertentu, PKC dan petani membunuh tuan tanah beserta seluruh keluarganya, tanpa memperdulikan gender atau usia, sebagai jalan untuk memusnahkan secara total kelas tuan tanah.

Pada masa itu, PKC mulai mengeluarkan propaganda pertamanya, yang mendeklarasikan “Pemimpin Mao adalah penolong rakyat” dan “Hanya PKC yang bisa menyelamatkan Tiongkok.” Selama masa reformasi ini, para petani yang tidak mempunyai lahan mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan sedikit usaha. Para petani miskin memuji PKC yang telah merubah hidup mereka dan menerima propaganda PKC; begitulah cara mereka mengambil hati rakyat.

Bagi para pemilik baru lahan pertanian, hari-hari keberuntungan “Tanah untuk penggarap” tidak bertahan lama. Dalam jangka dua tahun, PKC mulai mengadakan serentetan gerakan yang dipaksakan di kalangan petani seperti membentuk kelompok-kelompok kolektif, komunitas tingkat dasar, komunitas tingkat tinggi, dan perkumpulan rakyat. Dengan menggunakan kritikan “wanita berkaki kecil” – ditujukan kepada siapa yang lamban langkahnya – PKC mulai menyetir dan menekan, tahun berganti tahun, para petani dihancurkan ke dalam sistem sosialis. Menggunakan satu wadah bagi pembelian dan penjualan beras, kapas dan minyak goreng di seluruh negeri, hasil-hasil pertanian utama dilarang masuk ke pasar perdagangan. Sebagai tambahan, PKC mendirikan sebuah tempat sistem registrasi, tidak mengijinkan para petani pergi ke kota untuk tinggal atau bekerja. Orang yang mempunyai kartu penduduk desa tidak diperbolehkan membeli beras di toko beras negara, dan anak-anak mereka dilarang menerima pendidikan di kota. Anak petani hanya diperbolehkan menjadi petani, merubah 360 juta penduduk desa menjadi warga negara kelas dua diawal tahun 1950-an.

Permulaan tahun 1978, dicanangkan periode “biarkan sebagian orang mulai hidup makmur”, tetapi hanya pada lima tahun pertama setelah berpindah dari sistem kolektivisme ke sistem rumah tangga kontrak, pendapatan petani mengalami sedikit kenaikan dan status sosial mereka sedikit lebih baik. Namun, keuntungan kecil ini segera hilang bersamaan maraknya korupsi oleh aparat pedesaan dan akibat dari ketidakseimbangan antar komoditi hasil pertanian dan industri. Sebagai hasilnya, 900 juta petani saat ini sekali lagi terpuruk dalam kemiskinan yang memprihatinkan di saat seluruh penduduk Tiongkok memperoleh peningkatan standar hidup yang lebih baik melalui pembaruan ekonomi nasional. Ketimpangan penghasilan antara penduduk kota dengan desa meningkat drastis dan terus melebar. Tuan-tuan tanah baru dan petani kaya bermunculan untuk menggantikan mereka yang telah dimusnahkan oleh propaganda landreform. Menurut data yang diberikan kantor berita Xinhua, alat propaganda pemerintah, mengindikasikan bahwa sejak tahun 1997, “Pendapatan petani di daerah produksi beras utama dan banyak rumah tangga di pedesaan tetap dan bahkan di beberapa tempat mengalami penurunan.” Perbandingan rasio pendapatan penduduk kota dengan desa mengalami kenaikan dari 1.8 dibanding 1 di pertengahan 1980 an menjadi 3.1 dibanding 1 pada saat sekarang ini.

II. Pembaharuan dalam Bidang Industri dan Perdagangan – Menghapus Kelas Kapitalis

Kelas kapitalis yaitu kelompok orang yang menguasai modal yang berada di kota-kota besar dan kecil, juga tidak luput menghadapi kehancuran selama pemerintahan PKC. Ketika mereformasi industri dan perdagangan, PKC mengatakan bahwa kelas kapitalis dan kelas pekerja pada dasarnya tidak sama; yang satu adalah kelas pemeras, satunya lagi adalah kelas non-pemeras atau buruh. Berdasarkan logika ini, kelas kapitalis memang dilahirkan untuk memeras dan tidak akan bisa berhenti sampai mereka dibinasakan; hanya bisa dibinasakan, tidak bisa direformasi. Atas dasar pemahaman ini, PKC menggunakan cara membunuh dan mencuci otak untuk mengubah kaum kapitalis dan pedagang. Kaum kapitalis akan mujur jika mereka sejalan dengan pemerintah, tetapi akan binasa jika mereka menolaknya. Jika kamu menyerahkan semua aset kepada negara dan mendukung PKC, maka akan dianggap sebagai masalah kecil dalam masyarakat. Akan tetapi jika sebaliknya, kamu tidak setuju atau tidak terima dengan kebijakan PKC, kamu akan dianggap sebagai pemberontak dan menjadi target kediktatoran PKC.

Teror yang dilakukan pemerintah selama reformasi ini, membuat kaum kapitalis dan pedagang menyerahkan seluruh asetnya. Banyak di antara mereka tidak tahan menghadapi kenyataan ini dan melakukan bunuh diri. Chen Yi, walikota Shanghai saat itu, selalu bertanya setiap hari, “Berapa banyak pasukan terjun payung yang kita dapatkan hari ini?” yang berkaitan dengan jumlah kaum kapitalis yang melakukan bunuh diri dengan melompat dari atap gedung setiap harinya. Hal ini menunjukkan bagaimana PKC dengan cepat memusnahkan kepemilikan swasta di Tiongkok.

Pada saat melancarkan program landreform dan pembaruan perdagangan, PKC menggerakkan banyak massa untuk melakukan penganiayaan terhadap rakyat Tiongkok. Gerakan ini termasuk: penindasan terhadap “anti revolusi”, memasang papan-papan kampanye ideologi komunis, pembersihan kelompok anti PKC yang dipimpin oleh Gao Gang dan Rao Shushi serta menyelidiki kelompok anti revolusi Hu Feng. [3] Dari tahun 1951 sampai tahun 1952, PKC mulai melakukan gerakan yang dinamai “Kampanye Tiga Anti” dan “Kampanye Lima Anti” dengan menyatakan penghapusan korupsi, membuang birokrasi dalam partai, pemerintahan, tentara dan organisasi massa. Bagaimanapun juga yang terjadi sesungguhnya adalah PKC menggunakan gerakan ini untuk menganiaya secara kejam kepada sejumlah besar rakyat yang tidak berdosa.

Dengan memiliki kontrol penuh terhadap sumber-sumber pemerintahan, PKC menggunakan mereka secara maksimal sebagai penghubung Komite Partai, cabang-cabang dan sub-sub cabang disetiap gerakan politik. Berawal dari tiga anggota partai yang membentuk sebuah perjuangan kecil merembet ke seluruh tetangga dan pedesaan. Kekuatan perjuangan ini ada di mana-mana, tidak melewatkan sebutir batu pun untuk tidak menggelinding. Jaringan kontrol yang berurat akar ini merupakan warisan dari perjuangan PKC melawan Jepang dan Kuomintang (Partai Nasionalis, KMT), yang dari dulu telah memainkan peranannya sebagai kunci utama dalam melakukan gerakan-gerakan politik, juga dikemudian hari, termasuk penganiayaan yang terjadi di masyarakat saat ini.

III. Mengambil Tindakan yang Keras Terhadap Kelompok-kelompok Terkenal dan Menindas Agama

Kekejaman lain yang dilakukan oleh PKC yaitu memberikan tekanan keji terhadap kelompok agama (aliran kepercayaan) dan melarang sepenuhnya kelompok-kelompok non pemerintah semenjak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Pada tahun 1950, PKC memerintahkan setiap pemerintah daerah untuk melarang semua aliran kepercayaan yang tidak diakui dan organisasi-organisasi yang dianggap ilegal. Dikatakan bahwa kelompok-kelompok “feodal” bawah tanah merupakan alat perpanjangan tangan dari tuan tanah, petani kaya, kaum pembangkang dan agen khusus KMT, merupakan musuh besar PKC. Dalam melancarkan aksinya, pemerintah menggerakkan kelompok yang mereka percayai untuk mengindentifikasi dan menganiaya anggota kelompok religius. Pemerintah di berbagai tingkat secara langsung terlibat membubarkan “kelompok-kelompok takhayul” seperti komunitas Kristen, Katholik, Tao (khusus aliran Kwan Tao) dan Buddha. Mereka menyuruh semua anggota gereja, kuil dan kelompok religius mendaftarkan diri ke agen-agen pemerintah dan mengaku salah atas aktivitas tidak resmi mereka. Jika tidak maka akan mendapat hukuman yang kejam. Pada tahun 1951, pemerintah secara resmi mengumumkan peraturan ancaman yang mengatakan barang siapa yang melanjutkan aktivitas-aktivitas dalam kelompok yang tidak diakui pemerintah akan menghadapi penjara seumur hidup atau hukuman mati.

Gerakan ini telah menganiaya sejumlah besar rakyat biasa yang percaya dan taat kepada Tuhan. Berdasarkan data yang kurang lengkap, tahun 1950 PKC telah menganiaya, termasuk menghukum mati sedikitnya tiga juta penganut kepercayaan dan kelompok-kelompok yang dianggap ilegal, satu juta di antaranya adalah orang Kristen. PKC juga melakukan pemeriksaan di hampir setiap rumah tangga seluruh negeri dan menginterograsi anggotanya, bahkan patung Dewa Dapur yang disembah oleh petani tradisional Tiongkok pun dihancurkan. Eksekusi ini menguatkan pesan yang disampaikan PKC yaitu ideologi komunis sebagai satu-satunya ideologi dan kepercayaan yang diakui. Konsep semangat “patriotisme” (cinta negara) segera dimunculkan. Konstitusi negara hanya melindungi penganut patriotisme. Sebenarnya tak perduli rakyat percaya agama apa, patokannya hanya ada satu: harus patuh pada pengaturan pemerintah dan mengakui bahwa PKC di atas segala agama dan kepercayaan. Jika anda seorang Kristiani, maka PKC adalah tuhannya Tuhan agama Kristen. Jika anda seorang Budhis, PKC adalah Master Buddha-nya Master Buddha. Sampai di kalangan muslim pun, PKC adalah Allah-nya Allah. Bicara tentang Buddha Hidup (Living Buddha) di agama Buddha Tibet, PKC yang akan menentukan orangnya. Garis dasarnya ialah PKC tidak akan membuat anda mempunyai pilihan, selain berkata dan mengerjakan apa yang PKC suruh katakan dan kerjakan. Para pengikut harus mendasarkan kepercayaan terhadap diri sendiri menjalankan perintah partai, jika tidak demikian, akan menjadi sasaran penghancuran.

Sejumlah 20.000 umat Kristiani telah melakukan penyelidikan di antara 560.000 umat yang berada di rumah-rumah ibadah di 207 kota dan di 22 propinsi. Hasilnya ditemukan bahwa di antara 130.000 jemaat gereja berada dalam pengawasan negara. Pada tahun 1957, PKC telah membunuh lebih dari 11.000 penganut agama, dan yang mengalami penangkapan serta pemerasan uang lebih banyak lagi. Dengan membinasakan kelas tuan tanah, kelas kapitalis, menyiksa sejumlah besar pemuja Tuhan dan mentaatkan rakyat terhadap hukum, telah membersihkan jalan bagi Komunisme menjadi satu-satunya penguasa yang meliputi seluruh wilayah di Tiongkok.

IV. Anti Sayap Kanan – Pencucian Otak Nasional

Pada tahun 1956, sekelompok intelektual Hongaria membentuk Lingkaran Petofi (Petofi Circle) sebagai kritikan terhadap pemerintahan Hongaria dan mereka aktif berpartisipasi di berbagai forum dan perdebatan. Kelompok ini mencetuskan gerakan revolusi nasional Hongaria, yang akhirnya berhasil ditumpas oleh tentara Soviet. Mao Zedong segera mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Pada tahun 1957, Mao mengajak para intelektual Tiongkok dan kelompok non komunis untuk “Membantu PKC membenahi kinerja yang tidak baik.” Gerakan ini terkenal dengan slogan “Gerakan Ratusan Bunga” yang merupakan kependekan dari slogan “Biarkan seratus bunga bermekaran dan seratus aliran bersaing suara.” Tujuannya adalah membujuk “elemen-elemen anti komunis dalam masyarakat.” Dalam suratnya kepada pemimpin-pemimpin Partai Daerah pada tahun 1957, Mao Zedong mengutarakan maksudnya “membujuk ular keluar dari liangnya” dengan memberikan mereka kebebasan mengungkapkan pandangannya untuk membantu Partai Komunis memperbaiki diri.

Slogan-slogan yang ada saat itu sangat mendorong masyarakat untuk berbicara terbuka dan berjanji tidak akan ada pembalasan dendam – Partai Komunis ” tidak akan memotong kuncir rambut, tidak akan memukul dengan tongkat, tidak akan memberikan cap predikat negatif dan tidak akan pernah membuat perhitungan setelahnya.”[4] Namun pada akhirnya PKC melancarkan gerakan “Anti Sayap Kanan”, menyatakan 540,000 orang yang berani berbicara terbuka sebagai “sayap kanan.” Di antaranya 270.000 orang kehilangan jabatan di pemerintahan dan 230.000 digolongkan sebagai “sayap kanan tengah” atau “elemen anti sosialis.” Taktik yang digunakan Mao Zedong untuk memperdaya orang ada empat cara : (1) membujuk ular keluar dari liangnya ( mengelabui mereka yang beda pendapat untuk berbicara), (2) mengumpulkan kesalahan, serangan mendadak, satu kata menentukan Bumi Langit (menghukum orang tanpa prosedur yang sah), (3) Di depan umum berkata menyelamatkan orang, padahal sebenarnya menyerang orang tanpa ampun, (4) memaksa orang mengritik diri sendiri, hingga terperangkap.

Lalu “kata-kata reaksioner” apa yang menyebabkan begitu banyak sayap kanan dan anti komunis menjadi orang buangan selama 30 tahun di daerah-daerah pinggiran yang miskin? Sejak semula, ada tiga teori pokok anti revolusi yang menjadi sasaran serangan, secara umum dan intensif, dibuat berdasarkan pidato dari Luo Longji, Zhang Bojun dan Chu Anping.

Dilihat secara cermat tujuan dan saran-saran mereka sebenarnya adalah harapan yang cukup ramah.

Luo menyarankan agar membentuk komisi gabungan antara PKC dengan berbagai partai “demokrasi” untuk melakukan pemeriksaan terhadap penyimpangan dalam “Kampanye Tiga Anti” dan “Kampanye Lima Anti”, serta gerakan untuk membasmi pemberontakan. Dewan Negara seringkali menyerahkan laporan kepada Komite Konsultasi Politik dan Anggota Kongres untuk memeriksa dan memberikan komentarnya, sedangkan Zhang sendiri menyarankan Komite Konsultasi Politik dan anggota Kongres harus diikut sertakan dalam membuat keputusan.

Sedangkan pendapat Chu yaitu seseorang yang bukan anggota PKC akan tetapi mempunyai ide-ide cemerlang, menjunjung tinggi martabat dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, tidak perlu mendaftar menjadi anggota PKC untuk mengepalai setiap unit kerja, besar atau kecil, atau bahkan kelompok-kelompok yang berada di bawah unit kerja. Juga tidak perlu segala sesuatunya, baik mayor atau minor harus dikerjakan sesuai saran anggota PKC. Ketiga pendapat tersebut menggambarkan kesediaan mereka untuk mengikuti PKC dan tidak satu pun pendapat mereka melampaui garis batas, seperti perkataan seorang penulis dan kritikus terkenal Lu Xun (1881-1936), “Tuanku, jubah anda telah kotor. Mohon dilepas dan hamba akan mencucinya untuk Tuan.” Seperti halnya Lu Xun, perkataan mereka sepenuhnya menggambarkan kepatuhan, ketundukan dan penghormatan.

Tidak satu pun pendapat “sayap kanan” mengatakan PKC harus digulingkan, semua yang mereka sarankan adalah kritik yang membangun. Namun dengan arena pendapat-pendapat inilah, maka puluhan ribu masyarakat kehilangan kebebasannya. Selanjutnya ada beberapa gerakan tambahan yang dibuat oleh PKC seperti “menceritakan rahasia pribadi kepada PKC”, menggali keluar garis keras, gerakan “Tiga Anti Baru”, mengirim para intelektual ke pedalaman untuk kerja paksa, dan menangkap sayap kanan yang lolos di putaran pertama. Siapa pun yang tidak sepaham dengan pemimpin di tempat kerja akan diberi cap sebagai anti PKC . Mereka seringkali menjadi sasaran kritik bulan-bulanan PKC atau mengirim mereka ke kamp kerja paksa untuk mendidik ulang. Kadang kala partai memindahkan seluruh keluarga mereka ke daerah pedesaan, atau melarang anak-anak mereka sekolah di universitas atau bergabung dengan angkatan bersenjata. Mereka tidak boleh melamar pekerjaan di daerah mereka tinggal. Seluruh keluarga akan kehilangan jaminan pekerjaan dan tunjangan kesehatan. Mereka telah dimasukkan kedalam barisan petani dan menjadi orang buangan di antara warga negara kelas dua.

Setelah penganiayaan terhadap para intelektual, beberapa pelajar mempunyai dua kepribadian seperti menjadi rumput di atas tembok, bergerak mengikuti angin. Mereka mengikuti “Matahari Merah” dan menjadi “intelektual-intelektual kontrakan”, mengerjakan atau mengatakan apa pun yang diminta PKC. Beberapa diantaranya membuat jarak dari hal-hal yang politis. Intelektual-intelektual Tiongkok yang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap negara, menjadi diam tak bersuara.

 

 

[Komentar 4] Komunis Merupakan Kekuatan yang Menentang Alam

 

 

 

Sembilan Komentar mengenai Partai Komunis China

(Bagian 4 dari 9)

Komunis Merupakan Kekuatan yang Menentang Alam

Orang Tiongkok sangat menaruh perhatian pada “Dao” (Tao). Pada zaman dahulu seorang raja lalim dijuluki sebagai “Raja Dungu tanpa Dao”. Jika mengerjakan sesuatu pekerjaan tidak sesuai dengan standar moral yang telah diakui umum sebagai “tanpa prinsip”. Sampai-sampai petani yang memberontak pun mengeluarkan semacam spanduk besar yang bertuliskan “Mewakili langit melaksanakan Dao”. Lao Tze mengatakan hanya berdasarkan “Dao”-lah tercipta langit dan bumi.

Akan tetapi hampir seratus tahun ini, roh komunis menyerbu dengan dentuman yang keras, terbentuklah sebersit tenaga yang bertentangan dengan alam dan kemanusiaan, hingga terjadilah berbagai kesengsaraan dan tragedi, juga mendorong peradaban manusia ke jurang kehancuran. Roh komunis ini mengkhianati “Dao” dengan melakukan berbagai macam tindakan yang biadab, melawan langit dan bumi, hingga menjadi semacam kekuatan sangat jahat yang menentang alam semesta.

“Manusia mengikuti bumi, bumi mengikuti langit, langit mengikuti hukum Dao, Dao mengikuti hukum alam”. Sejak dahulu orang Tiongkok percaya dan mematuhi bahwa langit dan manusia menyatu, manusia menyatu dengan langit dan bumi, hidup saling bergantung. Aturan langit tidak berubah, mempunyai aturan peredaran, bumi mengikuti ketepatan waktu maka ada empat musim. Manusia menghormati langit dan bumi, berterima kasih dan menyayangi keberuntungan yaitu yang disebut sebagai “peluang, letak geografis yang menguntungkan, dukungan rakyat”. Dalam konsep pikiran masyarakat Tionghoa, astronomi, geografi, penanggalan, kedokteran, kesusastraan, sampai kepada struktur masyarakat, semuanya sejalan dengan pengertian ini.

Akan tetapi, komunis mempropagandakan bahwa “Manusia pasti akan menang melawan langit”. “Filsafat konflik” komunis meremehkan alam semesta. Mao Zedong berkata, “Berperang dengan langit asyiknya tak terhingga, berperang dengan bumi asyiknya tak terhingga, berperang dengan manusia asyiknya tak terhingga”. Mungkin komunis mendapatkan keasyikan yang sesungguhnya, akan tetapi rakyat telah membayar dengan pengorbanan pahit atas kegembiraan ini.

Saat ini Anda bisa mendownload video 9 Komentar mengenai Partai Komunis, silakan klik : Komunis Merupakan Kekuatan yang Menentang Alam.

I. Bertempur Melawan Masyarakat, Menghancurkan Kemanusiaan

Kebaikan dan kejahatan diputarbalikkan tanpa perikemanusiaan

Manusia, pertama-tama hidup menurut alamnya, kemudian baru menyesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat. “Pada awalnya, watak hakiki manusia adalah baik; semua orang mempunyai rasa belas kasih”. Penilaian orang terhadap benar atau salah, baik dan jahat, kebanyakan adalah bawaan lahiriah. Akan tetapi bagi Partai Komunis China (PKC), manusia itu seperti binatang atau bahkan seperti mesin. Apakah itu seorang kapitalis ataupun proletar, dari kacamata mereka semuanya adalah hanya materi.

Tujuan komunis ialah mengendalikan manusia, berangsur-angsur merubah manusia menjadi pemberontak yang revolusioner. Marx berkata, “Kekuatan materi harus dihancurkan dengan kekuatan materi.” Marx percaya bahwa sebuah teori, jika sudah menguasai massa, bisa dirubah menjadi kekuatan materi. Menurutnya, seluruh sejarah manusia tak lain adalah perubahan yang terus menerus dari sifat kemanusiaan, dan sifat kemanusiaan itu nyatanya adalah watak kelas. Marx beranggapan bahwa segala sesuatunya tidak ada yang disebut pembawaan sejak lahir. Semuanya dihasilkan dari lingkungan. Dia berpendapat bahwa umat manusia, secara keseluruhannya adalah “individu masyarakat”, dia tidak setuju dengan konsep “manusia alam”.

Lenin percaya bahwa teori dari Marx tidak mungkin bisa diterapkan secara wajar dalam kelas buruh, harus di indoktrinasi dari luar. Walaupun Lenin telah mencurahkan segala pikirannya, tetap tidak bisa membimbing para buruh merubah konfliknya yaitu dari konflik ekonomi menjadi konflik politik untuk merebut kekuasaan. Maka dari itu dia menaruh harapan pada “Teori refleks bersyarat”-nya Ivan Petrovich Pavlov yang meraih hadiah Nobel. Lenin percaya bahwa teori tersebut mempunyai arti yang sangat penting bagi kelas buruh di seluruh dunia. Lebih-lebih Trotsky berkhayal bahwa “Refleks Bersyarat” tidak hanya bisa merubah seseorang secara batiniah, tetapi juga secara fisik. Sama seperti anjing yang mengeluarkan air liurnya setelah mendengarkan bel makan siang berdering. Membuat tentara maju terus pantang mundur setelah mendengarkan suara pistol, rela mengorbankan jiwa untuk Partai Komunis.

Sejak dulu, orang yakin bahwa dengan giat bekerja bisa mendapatkan imbalan, melalui rajin bekerja membuat hidup serba berkecukupan yang didambakan oleh setiap insan. Sedangkan gemar makan malas bekerja, tidak bekerja tapi mendapatkan, dipandang sebagai tidak bermoral. Komunis sama seperti wabah menyebar ke seluruh negeri. Setelah masuk ke dalam masyarakat, PKC mendorong para preman dan pemalas untuk merampas tanah, dan membaginya. Tindakan semacam ini semuanya dilegalkan secara terang-terangan.

Semua orang mengerti orang yang lebih tua senang jika yang muda itu baik, sedangkan tidak menghormati orang yang lebih tua adalah kelakuan tidak baik. Di jaman dulu pendidikan kaum penganut Konfusius dibagi menjadi pendidikan tingkat atas dan tingkat dasar. Sebelum umur 15 tahun diberikan pendidikan dasar, isi pelajarannya adalah mengenai kesehatan, tingkah laku dan tutur kata. Setelah itu pendidikan tingkat atas dititikberatkan pada moral dan filsafat Konfusius. Akan tetapi komunis dalam gerakan kampanyenya mengritik Lin Biao dan Konfusius serta terhadap martabat guru, telah membuat standar moral tersebut terhapus seluruhnya dari benak generasi muda.

Orang zaman dahulu berkata: “Sekali menjadi guru saya, maka selama hidup saya akan menghormatinya sebagai ayah saya.” Apa yang kita saksikan di masa Tiongkok dikuasai oleh Partai Komunis?

Pada 5 Agustus 1966, di salah satu SMA wanita yang merupakan bagian dari Universitas Pendidikan Guru di Beijing, ada seorang guru bernama Bian Zhongyun. Oleh murid-murid wanitanya, dia dipaksa memakai topi tinggi, sekujur badannya disiram tinta, di arak keliling jalanan, dadanya digantungi kartu hitam, dipaksa berlutut, dipukul pakai kayu yang berpaku, disiram dengan air panas serta cara penganiayaan lainnya hingga menemui ajal.

Di salah satu SMA yang merupakan bagian Universitas Beijing, kepala sekolah wanitanya dipaksa oleh murid-murid menabuh ember rusak sambil berteriak “Saya adalah setan dan siluman”. Rambutnya digunting habis dengan seenaknya, kepalanya dipukul hingga berdarah, didorong jatuh dan merangkak di tanah.

Semua orang menyetujui bahwa bersih itu baik, sedangkan kotor itu tidak baik. Akan tetapi komunis mempropagandakan bahwa: Orang baik adalah orang yang “sekujur tubuh berlumpur, tangan menjadi kapalan”, atau “tangan berwarna hitam, di kaki ada tahi sapinya”. Cara berpikir orang semacam inilah yang disebut sebagai berpikiran merah, baru diperbolehkan sekolah di perguruan tinggi, jadi anggota partai, naik pangkat, menjadi penerus komunis yang merah.

Kemajuan umat manusia adalah kemajuan ilmu pengetahuan, akan tetapi di bawah kekuasaan komunis, ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang tidak baik. Para ilmuwan dijuluki sebagai “kaum intelektual busuk”, orang yang berkebudayaan harus belajar dari orang yang tak berbudaya, harus menerima didikan lagi dari petani miskin baru bisa memulai kehidupan baru. Demi terlaksananya pendidikan ulang bagi kaum intelektual, para guru dari Universitas Qinghua dikirim ke pulau Liyu di Nanchang, Propinsi Jiangxi. Daerah ini terkenal dengan cacing pengisap darahnya, bahkan kamp rehabilitasi yang semula berada di sana pun terpaksa pindah tempat. Begitu para guru dan dosen serta para intelektual menyentuh air sungai, segera terjangkit penjakit. Semuanya terjangkit cirrhosis hati, busung perut, banyak orang kehilangan kemampuan untuk bekerja.

Khmer Merah di Kamboja yang dihasut oleh Zhou Enlai, meningkatkan penindasan terhadap para ilmuwannya hingga mencapai puncak kesempurnaan. Perlu dilakukan pembentukan kembali bagi siapa pun yang mempunyai pemikiran mandiri, dengan cara pembasmian jiwa sampai pelenyapan jasmani. Dari tahun 1975 hingga 1978, seperempat dari jumlah penduduk Kamboja telah dibunuh. Ada orang yang tidak bisa terhindar dari pembunuhan ini hanya karena di pipinya terdapat bekas kaca mata.

Setelah kemenangan Khmer Merah pada 1975, Pol Pot mulai membangun impian sosialisme, yaitu “surga masyarakat sosialis” yang tidak mengenal adanya perbedaan kelas, tidak ada perbedaan antara kota dan desa, tidak ada mata uang, tidak ada transaksi perdagangan. Pada akhirnya keluarga juga bubar, dibentuk barisan pekerja laki-laki, barisan pekerja wanita. Semua dipaksa bekerja, makan bersama di kuali nasi besar, sama-sama memakai seragam revolusi berwarna hitam atau seragam militer. Suami istri hanya bisa berkumpul satu kali seminggu setelah mengantongi ijin.

Komunis mengatakan dirinya tidak takut dengan langit, tidak takut dengan bumi, berkhayal merubah jagat raya, padahal adalah mengingkari kekuatan dan unsur lurus alam semesta ini. Mao Zedong berkata: “Di setiap abad, berbagai bangsa melakukan bermacam-macam revolusi besar. Membersihkan yang lama, mengganti dengan yang baru, semua itu adalah perubahan besar bagai proses hidup dan mati, berhasil atau musnah. Pemusnahan alam pasti tidak berakhir pada pemusnahan saja, tidak diragukan bahwa disini musnah disana pasti jadi. Saya mengharapkan kemusnahan, sebab musnahnya alam semesta lama dapat diganti dengan alam semesta baru, yang mestinya adalah lebih baik dari alam semesta yang lama!”

Prinsip yang tepat dan layak adalah mengasihi antar sesama, suami istri, anak, ayah ibu, teman, sehingga antar sesama manusia terjalin hubungan yang normal dan terbentuklah masyarakat. Melalui bermacam-macam gerakan politik yang tak pernah berhenti, Partai Komunis China telah merubah manusia menjadi serigala. Bahkan buas dan kejamnya melebihi macan dan serigala. Sebuas-buasnya macan tidak akan memakan anaknya, tetapi di bawah kekuasaan PKC, ayah ibu, anak, suami istri saling membongkar, kasus memutuskan hubungan keluarga terjadi di mana-mana.

Pada tahun 1960-an pada sebuah sekolah dasar di Beijing, seorang guru wanita sewaktu mendiktekan kata-kata baru pada murid-muridnya secara tidak hati-hati meletakkan kata-kata “sosialisme” dan “runtuh” menjadi satu. Kejadian itu dibongkar oleh murid-muridnya. Setelah itu setiap hari dia dikritik dan diganyang, ditempeleng oleh yang laki-laki. Anak perempuannya memutus hubungan dengan ibunya, bagaikan rumput yang mengikuti arah angin politik, dia langsung membongkar ibunya di depan kelas tentang “arah perkembangan baru pertempuran dalam kelas” si ibu. Setelah itu selama bertahun-tahun pekerjaan si ibu guru tersebut adalah membersihkan toilet sekolah.

Mereka yang telah melewati masa Revolusi Kebudayaan tidak akan melupakan kisah Zhang Zhixin saat dipenjarakan. Polisi penjara tanpa perikemanusiaan telah berkali-kali menelanjanginya, tangan diborgol di belakang, dimasukkan ke ruang tahanan pria, dibiarkan diperkosa secara bergilir, yang akhirnya jiwanya terganggu. Meskipun demikian, sewaktu akan dieksekusi, kuatir dia meneriakkan slogan, algojo penjara langsung menekan kepalanya di atas batu bata, tanpa dibius tenggorokannya langsung digorok….

Meskipun penindasan terhadap Falun Gong terjadi baru beberapa tahun belakangan ini, PKC masih tetap menggunakan cara-cara lama yaitu membuat permusuhan dan menghasut terjadinya tindakan kekerasan.

Partai Komunis mengekang sifat hakiki manusia yang baik dan jujur, sebaliknya menghasut, membiarkan dan memanfaatkan sifat jahat manusia untuk memperkuat kekuasaannya. Gerakan yang bersifat jahat berkali-kali dilakukan, sehingga orang yang berhati nurani pun merasa ngeri akan kekerasan itu dan terbenam dalam kebungkaman. Komunis secara sistematik telah merusak hampir semua pengertian umum tentang moral yang ada di alam semesta ini. Konsep “tahu malu akan perbuatan jahat” yang telah dipertahankan manusia selama ribuan tahun telah sirna. Sebaliknya orang menjadi tidak tahu malu berbuat jahat.

 

 

[Komentar 5] Jiang Zemin berkolusi dengan PKC Menindas Falun Gong

 

 

 

Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis China

(Bagian 5 dari 9)

Jiang Zemin berkolusi dengan PKC menindas Falun Gong

Saat ini Anda bisa mendownload video 9 Komentar mengenai Partai Komunis, silakan klik : Jiang Zemin berkolusi dengan PKC menindas Falun Gong

Zhang Fuzhen, wanita berumur 38 tahun, semula adalah pekerja taman Xianhe di kota Pingdu, Kabupaten Shandong. Zhang pada November 2000 pergi ke Beijing membela Falun Gong dari tuduhan fitnah, dia lalu di tangkap. Ada saksi yang mengatakan, polisi menelanjangi Zhang dengan paksa, mencukur botak rambutnya, menyiksa, mempermalukan dia. Diikat di ranjang dengan posisi dua tangan dan kaki terbentang, buang air kecil dan besar pun dilakukan diranjang itu. Kemudian, polisi dengan paksa menyuntikkan sejenis racun yang sangat ganas, setelah disuntik, Zhang Fuzhen kesakitan hebat, ia terus meronta kesakitan dan akhirnya meninggal di atas ranjang. Seluruh proses kejadian tersebut disaksikan langsung oleh seluruh pejabat Kantor 610. [Berita Minghui.net 31 Mei 2004.]

Yang Lirong, wanita berusia 34 tahun, tinggal di Jalan Pintu Utara Kota Dingzhou wilayah Baoding Kabupaten Hebei, karena berkultivasi dan berlatih Falun Gong, keluarganya sering diteror dan diancam oleh polisi. Malam tanggal 8 Februari 2002, setelah didatangi polisi, sang suami yang bekerja sebagai supir di Biro Metrologi menjadi sangat ketakutan akan kehilangan pekerjaannya, dia merasakan tekanan yang tak tertahankan. Keesokan harinya, ketika kedua orang tuanya tak di rumah, ia mencekik leher istrinya, Yang Lirong yang malang pun mati mengenaskan, meninggalkan seorang anak berusia 10 tahun. Setelah kejadian, si suami melapor ke polisi, polisi datang ke TKP, membawa pergi tubuh korban yang masih hangat dan langsung mengotopsi. Ketika dilakukan otopsi, tubuh yang dibedah masih mengepulkan uap panas, darah segar mengucur deras. Seorang bagian keamanan kota Dingzhou mengatakan: “Ini bukanlah mengotopsi mayat, tetapi membedah tubuh orang yang masih hidup.” (Berita dari Minghui.net 22 September 2004)

Dalam kamp kerja paksa di Propinsi Hei Longjiang, seorang wanita yang sedang hamil sekitar 6 bulan, dengan kedua tangannya terikat dia digantung ditiang penyangga bangunan, lalu kursi penopang kaki di tendang menjauh, sehingga seluruh tubuh jadi berdiri tergantung. Tiang penyangga bangunan tingginya tiga meter di atas tanah, simpul tali yang satu diikat di bulatan balok di atas tengah bangunan, simpul satunya lagi di tangan sipir penjara. Begitu tali ditarik, orang yang terikat langsung mengayun di udara, jika dikendurkan dia jatuh melorot ke bawah dengan cepat. Begitulah si wanita hamil ini terus disiksa dalam penderitaan yang hebat, hingga mengakibatkan keguguran. Yang lebih keji adalah, polisi menyuruh suami korban menyaksikan eksekusi biadab terhadap istrinya. (Berita dari Minghui.net 15 Nopember 2004, berdasarkan wawancara dengan praktisi Falun Gong Wang Yuzhi yang disiksa secara kejam dan di kurung di kamp kerja selama 100 hari lebih).

Contoh kasus mengerikan yang menyayat hati seperti itu, terjadi di Tiongkok masa kini, dialami oleh praktisi Falun Gong yang ditangkap dan dianiaya. Hal-hal yang disebutkan diatas tadi hanyalah sekelumit dari sekian banyak penyiksaan keji sejak terjadinya penindasan terhadap Falun Gong yang sudah berjalan 5 tahun lebih dan masih berlangsung hingga hari ini.

Setelah masa reformasi dan keterbukaan, Partai Komunis China (PKC) berusaha memperbaiki citra dengan menampilkan wajah positif dan terbuka terhadap dunia luar, tetapi masalah penindasan berdarah terhadap komunitas kultivator Falun Gong sangat irasional. Area penindasan sedemikian luas, tingkat penindasan sedemikian tinggi, cara yang digunakan teramat kejam dan keji. Sekali lagi masyarakat dunia dapat melihat wajah asli dari PKC, menambah aib citra buruk PKC yang memang mempunyai reputasi buruk dalam bidang HAM. Disaat orang-orang yang sudah terbiasa melemparkan tanggung jawabnya kepada polisi bermutu rendah, mengira PKC sedang dalam tahap pembenahan diri yang diartikan sebagai kemajuan, maka penindasan keji terhadap Falun Gong yang dilakukan secara vertikal dan sistimatis di semua pelosok di Tiongkok, secara tuntas membuyarkan angan-angan mereka. Banyak orang berpikir mengapa penindasan berdarah yang sangat irasional seperti ini dapat terjadi di Tiongkok ? Mengapa baru saja “membuat kekacauan” dengan Revolusi Kebudayaan 20 tahun yang lalu, kini jatuh lagi ke dalam lingkaran setan perjalanan sejarah bangsanya ? Mengapa ajaran “Sejati-Baik-Sabar” yang dapat berkembang pesat di lebih dari 60 negara di seluruh dunia, hanya di Tiongkok saja yang mengalami penindasan ? Di tengah penindasan ini, apa sebenarnya hubungan antara Jiang Zemin dengan PKC ?

Jika saja tidak ada PKC – mesin penggerak kekerasan yang spesialisasinya adalah membunuh dan berbohong sebagai alat bantunya, maka tidak mungkin seorang seperti Jiang Zemin yang tidak berbudi dan tanpa kemampuan itu dapat menggerakkan sebuah tindakan keji genosida yang melanda seluruh bumi Tiongkok dan bahkan melebar ke seluruh dunia. Bagi PKC, disaat Tiongkok membuka diri dan masuk dalam era globalisasi, jika tidak ada Jiang Zemin diktator keji yang bertindak semaunya, tak mau mendengar pendapat orang lain, maka PKC akan sulit bergerak menantang arus sejarah. Demikianlah Jiang dan PKC saling berkolusi. Bagaikan suara teriakan seorang pendaki gunung es dan gumpalan salju yang bergetar bersama-sama, menimbulkan malapetaka longsor yang lebih dahsyat, Jiang dan PKC saling menarik keuntungan dengan penindasan yang tingkat kekejamannya tiada tandingan dalam sejarah peradaban manusia.

I. Sejarah Pendirian Yang Sama Menimbulkan Rasa Krisis Yang Sama

Jiang Zemin lahir di tahun 1926, sama seperti PKC yang selalu menyembunyikan sejarah kelahirannya terhadap rakyat, Jiang Zemin juga berbohong terhadap PKC dan rakyat perihal sejarah penghianatan dirinya terhadap negara.

Ketika Jiang Zemin berumur 17 tahun, pertempuran anti fasis berkobar di berbagai negera. Di saat para pemuda patriotik berduyun-duyun maju ke medan perang melawan Jepang, Jiang malah memilih menekuni pendidikan tinggi di sebuah Perguruan Tinggi Sentral gadungan yang didirikan di Nanjing tahun 1942 oleh pemerintahan gadungan Wang Jingwei. Berdasarkan penyelidikan, ini disebabkan ayah kandung Jiang yaitu Jiang Shijun di masa pendudukan Jepang di daerah Jiangsu adalah pejabat tinggi di sebuah Badan Intelijen Jepang yang memata-matai bangsanya sendiri, ayah Jiang adalah seorang pengkhianat Tiongkok tulen.

Seperti halnya PKC, Jiang bukan hanya piawai dalam menjual dan mengkhianati negara, mereka sama-sama tidak cinta rakyat, bahkan boleh membunuh sesuka hati mereka.

Saat PKC menang dalam pertempuran dalam negeri, Jiang Zemin berusaha masuk ke dalam PKC mencari kekayaan, berbohong bahwa ia sebenarnya telah diangkat anak oleh pamannya Jiang Shangqing – anggota PKC yang meninggal dibunuh penjahat. Adanya hubungan ini membuat karir Jiang menanjak pesat dalam waktu singkat, dari pejabat menengah menjadi Wakil Kepala Departemen Industri Elektronik. Ditilik dengan seksama, Jiang melesat karena nepotisme dan kepandainya menjilat. Ketika menjabat Sekjen PKC Distrik Shanghai, dengan semangat menjilat yang luar biasa, Jiang mendekati Li Xiannian, Chen Yun dan para sesepuh partai yang setiap tahun datang ke Shanghai merayakan Imlek. Sang Sekjen partai Distrik Shanghai ini pernah berdiri berjam-jam lamanya di tengah dinginnya salju, hanya untuk mempersembahkan sepotong kue tar ulang tahun kepada Li Xiannian.

Peristiwa pembunuhan mahasiswa di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989 merupakan titik balik lain dalam karir politik Jiang Zemin. Dengan mengandalkan kekuasaan politik, membreidel Koran Berita Ekonomi Dunia yang terkenal vokal, mengenakan tahanan rumah kepada Ketua DPR Wanli dan mendukung penindasan berdarah terhadap mahasiswa pada tanggal 4 juni 1989, semua ini mengantar Jiang menuju tampuk tertinggi menjabat Sekjen PKC. Jauh sebelum peristiwa 4 Juni 1989, Jiang telah menulis surat rahasia kepada Deng Xiaoping, meminta Deng bersikap tegas dan keras, alasannya jika tidak demikian, niscaya “PKC dan negara Tiongkok akan hancur”. Selama 15 tahun, Jiang dengan mengatas namakan “kestabilan adalah segalanya”, menindas keras semua oposan dan kelompok rohaniawan.

Saat Tiongkok dan Soviet mengadakan survei perbatasan kedua negara pada tahun 1991, Jiang Zemin mengakui penjajahan yang pernah dilakukan oleh dinasti Tsar dan bekas Uni Soviet, menerima syarat-syarat berat sebelah yang diajukan pihak Rusia dalam perjanjian AI HUI, bersedia menyerahkan lebih dari 1 juta km persegi tanah negara Tiongkok kepada mereka.

Biografi Jiang Zemin memanipulasi dirinya sebagai anak seorang pahlawan kemerdekaan, adalah contoh nyata kebiasaan berbohong Partai Komunis. Mendukung penindasan berdarah 4 Juni 1989 di Lapangan Tiananmen, menindas pergerakan ormas dan kelompok kepercayaan, itu adalah contoh nyata kebiasaan PKC membunuh. PKC yang pada awal pendiriannya adalah cabang Partai Komunis Internasional di Divisi Timur Jauh, terbiasa didikte oleh Uni Soviet. Jiang Zemin tanpa syarat menyerahkan 1 juta km persegi tanah negara, adalah contoh nyata kebiasaan komunis “menjual diri”.

Jiang Zemin dan PKC mempunyai kesamaan latar belakang sejarah yang tidak terpuji, hal ini menyebabkan rasa tidak aman terhadap kekuasaan yang mereka genggam di tangan.

II. Jiang Zemin dan PKC Sama-sama Takut Terhadap “Sejati – Baik – Sabar

Sejarah pergerakan Partai Komunis Internasional ditulis dengan darah ratusan juta jiwa manusia. Setiap negara komunis menerapkan gaya Stalinisme yang nyaris sama dalam memberantas pemberontakan, membunuh jutaan bahkan puluhan juta jiwa yang tak berdosa. Di tahun 1990-an, Uni Soviet tercerai berai, negara Eropa Timur berubah bentuk, hanya dalam satu malam, blok komunis telah kehilangan setengah kubunya. Pelajaran yang didapat oleh PKC dari peristiwa ini adalah, menghentikan penindasan, membuka lebar kebebasan berpendapat, yang berarti menuju kebinasaan diri sendiri. Jikalau kebebasan berpendapat dibuka lebar, bagaimana cara menyembunyikan kekerasan? Bagaimana menutup kebohongan ideologi? Jika menghentikan penindasan, bukankah rakyat tidak terancam teror lagi, sehingga bebas dan berani memilih bentuk kehidupan dan kepercayaan selain komunisme? Bukankah itu berarti akan kehilangan fondasi masyarakat tempat PKC berpijak untuk hidup?

Bagaimanapun PKC mengubah penampilan luarnya, secara dasar ia adalah tetap sama. Oleh karena itu kalau bohong kepada rakyat harus berbohong sampai tuntas, menindas rakyat juga harus sampai tuntas. Itulah kesimpulan Jiang Zemin yang dilandasi oleh rasa ketakutan yang memuncak setelah penindasan mahasiswa di Lapangan Tiananmen. Seterusnya dia berteriak: “Basmi segala unsur ketidak-stabilan selagi masih embrio”.

Saat ini, di Tiongkok muncul Falun Gong. Walaupun Falun Gong pada awal kemunculannya dikenal orang sebagai qigong – suatu metode pelatihan tubuh untuk menyembuhkan penyakit, namun orang mulai memperhatikan inti ajaran Falun Gong yang bukan hanya terbatas pada lima perangkat latihan gerakan tubuh, namun juga ajaran “Sejati-Baik-Sabar” yang dapat menuntun orang menjadi orang yang baik.

Falun Gong Berbicara Tentang “Sejati – Baik – Sabar”, PKC Berbicara Tentang “Dusta – Jahat – Tempur”.

Falun Gong memprakasai “Sejati”, meliputi berkata secara jujur, berbuat secara baik. Namun PKC selalu mengandalkan pencucian otak dan berbohong. Jika setiap orang berbicara secara jujur, masyarakat luas akan mengetahui bahwa ternyata PKC tumbuh dengan mengandalkan dan berpihak kepada Uni Soviet, membunuh orang, menculik, melarikan diri, menanam candu, pura-pura melawan Jepang. PKC mengatakan, tidak ada yang bisa dicapai tanpa berbohong. Setelah membentuk kekuasaan, PKC terus menerus mengadakan gerakan politik dan bermacam pergolakan yang berlumuran darah. Tentu saja ini merupakan hutang yang harus dibayar dan kiamat pun menjelang didepan mata.

Falun Gong berpedoman kepada “Baik”, meliputi mendahulukan kepentingan orang lain jika menemui masalah dan berbuat baik untuk orang lain. PKC menganjurkan “berperang dengan kejam”, “menghajar tanpa perasaan”. Pahlawan PKC Lei Feng berkata “Hadapi musuh tanpa perasaan, bagai dinginnya musim dingin”. Sesungguhnya tidak hanya terhadap musuh, kepada orang sendiri pun ia sangat kejam. Para sesepuh jenderal yang berjasa kepada negara, bahkan kepala negara pun mengalami hal serupa, dipermalukan dimuka umum, dipukul bahkan dihukum berat. Bagi yang dianggap “musuh kelas” nasibnya lebih tragis lagi. Jika unsur “Baik” mendapat hati ditengah masyarakat, maka kekuasaan lalim dan gerakan massa yang berdasarkan “kejahatan” tidak bisa muncul.

Manifesto Komunis menyatakan: “Hingga kini semua sejarah masyarakat adalah sejarah pertentangan kelas”. Ini mewakili konsep sejarah dan konsep universal PKC. Falun Gong menganjurkan agar mencari permasalahan pada diri sendiri jika timbul konflik. Konsep senantiasa introspeksi diri yang diterapkan Falun Gong jelas-jelas bertentangan dengan filosofi komunis yang bertarung keluar.

Pertarungan adalah cara utama komunis memperoleh dan mempertahankan eksistensinya. Mengobarkan pergerakan politik secara berkala untuk menghukum orang adalah mengisi energi baru bagi dirinya, “menyalakan semangat perlawanan revolusioner.” Proses kekerasan dan kebohongan yang berulang untuk mendewasakan diri dan membuat takut masyarakat serta mempertahankan kekuasaannya. Dari sudut pandang ideologi, “filosofi” tumpangan hidup Partai Komunis sudah tentu bertolak belakang dengan ajaran Falun Gong.

 

 

[Komentar 6] Partai Komunis Merusak Kebudayaan Bangsa

 

 

 

Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis

(Bagian 6 dari 9)

Partai Komunis Merusak Kebudayaan Bangsa

Saat ini Anda bisa mendownload video 9 Komentar mengenai Partai Komunis, silakan klik : Partai Komunis Merusak Kebudayaan Bangsa

Segala sesuatu dari Partai Komunis China (PKC) adalah demi kepentingan politiknya untuk dapat meraih, melindungi dan memperkokoh kekuasaan zalimnya. PKC telah menggantikan watak manusia dengan watak partai yang jahat, menggantikan kebudayaan tradisional dengan kebudayaan partai yang “palsu-jahat-agresif”.

Kebudayaan adalah sukma dari suatu bangsa, adalah unsur spiritual yang sama pentingnya dengan unsur-unsur materi seperti ras dan tanah.

Sejarah peradaban suatu bangsa adalah sejarah perkembangan kebudayaan dari bangsa tersebut, perusakan secara menyeluruh atas budaya bangsa menandakan musnahnya suatu bangsa. Bangsa-bangsa kuno yang menciptakan peradaban gemilang dalam sejarah umat manusia, mungkin ras mereka beruntung masih tetap eksis, tetapi bangsa mereka telah sirna seiring lenyapnya kebudayaan tradisional mereka. Sama halnya seperti sekarang orang-orang tidak akan menyamakan penduduk asli di benua Amerika Latin dengan bangsa Maya kuno. Sedangkan Tiongkok sebagai negara satu-satunya di dunia yang mewariskan secara berkelanjutan peradaban kuno selama 5000 tahun, perusakan terhadap kebudayaannya lebih-lebih merupakan sejenis perbuatan dosa yang amat besar.

“Pan Gu menciptakan langit dan bumi”, “Nuwa menciptakan manusia”, “Shen Nong menciptakan aneka tumbuhan”, “Cang Ji menciptakan huruf”, semua ini telah mengukuhkan awal mula kebudayaan warisan Dewa. “Manusia mengikuti bumi, bumi mengikuti langit, langit mengikuti Tao (jalan kebenaran), Tao menuruti alam”, doktrin aliran Tao yang menyatukan langit dan manusia telah meresap kedalam sendi-sendi kebudayaan Tionghoa. “Inti pelajaran di sekolah tinggi, utamanya pada pembinaan akhlak”, Konghucu pada dua ribu tahun lalu mendirikan balai pendidikan mengajar murid, mengajarkan kepada masyarakat “kebajikan-persaudaraan-kesopanan-kebijaksanaan-keyakinan” yang mewakili doktrin aliran Konghucu. Pada abad pertama, Dharma Buddha Sakyamuni yang berupa “penyelamatan secara universal dengan belas kasih” disebarkan ke Timur, telah lebih memperkaya kebudayaan Tionghoa. Doktrin Konghucu, Buddha dan Tao, tiga aliran ini saling berefleksi menyatu, menciptakan masa jaya dinasti Tang yang gilang gemilang sebagai goresan sejarah dalam dunia.

Meskipun kebudayaan bangsa Tionghoa pernah mengalami banyak sekali perusakan dan pukulan dalam sejarah, kebudayaan tradisional Tionghoa senantiasa menampakkan daya peleburan dan daya vitalitas yang amat besar, inti sarinya tetap diwariskan temurun. “Langit dan manusia menyatu” mewakili pandangan nenek moyang bangsa Tionghoa terhadap alam semesta. “Perbuatan baik dan jahat pasti ada balasannya” merupakan pengetahuan umum di tengah masyarakat. “Sesuatu yang diri sendiri tidak menghendaki, jangan dilakukan kepada orang lain” adalah dasar moral kebaikan sebagai seorang manusia. “Setia – berbakti – berbudi luhur – persaudaraan” adalah standar hidup bagi seseorang. “Kebajikan – persaudaraan – kesopanan – kebijaksanaan-keyakinan” adalah sebagai fondasi moral untuk menstandarisasi manusia dan masyarakat. Dengan prasyarat tersebut, kebudayaan Tionghoa telah menampakkan ketulusan, kebaikan, keharmonisan, toleransi dan ciri khas baik lainnya. Ritual pemujaan yang dilakukan rakyat kebanyakan, mencerminkan kandungan makna kebudayaan yang tertanam berurat dan berakar, antara lain berupa penghormatan terhadap Dewa (langit dan bumi), kesetiaan terhadap negara, perhatian terhadap hubungan keluarga, dan penghargaan terhadap guru. Kebudayaan tradisional Tionghoa mendambakan keharmonisan langit dan manusia, menitik-beratkan penyempurnaan batin individu, dengan keyakinan kultivasi dari doktrin Konghucu-Buddha-Tao sebagai akar, sehingga dapat merangkum segalanya dan dapat berkembang, dapat mempertahankan moralitas di dunia, dapat membuat manusia memiliki keyakinan tulus.

Perbedaan pengekangan kebudayaan dengan pengekangan secara peraturan adalah pengekangan kebudayaan bersifat lembut. Peraturan menitik-beratkan pada hukuman setelah berbuat kesalahan, sedangkan pendidikan moral dari kebudayaan memerankan fungsi untuk mencegah tindakan kejahatan. Nilai-nilai moralitas dari suatu masyarakat acapkali tercermin melalui kebudayaannya.

Dalam sejarah Tiongkok, masa dinasti Tang di mana kebudayaan tradisional mencapai puncak kejayaan, justru adalah masa puncak kejayaan dari kekuatan negara Tiongkok. Ketika itu dari benua Eropa, Timur Tengah, Jepang dan tempat lainnya mengutus orang belajar ke Chang-An (ibu kota). Negara tetangga juga menjadikan Tiongkok sebagai negara induk, mereka berdatangan memberikan persembahan. Setelah dinasti Qin, Tiongkok seringkali diduduki oleh bangsa minoritas, termasuk masa-masa dinasti Xui, Tang, Yuan dan Qing, tetapi mereka hampir semuanya diasimilasi oleh budaya Han (Tiongkok asli). Ini tidak dapat dikatakan bukan disebabkan oleh kekuatan asimilasi yang raksasa dari kebudayaan tradisional, persis seperti yang dikatakan oleh Konghucu: “Jika orang dari jauh tidak mau patuh, dekatilah mereka dengan kebudayaan dan akhlak”.

Semenjak tahun 1949 Partai Komunis China (PKC) merebut kekuasaan, maka mulailah mendayagunakan seluruh kekuatan negara untuk merusak kebudayaan bangsa Tionghoa. Ini mutlak bukan perbuatan bodoh yang dilakukan karena timbulnya fanatisme pada industrialisasi, atau keinginannya untuk mendekatkan diri pada peradaban Barat, melainkan bentuk pemikirannya yang bertolak belakang dengan kebudayaan tradisional. Oleh karena itu perusakan kebudayaan yang mereka lakukan sudah pasti terorganisir, berencana dan sistimatis, lagipula dengan menggunakan kekerasan dari kekuatan negara sebagai beking. Sejak pendirian partai hingga sekarang, “revolusi” PKC terhadap kebudayaan Tionghoa tidak pernah berhenti, dan mereka betul-betul mencoba secara menyeluruh “menyembelih” kebudayaan Tionghoa.

Yang lebih parah lagi, PKC terus menggunakan cara-cara curang dalam menghadapi kebudayaan tradisional. Mereka mengembangkan praktek-praktek pergulatan dalam istana raja, konspirasi meraih kekuasaan, penerapan kediktatoran, dan lain-lain, yang kesemuanya muncul setelah orang-orang menyimpang dari kebudayaan tradisional. Kemudian menciptakan seperangkat teori milik mereka yang menyangkut standar penilaian baik dan buruk, cara pemikiran dan sistem pembicaraan, dan juga agar orang-orang menganggap “kebudayaan partai” semacam ini barulah merupakan warisan kebudayaan tradisional. Bahkan memanfaatkan antipati orang-orang terhadap “kebudayaan partai”, untuk lebih lanjut membuat seseorang mencampakkan kebudayaan tradisional Tionghoa yang sesungguhnya.

Ini telah menimbulkan akibat yang membawa malapetaka bagi Tiongkok. Bukan saja membuat hati seseorang kehilangan ikatan nilai-nilai moral, bahkan secara paksa PKC telah mengindoktrinasionalkan ajaran-ajaran jahatnya.

I. Mengapa Partai Komunis Ingin Merusak Kebudayaan Bangsa

Kebudayaan Tionghoa bersejarah amat panjang, dengan keyakinan sebagai pokok, moralitas sebagai yang dihormati

Kebudayaan orang Tionghoa yang sebenarnya diawali oleh Huang-Di sejak lima ribu tahun silam, oleh sebab itu Huang-Di disebut sebagai “leluhur awal budaya manusia”. Sesungguhnya Huang-Di juga adalah pendiri doktrin aliran Tao Tiongkok. Doktrin Konghucu sangat dipengaruhi oleh aliran Tao, kitab “Zhou-Yi” yang mengurai tentang langit dan bumi, Yin-Yang, alam semesta, masyarakat dan hukum kehidupan manusia, oleh aliran Konghucu disanjung sebagai “induk dari aneka kitab”. Ilmu prediksi yang terdapat di antaranya bahkan ilmu pengetahuan modern juga sulit melacak apa dasar perhitungannya. Doktrin aliran Buddha, terutama doktrin sub-aliran Zen, telah membawa pengaruh secara halus yang tak terasa bagi para cendekiawan.

Doktrin aliran Konghucu adalah bagian “tingkat duniawi” dari kebudayaan tradisional Tionghoa, mengutamakan norma-norma hubungan keluarga. Di antaranya ajaran “berbakti” telah menduduki porsi yang sangat besar, dengan ungkapan “segala kebajikan diawali dengan berbakti”, Konghucu memprakarsai kebajikan, persaudaraan, kesopanan, kebijaksanaan dan keyakinan.

Norma-norma hubungan keluarga dapat secara alami diperluas menjadi norma-norma masyarakat. “Berbakti” dijulurkan ke atas menjadi “kesetiaan pejabat terhadap penguasa”, “hormat terhadap yang lebih tua” adalah hubungan antara saudara dalam keluarga, dapat diperluas menjadi “persaudaraan” sesama teman. Aliran Konghucu mengajarkan kasih sayang orang tua, bakti anak terhadap orang tua, persahabatan antara saudara, penghormatan adik terhadap kakak, di antaranya “kasih sayang dapat dijulurkan ke bawah menjadi “kebajikan” penguasa terhadap pejabat.” Asalkan adat istiadat dalam rumpun keluarga dipertahankan, maka norma-norma masyarakat dengan sendirinya juga dapat dilestarikan, ini adalah “membina watak pribadi, menyempurnakan keluarga, memerintah negara dan menentramkan dunia”.

Doktrin aliran Buddha dan aliran Tao adalah bagian “luar duniawi” dalam kebudayaan tradisional Tionghoa. Pengaruh Buddha dan Tao terhadap kehidupan masyarakat umum boleh dikatakan tersebar di mana-mana. Ilmu-ilmu pengobatan Tiongkok kuno, qigong, Hongsui, ramal-meramal yang berakar mula dari doktrin aliran Tao, bersama kepercayaan adanya surga dan neraka, perbuatan baik dan jahat pasti ada balasannya, yang berasal dari doktrin aliran Buddha, serta norma-norma dari aliran Konghucu, semua ini telah membentuk inti kebudayaan tradisional Tionghoa.

Keyakinan dari tiga macam aliran Konghucu, Buddha dan Tao telah membangun seperangkat sistem moralitas yang amat kokoh bagi orang-orang Tionghoa, yang disebut “langit tidak berubah, Tao niscaya tidak berubah”. Perangkat sistem moralitas ini adalah fondasi yang berfungsi sebagai sandaran bagi masyarakat untuk tetap eksis, stabil dan harmonis.

Moralitas yang termasuk dalam lingkup spiritual sering kali bersifat abstrak, sedangkan suatu fungsi penting dari kebudayaan, adalah untuk menyampaikan sistem moralitas tersebut secara populer.

Dengan mengambil empat karya budaya besar berikut sebagai contoh. “Xi You Ji” (Kisah Perjalanan Ke Barat, lebih dikenal dengan legenda Kera Sakti) yang memang adalah cerita dongeng; “Hong Lou Mung” (Impian Balkon Merah) yang pada awalnya juga dijelujuri unsur-unsur dongeng; “Shui Fu Zhuan” (Kisah Para Pahlawan dari Gunung Liang) yang mengisahkan asal usul 108 pendekar; “Shan Guo Yan Yi” (Cerita Tiga Negara atau Sam Kok) yang dimulai dengan peringatan bencana alam, dan diakhiri dengan “peristiwa di dunia tak pernah ada habisnya, apa yang menjadi takdir tak akan terloloskan”.

Semua ini mutlak bukan merupakan kebetulan yang mengilhami sang penulis, melainkan adalah pandangan dasar dari kaum intelektual Tiongkok saat itu terhadap alam semesta dan kehidupan manusia. Hasil karya kebudayaan mereka membawa pengaruh yang sangat dalam bagi generasi berikutnya. Sehingga orang Tionghoa sekali membicarakan tentang “persaudaraan”, yang terpikir tidak hanya berupa sebuah konsep, melainkan berbagai kisah dan tokoh yang berkaitan dengan hal ini. Seperti Guan-Yu sang tokoh dalam cerita Samkok yang menjunjung tinggi persaudaraan dalam situasi apa pun, serta kisah-kisah perjalanannya; saat berbicara tentang “kesetiaan”, dengan sendirinya akan terpikir tentang kisah Yue Fei yang setia pada negara dengan sepenuh hati, serta Zhu Ge Liang dalam cerita Sam Kok yang membaktikan segenap jiwa raganya hingga akhir hayat, dan lain-lain.

Pujian terhadap “kesetiaan” di dalam nilai-nilai tradisional, melalui karya kaum intelektual yang berupa kisah-kisah menarik diperlihatkan secara gamblang di depan para pembaca. Dengan demikian, ajaran moralitas yang abstrak, telah dibuat menjadi konkret dan berbentuk melalui cara-cara kebudayaan.

Aliran Tao berbicara tentang “sejati”, aliran Buddha berbicara tentang “kebajikan”, aliran Konghucu berbicara tentang “kesetiaan dan pengampunan”. Walaupun bentuk luarnya berbeda, namun pemahaman dari sisi dalamnya sama, tak lain adalah merujuk pada kebaikan. Ini baru merupakan letak basis yang paling berharga dari kebudayaan tradisional yang berakar pada keyakinan “Konghucu, Buddha dan Tao”.

Dalam kebudayaan tradisional menjelujur unsur-unsur “langit, Tao, Dewa, Buddha, nasib, takdir, kebajikan, persaudaraan, kesopanan, kebijaksanaan, keyakinan, kejujuran, rasa tahu malu, kesetiaan, rasa bakti, keluhuran jiwa” dan lain-lain. Banyak orang mungkin seumur hidup buta huruf, namun mereka sangat akrab di telinga bahkan ingat sekali terhadap drama dan jalan cerita tradisional. Bentuk-bentuk kebudayaan yang demikian adalah jalur penting bagi kalangan rakyat untuk memperoleh nilai-nilai tradisional. Maka perusakan PKC terhadap kebudayaan tradisional adalah secara langsung merusak moralitas Tiongkok, juga adalah merusak fondasi kestabilan dan kedamaian masyarakat.

 

 

[Komentar 7] Mengomentari Sejarah Pembunuhan dari PKC

 

 

Sembilan Komentar mengenai Partai Komunis China

(Bagian 7 dari 9)

Mengomentari Sejarah Pembunuhan dari PKC

Saat ini Anda bisa mendownload video 9 Komentar mengenai Partai Komunis, silakan klik : Mengomentari Sejarah Pembunuhan dari PKC.

Sejarah pemerintahan yang didirikan oleh Partai Komunis China selama 55 tahun adalah sejarah yang ditulis dengan darah segar dan kebohongan. Cerita-cerita yang di balik darah segar itu tidak hanya sangat mengerikan bagi dunia manusia, juga jarang diketahui oleh orang. Sekarang, setelah pengorbanan nyawa sebanyak 60-80 juta rakyat Tiongkok yang tidak bersalah serta kehancuran keluarga yang lebih banyak lagi, orang masih berpikir: Mengapa Partai Komunis China (PKC) membunuh orang?

Hingga hari ini Komunis Tiongkok masih membunuh pengikut Falun Gong, bahkan di awal bulan Nopember 2004, terjadi penembakan yang merupakan penindasan terhadap masyarakat yang sedang mengajukan protes, membuat orang kembali berpikir: Apakah pada suatu hari Komunis Tiongkok bisa berhenti membunuh orang, belajar berbicara dengan mulut, bukan dengan senapan?

Mao Zedong ketika membuat kesimpulan tentang Revolusi Kebudayaan mengatakan : “Terjadinya kekacauan di dunia, membuat dunia sangat tenteram, setelah lewat 7-8 tahun ulangi lagi.” Jabarannya adalah setelah 7-8 tahun melakukan aksi lagi, 7-8 tahun membunuh sekelompok orang lagi.

Partai Komunis mempunyai landasan teori dan keperluan realitas dalam membunuh orang. Berdasarkan teori, Partai Komunis menganut dan menjunjung teori “diktator proletariat” dan “di bawah diktator proletariat tidak hentinya mengadakan revolusi”. Maka setelah mendirikan pemerintahan, PKC “membunuh tuan tanah” untuk mengatasi masalah hubungan produksi di pedesaan; “membunuh kelas kapitalis” untuk menyelesaikan perombakan perusahaan industri dan perdagangan swasta, mengatasi hubungan produksi di kota. Setelah golongan kedua kelas tersebut dihabisi, masalah dasar ekonomi secara keseluruhan sudah terselesaikan. Penyelesaian masalah kelas menengah ke atas (kalangan intelektual) juga mengandalkan pembunuhan, termasuk menindas kelompok anti partai Hu Feng dan anti golongan kanan demi membenahi kaum intelektual. Membunuh perkumpulan keyakinan yang dianggap takhayul untuk menyelesaikan masalah agama, membunuh orang di saat Revolusi Kebudayaan untuk menyelesaikan hak absolut partai memimpin bidang politik dan kebudayaan. Membunuh orang pada peristiwa 4 Juni di lapangan Tiananmen adalah untuk menghindari krisis politik, menyelesaikan masalah tuntutan demokratis. Melakukan penindasan Falun Gong untuk menyelesaikan masalah kepercayaan dan olahraga jasmani, dan lain-lain. Semuanya ini merupakan proses PKC dalam rangka memperkuat kedudukannya, mempertahankan kekuasaannya, sebagai reaksi yang tak terelakkan atas aksi-aksinya mengatasi krisis berkepanjangan. Dimulai dari krisis ekonomi (harga-harga meroket sejak berdirinya pemerintahan, ekonomi yang nyaris hancur setelah Revolusi Kebudayaan), krisis politik (pembangkangan dan perebutan kekuasaan politik dalam partai), krisis kepercayaan (runtuhnya Uni Soviet dan perubahan drastis di Eropa Timur, isu Falun Gong). Terkecuali isu Falun Gong, semua gerakan politik yang disebut di depan, hampir semuanya adalah untuk menghidupkan roh jahat PKC, sebagai proses membangkitkan semangat revolusi, juga sebagai upaya pembersihan tubuh organisasi partai, bagi anggota partai yang tidak memenuhi persyaratan akan tersisih keluar.

Bersamaan itu, pembunuhan orang juga bertolak dari keperluan realitas Partai komunis. Kala itu PKC didirikan dengan mengandalkan berandalan dan pembunuh. Sekali pembunuhan dimulai, mutlak tidak bisa berhenti di tengah jalan, malah harus terus menerus menciptakan teror, agar rakyat gentar berhadapan dengan lawan yang sangat kuat dan hanya bisa menerima kenyataan, tunduk pada yang berkuasa.

Dilihat dari permukaan, PKC seringkali membunuh secara pasif. Sepertinya suatu peristiwa dalam masyarakat terjadi dengan kebetulan dan secara kebetulan pula mencetuskan roh jahat PKC dan mekanisme eksekusi organisasi PKC. Padahal, tindakan membunuh secara berkala yang tersembunyi di belakang kebetulan adalah suatu keharusan bagi PKC, karena jika tidak, maka “setelah luka sembuh akan lupa rasa nyerinya”. Bila dua tahun lewat tanpa membunuh, orang-orang akan salah mengartikan bahwa PKC telah berubah baik, bahkan seperti peristiwa tahun 1989 di mana pemuda idealis menuntut demokrasi. Tujuh-delapan tahun sekali melakukan pembunuhan akan selalu memperbaharui ingatan terhadap teror, juga akan memberi peringatan kepada kaum muda yang baru tumbuh dewasa. Barang siapa menentang partai komunis, barang siapa menentang pimpinan mutlak PKC, siapa yang ingin mencoba mengembalikan wajah sejarah yang sebenarnya, maka dialah yang akan mencicipi “tangan besi dari diktator proletariat”.

Dilihat dari segi ini, membunuh orang adalah salah satu keharusan yang paling penting guna mempertahankan kekuasaan PKC. Dalam keadaan hutang darah yang semakin banyak, meletakkan pisau jagal adalah sama dengan menyerahkan diri pada massa rakyat untuk diadili. Karena itu PKC tidak hanya melakukan pembunuhan massal, mayat bertebaran di mana-mana, aliran darah telah menjadi sungai, tapi juga harus menggunakan tindakan yang sangat kejam, terlebih pada masa permulaan berdirinya pemerintahan, jika tidak demikian massa rakyat tidak akan gentar.

Sekalipun membunuh orang adalah untuk menciptakan teror, korban dipilih tanpa mengikuti rasio. Pada setiap manuver politik, PKC selalu menggunakan cara “basmi total”. Sebagai contoh, di saat “menindas kaum kontra revolusioner”, PKC bukannya menindas “aksi” kontra revolusioner, tapi menumpas “anggota” kontra revolusioner. Hanya karena seseorang sebelumnya pernah beberapa hari menjadi tentara negara dan meski setelah PKC mendirikan pemerintahan mereka tidak berbuat apa pun, tetap harus dihukum mati, karena dia sudah termasuk dalam daftar sejarah kontra revolusioner. Dalam proses landreform, PKC kadangkala menerapkan cara “membabat rumput hingga ke akarnya”, selain membunuh si tuan tanah, anggota keluarganya pun dibunuh semua.

Sejak tahun 1949, lebih dari separuh penduduk Tiongkok mengalami penindasan PKC. Korban tewas secara tidak wajar diperkirakan mencapai 50-80 juta orang, melampaui jumlah korban tewas pada dua kali perang dunia.

Sama dengan negara komunis lainnya di dunia, PKC tidak hanya membunuh rakyat dengan sewenang-wenang, ke dalam tubuh partai pun dilakukan pembersihan yang berbau darah, tindakannya amat kejam, salah satu tujuan adalah menyingkirkan orang yang berpandangan lain, yang “sifat manusia”nya mengalahkan “sifat kepartaian”. Tidak hanya harus menakut-nakuti rakyat, juga harus menakut-nakuti orang-orang sendiri, membentuk sebuah benteng pertahanan yang tak dapat dihancurkan.

Dalam suatu masyarakat yang normal, terjalin kebudayaan kasih sayang dan perhatian antar sesama manusia, menghormati kehidupan dan segan serta berterima kasih kepada Tuhan. Orang Timur mengatakan “apa yang diri sendiri tidak menghendaki, jangan dilakukan pada orang lain”. Orang Barat mengatakan “mengasihi orang lain seperti mencintai diri sendiri”. Hanya Partai Komunis yang beranggapan “sampai hari ini semua sejarah masyarakat adalah sejarah pertentangan kelas”. Demi mempertahankan satu kata “berjuang”, menghasut kebencian di antara rakyat; PKC tidak hanya membunuh orang, bahkan juga menghasut massa agar saling membunuh. Di tengah peristiwa pembunuhan yang tak henti-henti, mengajarkan rakyat mengabaikan jiwa dan penderitaan orang lain. Kebal terhadap berbagai tindakan biadab, kejam yang tak berperikemanusiaan, sehingga kesempatan terhindar dari tindakan biadab menjadi hal yang patut disyukuri, dengan demikian kekuasaan PKC dapat dipertahankan mengandalkan penindasan yang kejam.

Maka, pembunuhan selama puluhan tahun yang dilakukan oleh PKC tidak saja memusnahkan kehidupan yang tidak terhitung, namun lebih jauh lagi memusnahkan semangat bangsa Tionghoa. Pada banyak orang, telah terbentuk semacam refleks bersyarat di dalam perjuangan kejam. Begitu PKC mengangkat pisau jagal, orang-orang ini segera saja melepaskan segala prinsip dan pertimbangan, langsung angkat tangan dan menyerah. Dipandang dari suatu pengertian, jiwa mereka telah mati. Ini adalah suatu hal yang lebih mengerikan dibandingkan kematian fisik.

 

 

[Komentar 8] Mengulas Hakekat Agama Sesat PKC

 

 

 

Indeks Artikel

[Komentar 8] Mengulas Hakekat Agama Sesat PKC

Mencuci Otak Dengan Kekerasan

Menjunjung Tinggi Kekerasan, Memandang Rendah Nyawa

Perubahan Jahat Agama Sesat Partai Komunis

Mengapa Rakyat Belum Sadar

Seluruh halaman

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Sembilan Komentar mengenai Partai Komunis China

(Bagian 8 dari 9)

Mengulas Hakekat Agama Sesat PKC

Saat ini Anda bisa mendownload video 9 Komentar mengenai Partai Komunis, silakan klik : Mengulas Hakekat Agama Sesat PKC.

Pada awal 1990-an, kubu komunis yang dipimpin oleh Uni Soviet runtuh berantakan, gerakan komunis internasional setelah lebih kurang 100 tahun lamanya dinyatakan gagal. Akan tetapi Partai Komunis China (PKC) sebagai sebuah bilangan ganjil tetap eksis, bahkan menguasai Tiongkok yang berpenduduk 1/5 dari penduduk dunia. Sebuah pertanyaan yang tidak dapat dihindari adalah, Partai Komunis sekarang ini apakah masih Partai Komunis?

Sekarang ini, tak seorang pun di Tiongkok, termasuk anggota PKC sendiri masih mempercayai komunisme. Setelah menjalani sistem “sosialisme” selama 50 tahun lebih, sekarang mereka memberlakukan kembali pemilikan pribadi, sistem saham, dan mengundang masuk perusahaan asing dan modal swasta, melakukan pemerasan secara maksimum terhadap buruh dan petani. Semua itu bertolak belakang dengan apa yang disebut cita-cita komunisme. Namun bersamaan dengan itu, PKC tetap mempertahankan hegemoni mutlak partai. Undang-undang terbaru yang telah direvisi pada tahun 2004, masih secara keras dan kaku menentukan: “Semua suku rakyat Tiongkok tetap di bawah kepemimpinan PKC, di bawah bimbingan Marxisme-Leninisme, ideologi Mao Zedong, teori Deng Xiaoping dan pikiran penting ‘Tiga wakil’, mempertahankan kediktatoran demokrasi rakyat, mempertahankan jalur sosialisme….”

Partai Komunis sekarang ini bagaikan sebuah “kantong kulit” dari “macan tutul mati yang masih meninggalkan sebuah “kulit”, dan diteruskan oleh PKC demi mempertahankan kekuasaan komunis. Lalu apa sebenarnya hakekat dari organisasi politik ini, selembar kulit komunis yang diwariskan oleh PKC?

I . Karakteristik Agama Sesat Partai Komunis

Hakekat dari Partai Komunis sebenarnya adalah sebuah agama sesat yang merusak umat manusia. Meskipun Partai Komunis tidak menyebut dirinya sebagai sebuah agama, namun ia telah memiliki secara lengkap corak sebuah agama (lihat Tabel 1). Pada awal mula didirikan, Partai Komunis telah menganggap Marxisme sebagai kebenaran yang mutlak di bumi dan langit ini. Menjunjung Marx sebagai Tuhan dari jiwanya, membujuk anggota partainya berjuang seumur hidup demi apa yang disebut “surga di dunia manusia” dari komunisme.

Partai Komunis mempunyai perbedaan yang jelas dengan agama ortodoks. Karena agama yang ortodoks semuanya mempercayai Tuhan, mempercayai kebaikan, tujuannya mendidik moral manusia serta menyelamatkan arwah manusia, akan tetapi komunis tidak mempercayai adanya Tuhan, lagi pula menentang moralitas tradisional.

Apa saja yang dilakukan oleh Partai Komunis yang membuktikan bahwa ia adalah sebuah agama sesat? Ajaran Partai Komunis dengan pertentangan kelas, revolusi kekerasan serta kediktatoran kelas ploletar sebagai sentralnya, telah mengakibatkan terjadi apa yang disebut revolusi proletar yang penuh dengan kekerasan berdarah dan pembunuhan. Teror merah rejim komunis bertahan terus selama kurang lebih satu abad, mencelakai puluhan negara di dunia, mengakibatkan puluhan juta orang meninggal. Keyakinan komunis yang sedemikian rupa, yang menciptakan neraka di dunia manusia, benar-benar adalah agama sesat terbesar di dunia manusia ini.

Tentang ciri khas agama sesat Partai Komunis, dapat diringkas dalam enam jenis sebagai berikut.

Menyusun ajaran agama, membasmi orang yang berpandangan lain.

Partai Komunis menganut Marxisme sebagai ajaran seperti agama, menyanjungnya sebagai “kebenaran yang tak terbantah”. Ajaran agama Partai Komunis tidak mengenal kebaikan dan kemurahan hati, penuh dengan kesombongan dan keangkuhan. Marxisme adalah produk dari jaman masa awal kapitalis yang produksi dan ilmu pengetahuannya sangat tidak maju, tentang hubungan antara manusia dengan masyarakat, manusia dengan alam, sama sekali tidak mempunyai pemahaman yang benar.

Ajaran sesat dan murtad yang sedemikian rupa ini, sungguh menyedihkan dapat berkembang menjadi sebuah gerakan komunis internasional. Merusak dunia selama lebih kurang 100 tahun, hingga sampai terbukti dalam praktek adalah sama sekali salah, maka dicampakkanlah oleh orang-orang di dunia.

Para pemimpin Partai Komunis sejak dari Lenin masih terus menambah isi baru ke dalam ajaran sesat komunis. Dari teori kekerasan Lenin hingga teori meneruskan revolusi di bawah kediktatoran kelas proletar dari Mao Zedong, terus sampai teori Tiga Wakil dari Jiang Zemin. Di dalam sejarah Partai Komunis dipenuhi dengan ajaran sesat dan teori sumbang dan hal-hal seperti itu. Walaupun teori-teori tersebut dalam praktek selalu mengakibatkan terjadinya malapetaka, lagi pula saling bertentangan dengan yang lampau, namun tetap saja masih menyanjung diri selalu benar, dan memaksa rakyat mempelajarinya.

Membasmi orang yang berpandangan lain adalah tipu muslihat yang paling ampuh dalam penyebaran agama sesat komunis. Karena ajaran dan perilaku agama sesat komunis terlampau mustahil, maka hanya bisa mengandalkan kekerasan membasmi orang yang berpandangan lain baru dapat memaksa rakyat menerimanya. PKC setelah merebut kekuasaan, dalam landreform membasmi kelas tuan tanah, dalam “transformasi sosialisme” membasmi kaum kapitalis, dalam “pembersihan terhadap kaum kontra-revolusioner” membasmi kekuatan agama dalam masyarakat dan orang-orang dalam kekuasaan terdahulu, “anti golongan kanan” membuat suara kaum intelektual lenyap, dalam “revolusi kebudayaan” membabat sampai akar kebudayaan tradisional. PKC benar-benar telah berhasil memaksa setiap orang “membaca kitab merah”, “menari tarian setia”‘ dan “meminta petunjuk di pagi hari, dan melapor di malam hari”. Seluruh negeri dikuasai agama sesat komunis. Di masa pasca Mao dan pasca Deng, Partai Komunis menegaskan bahwa Falun Gong yang berkeyakinan terhadap Sejati-Baik-Sabar akan bersaing dengan Partai Komunis untuk merebut massa, maka bertekad ingin membabatnya baru lega. Sehingga telah melakukan suatu penganiayaan besar-besaran yang mematikan dan berlanjut sampai sekarang.

1.1. Bentuk dasar agama PKC

(1) Tempat ibadah: Mimbar Komite partai berbagai tingkat, forum: dari rapat partai sampai rapat-rapat yang dikuasai oleh partai.

(2) Ajaran agama: Marxisme-Leninisme, pikiran Mao Zedong, teori Deng Xiaoping, teori “Tiga Wakil” Jiang Zemin, konstitusi partai.

(3) Upacara sumpah agama: Bersumpah, cinta pada partai selamanya.

(4) Kepercayaan tunggal: Hanya percaya pada Partai Komunis.

(5) Penyebar agama: Pekerja partai di berbagai tingkat misalnya: Sekretaris komite partai dll.

(6) Menyembah Tuhan: Memfitnah semua Tuhan, lalu memfokuskan diri sendiri sebagai Tuhan yang tidak disebut Tuhan.

(7) Meninggal dikatakan”naik surga”: Meninggal dikatakan “pergi bertemu Marx” atau masuk neraka.

(8) Kitab suci: Karya teori para pemimpin.

(9) Berkhotbah: Rapat kecil atau besar, pidato pemimpin.

(10) Membaca kitab suci: Belajar politik, rapat organisasi anggota partai.

(11) Nyanyian suci: Lagu-lagu yang memuja partai.

(12) Penyumbangan: Mengumpulkan dana partai, memaksa menyediakan anggaran ( darah dan keringat rakyat).

(13) Hukuman dan pantangan: Disiplin partai, dari “dua penetapan” “didepak dari partai” hingga dibunuh mati, dan melibatkan orang lain.

I.2. Memuja pendiri agama, menganggap dirinya sendiri yang paling hebat.

Dari Marx hingga Jiang Zemin, gambar pemimpin partai harus digantung untuk disembah orang, kewibawaan mutlak pemimpin partai tidak boleh ditantang. Mao Zedong sebagai “mentari merah”, “maha bintang penyelamat”, ucapannya “satu kata menyamai sepuluh ribu kata”. Deng Xiaoping sebagai “anggota partai biasa” pernah menguasai perpolitikan Tiongkok dengan gaya penguasa tertinggi. Teori “Tiga Wakil”-nya Jiang Zemin seluruhnya baru 40-an kata termasuk titik dan koma, namun ditetapkan dalam sidang pleno ke-4 PKC, dan secara menggelikan disanjungnya sebagai “telah menjawab pertanyaan apa itu sosialisme, dan bagaimana membangun sosialisme, secara kreatifitas telah menjawab pertanyaan tentang membangun partai yang bagaimana dan bagaimana membangun partai.

Stalin membunuh secara membabi-buta, Mao Zedong mencetuskan bencana besar Revolusi Kebudayaan, Deng Xiaoping memerintahkan pembunuhan kejam dan besar-besaran pada “Peristiwa 4 Juli di Tiananmen”, Jiang Zemin melakukan penindasan terhadap Falun Gong. Semua ini adalah akibat buruk dari kediktatoran PKC.

Di satu sisi PKC dalam undang-undang menetapkan, “segala kekuasaan Republik Rakyat Tiongkok milik rakyat.” Instansi yang menyelenggarakan kekuasaan negara adalah Kongres Rakyat Nasional dan Konggres Rakyat berbagai tingkat daerah”, “Organisasi atau individu semuanya tidak mempunyai hak istimewa yang melampaui hukum dan undang-undang dasar.” [2]

Namun disisi lain dalam Anggaran Dasar Partai ditetapkan bahwa PKC “adalah inti pimpinan sosialis yang bercorak Tiongkok”, menempatkan partai di atas rakyat dan negara. Ketua Kongres Rakyat menyampaikan “pidato penting” di mana-mana, menyatakan instansi kekuasaan “tertinggi” negara ini harus “mempertahankan kepemimpinan partai”. Berdasarkan prinsip “sentralisme demokratis” PKC, seluruh cabang partai tunduk pada pusat. Jadi pada hakekatnya, yang harus dipertahankan oleh “Kongres” adalah “kediktatoran partai tunggal”, dan dengan melalui bentuk perundangan-undangan menjamin “kediktatoran partai tunggal” dari Partai Komunis.

 

 

[Komentar 9] Watak Dasar Kejahatan dari PKC

 

 

Indeks Artikel

[Komentar 9] Watak Dasar Kejahatan dari PKC

Perkembangan Ekonomi Menjadi Sesajen PKC

PKC Menerapkan HAM Munafik

Masalah ‘Non Politis’ Diselesaikan dengan Cara ‘Politis’

Praktek Konspirasi dan Tipu daya…

Sosialisme Berandal Karakter Khas Tiongkok

Seluruh halaman

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

9 Komentar Mengenai Partai Komunis China

(Bagian 9 dari 9)

Watak Dasar Kejahatan dari PKC

Saat ini Anda bisa mendownload video 9 Komentar mengenai Partai Komunis, silakan klik : Watak Dasar Kejahatan dari PKC.

Gerakan komunisme yang telah bergembar-gembor selama 100 tahun lebih, hanya membawa kepada manusia peperangan, kemiskinan, pertumpahan darah dan otokrasi. Seiring dengan ambruknya negara komunis Rusia dan Eropa Timur, drama ngawur yang mencelakakan dunia manusia itu pada akhir abad yang lalu telah memasuki babak akhir. Dari rakyat jelata hingga Sekretaris Jenderal Partai sudah tidak seorang pun yang mempercayai lagi kebohongan komunisme.

Kekuasaan Partai Komunis bukan “kekuasaan raja yang dianugerahi oleh Dewa”, juga bukan “hasil pemilihan demokrasi”. Sekarang ini, di saat keyakinannya yang dijadikan sandaran hidupnya telah hancur lebur, maka legalitasnya untuk tetap berkuasa telah menghadapi tantangan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Partai Komunis China (PKC) tidak mau tunduk pada arus sejarah dan tidak mau mundur dengan sendirinya dari panggung pentas sejarah, melainkan mulai lagi mencari-cari legalitas dengan mempraktekkan berbagai macam cara-cara berandal yang terakumulasi dalam kampanye politik selama beberapa puluh tahun. PKC masih mencoba hidup kembali di tengah rontaan yang gila-gilaan.

Baik reformasi maupun keterbukaan yang dilakukannya, tujuan PKC hanya demi mempertahankan kepentingan kelompoknya dan kekuasaan otoriternya secara mati-matian. Perkembangan ekonomi Tiongkok selama 20 tahun belakangan ini, yang merupakan hasil jerih payah dari rakyat Tiongkok yang tetap berada di bawah pengendalian yang ketat, bukan saja tidak dapat membuat PKC meletakkan pisau jagalnya, malah dibajaknya sebagai modal bagi legitimasi kekuasaannya, membuat sepak terjang jahatnya selama ini lebih berpotensi mengelabui dan membingungkan. Yang paling menakutkan ialah, PKC sedang mengerahkan seluruh upaya, menghancurkan fondasi moralitas segenap bangsa, mencoba merubah orang-orang Tionghoa menjadi penjahat besar dan kecil dalam tingkat-tingkat yang berbeda, untuk memberikan lingkungan hidup bagi PKC “berjalan seiring waktu”.

Demi ketenteraman bangsa yang abadi, demi negara Tiongkok sedini mungkin memasuki era yang tanpa partai komunis untuk mengukir kembali kegemilangan bangsa, di hari ini dalam sejarah, adalah sangat penting bagi orang-orang untuk mengenali dengan jelas mengapa Partai Komunis ingin mempraktekkan gaya bengis serta watak dasar dari kejahatan.

I. Sifat Hakiki Keberandalan Partai Komunis Sejak Dulu Tidak Pernah Berubah

Untuk Siapa Partai Komunis Bereformasi

Di dalam sejarah, setiap kali PKC mengalami krisis, akan selalu menampilkan sejumlah tanda-tanda perbaikan, untuk membangkitkan khayalan orang-orang terhadap PKC. Namun tanpa ada yang terkecuali, impian-impian kosong ini satu per satu sirna bagaikan gelembung sabun. Sekarang ini, di bawah wujud palsu dari kemakmuran ekonomi PKC bergaya etalase pamer yang mengejar hasil dan keuntungan di depan mata, orang-orang timbul lagi khayalan terhadap partai komunis. Tetapi, pertentangan dasar antara kepentingan PKC dan kepentingan bangsa dan negara, telah menentukan bahwa kemakmuran semacam ini tidak dapat bertahan lama, reformasi yang dijanjikan semata-mata demi membela kekuasaan PKC, hanya berupa reformasi yang pincang bagaikan barang lama diganti etiket baru. Di balik perkembangan yang abnormal tersembunyi krisis sosial yang lebih besar. Sekali krisis tersebut meletus, bangsa dan negara sekali lagi akan mengalami terpaan yang amat besar.

Seiring dengan pergantian generasi pimpinan PKC, mereka tidak lagi memiliki kualifikasi dan pengalaman untuk menguasai negara, juga makin hari semakin tidak memiliki kewibawaan untuk mempertahankan negara. Tetapi partai komunis sebagai satu tubuh kesatuan, ditengah krisis legitimasi, perlindungan terhadap kepentingan kelompoknya makin hari semakin menjadi jaminan pokok bagi perlindungan terhadap kepentingan individu. Partai politik yang berbasis pada ego dan tanpa pengekangan apapun, khayalan orang-orang terhadapnya untuk dapat berkembang tanpa manuver, itu hanyalah suatu hal yang dikehendaki sepihak.

Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh media PKC “Ren Ming Re Bao” (Harian Rakyat):

“Dialektika sejarah telah memberi pelajaran yang matang bagi orang-orang PKC: yang mesti dirubah, haruslah dirubah, jika tidak dirubah akan merosot; yang tidak mesti dirubah, mutlak tidak boleh dirubah, jika dirubah akan meruntuhkan diri sendiri.” (12 Juli 2004 berita halaman pertama).

Apa yang tidak mesti dirubah? “Garis dasar partai berupa ‘satu inti, dua titik dasar’ menginginkan pengendalian selama seratus tahun, itu tidak boleh diusik” (12 Juli 2004 halaman pertama)

Orang-orang tidak mengerti apa sebenarnya yang dimaksud inti dan titik dasar, akan tetapi, siapa pun paham bahwa tekad roh jahat komunis dalam membela kepentingan kelompoknya serta otokrasi kediktatorannya, mutlak tidak akan berubah. Kendati partai komunis telah kalah dan runtuh di dalam lingkup dunia, itu pun merupakan takdir bagi komunisme untuk mendekati ajalnya. Tetapi, sesuatu yang semakin mendekati pemusnahan, dia semakin mempunyai daya rontaan yang membawa maut menjelang kematiannya. Berbicara reformasi dan demokrasi dengan Partai Komunis, tak lain adalah berunding dengan harimau untuk mengganti kulitnya.

Tanpa Partai Komunis, Tiongkok akan Bagaimana Jadinya

Di saat Partai Komunis melangkah menuju kemerosotan, orang-orang di luar dugaan menemukan, PKC yang dirasuki roh jahat selama beberapa puluh tahun dengan mengandalkan cara-cara berandal yang berubah-ubah 1001 macam, telah menyuntikkan unsur-unsur kejahatan partai komunis ke dalam berbagai aspek kehidupan rakyat.

Dulu saat Mao meninggal, berapa banyak orang menangis tersedu di hadapan foto almarhum Mao Zedong, dengan mengulang-ulang sebuah perkataan: “Setelah tiada Mao Zedong, Tiongkok bagaimana jadinya?” Kini setelah dua puluh tahun berlalu, di saat Partai Komunis kehilangan legalitas kekuasaannya, dengan sinis propaganda baru media PKC kembali membuat orang-orang menyuarakan kekuatiran bahwa “tanpa partai komunis, Tiongkok akan bagaimana jadinya”.

Pada kenyataan, cara penguasaan PKC yang merambah ke dalam segala aspek kehidupan, membuat kebudayaan Tionghoa, cara pemikiran masyarakat Tionghoa, bahkan kriteria untuk menilai PKC, semuanya telah dibubuhi cap PKC, bahkan persis seperangkat dari PKC itu. Jika dahulu dikatakan mereka mengandalkan indoktrinasi untuk menguasai pikiran orang-orang, maka sekarang adalah masa di mana PKC sedang memetik hasilnya. Karena hal-hal yang diindoktrinasikan telah dicerna, telah ber-evolusi menjadi sel dari diri sendiri, orang-orang dengan sendirinya akan berpikir menurut logika PKC, dan mengevaluasi suatu hal benar atau salah dengan berpijak di atas sudut pandang PKC. Perihal penembakan pada peristiwa Tiananmen 4 Juni 1989, ada yang berkata, “Jika saya adalah Deng Xiaoping, saya juga akan menindas mahasiswa dengan menggunakan tank”. Perihal penindasan Falun Gong, ada yang berkata, “Jika saya adalah Jiang Zemin, saya juga akan membasminya hingga tuntas”. Perihal pelarangan bebas berbicara, ada yang mengatakan, “Jika saya adalah Partai Komunis, saya juga akan berbuat demikian”. Kebenaran dan suara nurani telah sirna, yang tertinggal hanya logika Partai Komunis. Ini adalah salah satu cara yang paling kejam dan berbahaya dari watak dasar kejahatan PKC. Asalkan di dalam benak pikiran orang-orang masih tersisa unsur racun semacam ini dari PKC, maka PKC akan dapat mempertahankan jiwa jahatnya dengan menyerap energi dari unsur tersebut.

“Tanpa Partai Komunis, Tiongkok akan bagaimana jadinya?” Cara pemikiran yang demikian, justru merupakan sesuatu yang diidamkan dalam mimpi oleh PKC, agar orang-orang memikirkan masalah dengan menggunakan logika mereka.

Bangsa Tionghoa dalam keadaan tanpa PKC sejak dulu telah melewati sejarah peradaban yang panjang selama lima ribu tahun. Masyarakat apa pun di atas dunia juga tidak ada yang berhenti derap langkah majunya hanya dikarenakan runtuhnya sebuah kerajaan. Namun orang-orang yang telah mengalami penguasaan PKC selama beberapa puluh tahun, sudah mati rasa terhadap hal-hal tersebut. Propaganda yang berkepanjangan dari PKC, serta pendidikan yang mengumpamakan partai sebagai ibunda, strategi poiltik PKC yang menyusup kesegala bidang, membuat orang-orang sudah tidak terpikirkan lagi, seandainya PKC telah tiada, bagaimana kita harus hidup.

Setelah Mao Zedong tiada, negara Tiongkok tidak roboh; setelah tiada partai komunis, apakah Tiongkok akan runtuh?

Siapa Sebenarnya Sumber Kekacauan

Banyak orang sangat paham dan antipati terhadap tindak tanduk kejahatan PKC, dan muak terhadap seperangkat benda komunisme yang menguasai orang dan membohongi orang. Tetapi rakyat telah dibuat takut oleh kampanye politik dan kekacauan yang dicetuskan oleh PKC, mereka takut Tiongkok menjadi kacau. Begitu PKC menggunakan nama “kekacauan” untuk mengancam rakyat, orang-orang dikarenakan tak berdaya terhadap kekuasaan paksaan PKC, seringkali mereka hanya dapat mengiyakan saja kekuasaan PKC.

Sesungguhnya, PKC yang memiliki beberapa juta tentara dan polisi, dia barulah merupakan sumber “kekacauan” yang sebenarnya dari negara Tiongkok. Rakyat tidak punya alasan untuk berbuat “kekacauan”, lebih-lebih tidak berkompeten untuk berbuat “kekacauan”. Hanya PKC yang bergerak melawan arus, baru dapat membuat rumput dan pohon semuanya nampak seperti tentara musuh, sehingga menyeret negara ke dalam kekacauan. Semboyan “kestabilan menaklukkan segalanya”, “segala unsur yang tidak stabil dibasmi pada kondisi ia bertunas”, telah menjadi dasar teori PKC untuk menindas rakyat. Siapa yang merupakan faktor ketidakstabilan terbesar dari negara Tiongkok? Tepatnya adalah PKC yang menerapkan politik kezaliman secara profesional. Dia yang menggerakkan kekacauan, malah menggunakan “kekacauan” untuk mempermainkan dan mengancam rakyat, memang beginilah perbuatan penjahat sejak dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: