Resensi Buku: Asia Hemisfer Baru Dunia

 

Asia Hemisfer Baru Dunia

Images

 

JUDUL : Asia Hemisfer Baru Dunia
PUBLISHER : Kompas
WRITER : Kishore Mahbubani
CONTENT :

 

Sebagaimana buku pertamanya, Can Asians Think?, buku Kishore Mahbubani yang berjudul The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Global Power Global to The East,kembali memaksa pembacanya untuk sadar bahwa Asia akan segera menjadi tempat bergesernya kekuatan global dunia. Kesadaran ini bukan hanya ditujukan kepada para pembacanya di Asia, yang akan memegang kekuatan global kelak, tetapi tentu saja pembaca di Barat yang segera akan melepas genggaman kekuatan global.

Tidak banyak buku yang ditulis oleh Kishore Mahbubani, seorang dosen dan Profesor Praktik Kebijakan Publik pada Kebijakan Publik Lee Kuan Yew School, Universitas Nasional Singapura. Namun, beberapa buku yang ia tulis dan telah membuatnya keliling dunia, menjelaskan kepada para peminatnya betapa kekuatan global dunia akan kembali sesuai dengan “jalurnya”. Termasuk buku New Asian Hemisphere  (Asia Hemisfer Baru Dunia), buku ini, telah diterbitkan dua belas edisi bahasa yang berbeda yakni Bahasa Arab, China (sederhana dan tradisional), Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Korea, Vietnam, dan Indonesia. Buku itu positif diterima di sebagian besar kawasan Asia, bahkan para intelektual Asia menyebutnya sebagai buku utama Asia, dan digunakan sebagai buku teks di berbagai universitas Amerika terkemuka, termasuk Harvard University.

Sebagaimana buku Can Asians Think?, yang bermaksud melecut kesadaran bangsa-bangsa Asia untuk berfikir meraih masa depannya, The New Asian Hemisphere ingin mengatakan kepada dunia, bahwa era baru sejarah dunia akan segera dimasuki. Era baru dunia ini, ditandai dengan dua poin utama. Pertama, akhir dari era dominasi Barat dalam sejarah dunia, meskipun akhir dari dominasi ini tidak berarti akhir dari Barat. Kedua, kita akan melihat kembalinya Asia.

Poin pertama, tentu akan dibaca oleh Barat sebagai “berita buruk” yang tidak akan mereka akui selama mereka masih mampu menunjukkan kekuatannya. Kebangkitan Barat, memang telah terjadi sangat cepat dalam 200 tahun terakhir. Sejak 1820, andil Eropa Barat terhadap produk domestik bruto global naik hingga 23,6%. Kenaikan ini didukung pula oleh revolusi industri dan munculnya negara-negara Barat baru, seperti Amerika, Kanada, Australia dan Selandia Baru. Negara-negara Barat baru, yang di buku ini disebut sebagai “ranting Barat” awalnya hanya menyumbang 1,9% PDB global. Tetapi, pada tahun 1998, mereka mencatatkan angka lebih sedikit diatas 25% dari PDB dunia. Sementara Eropa Barat, pada tahun 1998, berkontribusi 20,6% terhadap PDB global. Dan Asia hanya 37,2%.

Seiring dengan menguatnya kekuatan global di Barat, kebijakan-kebijakan dunia pun terus didominasi oleh mereka. Selama hampir tiga abad terakhir, rakyat Asia, Afrika, dan Amerika Latin, hanya menjadi objek sejarah. Keputusan-keputusan penting yang menentukan arah sejarah dibuat oleh segelintir ibukota kunci Barat: London, Paris, Berlin, dan Washington DC. Lembaga-lembaga dunia yang didominasi Barat, dari IMF sampai Bank Dunia, dari G7 ke Dewan Keamanan PBB, sering menerapkan standar ganda terhadap negara-negara non-Barat. Komposisi demografi dunia pun cukup njomplang. Studi dari World Institute di United Nations University melaporkan, sebanyak 1% orang terkaya dunia menguasai 40% aset global, bahkan 10% orang terkaya dunia menguasai 85% aset dunia.

Kebangkitan Barat hingga menggenggam kekuatan global, memang belangsung cukup cepat, yaitu sejak dimulainya revolusi industri. Namun, sebagaimana cepatnya Barat menggenggam kekuatan global, secepat itu pula genggaman ini, diakui atau tidak, akan terlepas dan bergeser. Asia, secara “lambat dan menyakitkan” akan berhasil menemukan kembali (rediscovery) pakem sejarah, dalam arti tempat alamiah masyarakat Asia dalam hierarkhi masyarakat dan peradaban-peradaban dunia.

Asia sesungguhnya selalu konsisten menyumbang PDB global dunia rata-rata diatas 70%. Di abad pertama masehi, Asia menyumbang hingga 76,3% PDB global. Dari tahun pertama Masehi ke tahun 1820, China dan India secara konsisten menjadi dua kekuatan ekonomi terbesar dunia selama berabad-abad. Setelah terpuruk beberapa waktu lamanya, diperkirakan, dua negara ini pula yang akan dihitung sebagai kekuatan besar dunia pada abad ke-21. Bersama denga negara BRICS lainnya, (Brasil Rusia, Afrika Selatan), PDB India dan China, segera akan melampaui PDB Amerika Serikat. Data yang dikumpulkan Bloomberg menunjukkan, PDB negara-negara BRICS akan melampaui AS pada 2014, dan mulai 2015, gabungan ekonomi lima negara ini menjadi terbesar di dunia.

Negara-negara Asia, sebagaiman dikatakan Mahbubani, menemukan pilar-pilar kebijakan kemajuan Barat yang kemudian memampukan Barat mendikte masyarakat Asia selama dua abad terakhir. Tragisnya, pada saat negara-negara Asia telah menemukan kembali kebajikan dari pilar-pilar tersebut, negara-negara Barat justru mulai kehilangan kepercayaan pada beberapa pilar ini, termasuk pilar pasar bebas. Pilar-pilar tersebut adalah adalah:  [1] pasar bebas ekonomi, [2] ilmu pengetahuan dan teknologi, [3] meritokrasi, [4] budaya pragmatisme, [5] budaya perdamaian, [6] penegakan hukum dan [7] pendidikan.

Diantara negara-negara Asia yang bangkit, Jepang, sesungguhnya telah sendirian memulai kebangkitan di Asia. Jepang 150 tahun lebih awal bangkit dengan memulainya melalui reformasi meiji. Meskipun reformasi meiji awalnya hanya sebuah upaya untuk meluputkan Jepang dari ancaman kolonialisasi dan dominasi Barat yang melanda seluruh dunia saat itu, namun, para reformator meiji, justru telah lebih awal menemukan praktik-praktik terbaik Barat. Orang-orang Jepang menarik pelajaran dengan bagus: mereka menemukan tujuh pilar kebijaksanaan Barat tersebut dan masing-masing pilar tersebut terbukti saling memperkuat.

Praktek Jepang inilah yang diamati Mahbubani telah diikuti oleh China dan India dengan “model dan gaya” mereka masing-masing. China telah mengalami lompatan besar justru setelah meninggalkan prinsip-prinsip Mao tentang perencanaan terpusat dan memperkenalkan pasar bebas. Terbangunnya sebuah sistem hukum di China yang meminjam dari konsep-konsep Barat, sesungguhnya pertama-tama didorong oleh kebutuhan ekonomi. Ketika akhirnya China memilih ekonomi pasar dan meninggalkan sistem ekonomi terencana yang sebelumnya dianut, hukum menjadi sangat vital untuk mengatur aktivitas ekonomi.

Deng Xiaoping dengan berani menunjukkan kepada rakyat China kemana masa depan mereka diletakkan: yakni ke dalam march to modernity. “Modernitas” sebagaimana dijelaskan Mahbubani, bukan sepeti aliran budaya yang baru dan tertentu, tetapi modernitas yang cita-citakan banyak orang. March to modernity yang ia maksud akan melahirkan beberapa hal seperti pengentasan kemiskinan dan masyarakat diuntungkan ketika terentaskan dari kemiskinan. Dan disinilah Deng Xiaoping membuka mata rakyat China, dengan cara yang sama seperti mata kita terbuka di masa kanak-kanak: dengan mengijinkan stasiun-stasiun TV China yang dikontrol negara untuk menayangkan film-film tentang rumah kelas menengah di AS, yang luas, nyaman, lengkap dengan perabotan modern dan satu-dua mobil di garasinya. Deng menunjukkan cara praktis dan membumi kepada rakyat, bahwa semua kenyamanan itu ada dalam jangkauan mereka.

Sementara di India, selain makin membuka kran demokratisasinya, “lembah silikon” telah menjadi simbol kemajuan sains dan teknologi India. Ledakan riset Asia dalam sains dan teknologi merupakan hasil dari beberapa keputusan visioner yang dibuat India beberapa dekade lalu. Perdana Menteri India Pertama, Jawaharlal Nehru, adalah sosok pemimpin yang brilian, yang mendorong pendirian Indian Institute of Technology (IIT). Kampus yang didirikan di Kharagpur tahun 1951 ini, menghasilkan otak-otak cemerlang, dimana mereka kemudian “dibajak” oleh lembaga-lembaga kaya AS dan Eropa. Sebagian warga India merasa kehilangan dengan ilmuwan-ilmuwan mereka, tetapi PM Rajiv Gandhi justru pernah mengatakan, better brain drain than a brain in the drain. Lebih baik menjadi penyalur otak-otak cemerlang daripada otak-otak itu mampet di saluran.

Dengan kata lain, Mahbubani, sebenarnya ingin memberikan penjelasan bahwa pertama, ilmuwan asal India sesungguhnya telah diakui dunia, dan kedua, India akan terus mencetak ilmuwan tanpa takut kehabisan sumberdaya. Inilah India kini.

Dunia Islam 
Buku Asia Hemisfer Baru Dunia karya Mahbubani ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2008, dimana “musim semi Arab” belum dimulai. Namun, bukan berarti ia tidak melihat optimisme terhadap “demokratisasi” di dunia Arab. Ia justru melihat bahwa kesadaran masyarakat Arab terhadap hegemoni Barat di Timur Tengah yang harus dilawan, tidak harus dimulai dari luar negara mereka sendiri, tetapi dimulai dengan merubah status quo dengan mengganti rezim sehingga bisa melawan hegemoni Barat. Artinya, Barat yang cenderung mempraktekkan standar ganda dalam sistem demokrasi mereka, harus dilawan dengan “demokrasi ala Arab”, yaitu menumbangkan rezim-rezim pro-Barat. Menurut Mahbubani, proses dewesternisasi global sedang terjadi dengan amat kuat di dunia Islam.

Persoalan terbesar dunia Islam sebenarnya adalah krisis identitas yang belakangan justru mulai menguat kembali akibat kekecewaan yang besar terhadap Barat. Awalnya mereka bangga dengan identitas “kedaerahannya” baru kemudian keislamannya. Muslim Turki pertama-tama melihat diri sendiri sebagai orang Turki, baru kemudian sebagai muslim. Orang Iran juga cenderung memprioritaskan identitas nasionalnya diatas identitas agama. Meskipun ini bukan berarti ada kontradiksi dalam dua identitas itu, utamanya jika ada alasan terusiknya “jiwa Islam”, tetapi kesadaran terhadap identitas diri umat Islam menguat tatkala keterpurukan ekonomi dan kemiskinan akhirnya melahirkan ejekan terhadap dunia Islam.

Namun begitu, Mahbubani mengajak untuk melihat, bahwa dunia Islam sesunggunya tidak boleh hanya dilihat di wilayah Timur Tengah ataupun Afrika Utara. Masyarakat muslim Arab sekarang ini hanya sejumlah seperenam dari 1,5 milyar umat muslim dunia. Ada tujuh negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yaitu Indonesia (200 juta), India (144 juta), Pakistan (140 juta), Bangladesh (115 juta), Nigeria (94 juta), Turki (66 juta) dan Iran (65 juta). Mayoritas muslim hidup di Asia Selatan dan Tenggara, dimana march to modernity sedang berkembang.

Kekuatan yang sedang bangkit di dunia Islam, bukanlah fundamentalis, melainkan modernisasi yang sedang melanda Asia, dan nantinya juga akan merasuki masyarakat-masyarakat muslim juga. Buktinya, masyarakat Islam kontemporer masih berkomitmen pada modernisasi (bukan westernisasi), dan ini ditunjukkan para pemimpin pemerintahan dunia Islam. Terlepas dari munculnya gejala Islam fundamentalis, yang hanya satu negara dalam yang memeluknya, Afganistan, para muslim justru makin “mendekatkan diri” kepada agamanya, bukan melakukan sekularisasi. Sekularisasi yang dilakukan Turki pun dirasa kurang berhasil.

Gejala unik justru ditunjukkan di Indonesia. Religiusitas yang meningkat pesat di kehidupan muslim di Indonesia, tidak begitu saja bisa diterjemahkan dalam pilihan politik untuk menjadi negara agama. Bahkan belakangan, tiga partai besar di Indonesia sekarang, mengingatkan Pemerintah untuk membuat semua  partai politik mengadopsi Pancasila sebagai ideologi bersama. Pancasila memang tidak eksplisit mengacu pada Islam. Ideologi negara ini adalah sebuah kreasi brilian para founding fathers Indonesia untuk memberikan sebuah kerangka yang mempersatukan bangsa itu, yang mengikutsertakan seluruh rakyatnya, salah satu negara yang paling beragam di dunia.

Kisah tentang Indonesia inilah yang belakangan dijadikan cermin, bahkan menjadi tren dunia Islam. Hampir semua pemerintahan di dunia Islam ingin melindungi dan memperkuat warisan Islam mereka, tapi juga ingin memodernisasi masyarakatnya. Namun, beberapa negara mayoritas berpenduduk muslim melakukannya dengan caranya masing-masing.

ASEAN
Selain China, India, maupun dunia muslim, peran ASEAN tentu menjadi hal penting untuk diketahui dari buku ini. ASEAN, belakangan memang makin menunjukkan geliatnya, sampai-sampai AS yang selama ini “absen” terhadap berbagai aktifitas ASEAN, mulai mendekat kembali. Hanya saja, ASEAN, atau secara umum wilayah Asia-Pasifik, adalah wilayah yang terus akan dijaga oleh China dari pengaruh Barat, terutama AS.

Digambarkan dalam buku ini, jika seseorang harus menentukan kemungkinan mana yang lebih baik, apakah hubungan Uni Eropa-Turki atau hubungan China–ASEAN, kemungkinannya adalah lebih memilih hubungan Uni Eropa-Turki. Uni Eropa sangat kaya, sementara Turki sangat berhasrat untuk bergabung. Hasilnya pasti bagus. Sementara, China sempat “memusuhi” ASEAN, yang dianggapnya sebagai sekumpulan negara non-komunis yang pro-AS.

Tetapi, penguatan hubungan China-ASEAN, oleh China tidak semata-mata didasarkan pada altruisme, atau tanpa melihat kepentingannya sendiri, tetapi pada politik riil. Dimana China ingin kembali memperkuat dominasi kekaisarannya dulu di wilayah Asia dan memaksa AS untuk menarik kekuatan militernya. China menggunakan krisis 1997-1998 untuk meningkatkan perannya di ASEAN. Pada saat itu, Beijing menolak mendevaluasi mata uangnya sehingga tidak meruntuhkan usaha-usaha negara ASEAN. China telah memberikan bantuan lebih dari 1 miliar dollar AS kepada Indonesia dan 1 miliar dollar AS kepada Thailand, dua negara yang terpukul saat itu. Bantuan kepada Filipina juga meningkat empat kali lipat lebih besar dibandingkan bantuan AS ke negara itu. Artinya, China mendekati ASEAN dengan kekuatan “shoft power” yang bertujuan jangka panjang dibanding dengan pendekatan AS yang bersifat jangka pendek.

China tidak lagi menggunakan sikap hitam-putih, kawan-lawan yang terlalu menyederhanakan persoalan untuk melihat persoalan yang makin kompleks. Kompleksitas inilah yang pada dasarnya mengubah kebijakan China terhadap ASEAN, dan menambahkan banyak fleksibilitas dan diplomasi. Ringkasnya, tulis Mahbubani, China ingin membagi-bagikan kemakmurannya dengan ASEAN. Artinya, kita melihat bahwa dengan ikatan hubungan ekonomi yang kuat pada China, ASEAN juga tidak begitu saja mau bergabung dengan kabijakan lain yang menyudutkan China. ASEAN akan lebih banyak memberikan “pertimbangan” terhadap kebijakan mengenai dirinya, sebab ASEAN pun merasa telah menjadi organisasi regional yang seksi dan menjadi perhatian kekuatan-kekuatan ekonomi dunia.

China memang telah menjadi kekuatan penyeimbang AS di wilayah ini. Namun, resiko justru akan dihadapi oleh ASEAN tatkala tidak mampu menyeimbangkan kepentingan China dan AS dengan kepentingannya sendiri.

Kompetensi Asia
Mengapa Mahbubani mengatakan, ketika Asia kembali menggenggam kekuatan global dunia, maka hal ini sesuai dengan “jalurnya”. Sebab selama berabad-abad, ketika Asia “berkuasa” atas dunia, dan hanya diselingi Barat beberapa abad terakhir ini, Barat kurang berkompeten memakmurkan dunia. Asia, lebih berkompeten.

Ia mencontohkan beberapa kasus hubungan antara Barat dengan non-barat. Misalnya Barat-Iran, Barat-Korut, dan lain-lain, termasuk Barat dengan negara-negara di Afrika. Uni Eropa begitu berhasil memajukan anat sesama anggotanya sendiri, dan sangat dipuji. Tetapi yang mengherankan, mengapa Uni Eropa gagal membawa perdamaian dan kemakmuran itu ke negeri-negeri tetangganya? Kini, tak terhindarkan lagi, bahwa situasi politik dan ekonomi di Afrika Utara mengimbas ke Eropa. Ribuan imigran gelap akan berbondong-bondong kesana. Padahal, jika mereka makmur dan damai, Eropa juga yang untung. Menyusutnya demografi negara-negara Uni eropa dan meledaknya demografi Afrika, jelas berarti bahwa Uni Eropa berkepentingan untuk berbagi kemakmuran dan perdamaian dengan mereka. Namun, itu tidak terjadi. Yang mengherankan, hanya sedikit pakar analis Uni Eropa yang mampu melihat masa depan ini.

Hubungan AS dengan beberapa negara di Asia, terutama Timur Tengah, juga begitu sulit. Peran AS sebagai “polisi dunia” tidak pernah berhasil menuntaskan kasus “perampokan” atau “kejahatan di jalanan”, tetapi justru membuat kesengsaraan berkepanjangan dan berujung pada kecaman pada dirinya sendiri. Serbuan AS ke Iran, ke Afganistan dan Pakistan, perlindungan AS terhadap Israel, dan sebaginya, menunjukkan bahwa AS tidak mampu menterjemahkan bagaimana cara memakmurkan dunia dengan cara yang kompeten. Hubungan AS-Iran yang selalu panas tidak pernah didekati dengan cara yang elegan.

Sementara, beberapa hubungan negara-negara di Asia memang nampak sulit, seperti China-Jepang atau India-Pakistan, tetapi ini akan mampu mereka selesaikan sendiri dengan mengembangkan hubungan jangka panjang abadi untuk pertamakalinya dan seterusnya. Terlepas dari kesulitas dan ketengangan dalam hubungan China-Jepang, kepemimpinan Beijing berhasil meyakinkan bahwa hubungan itu tidak seluruhnya keluar dari rel. tahun 2007, China bahkan berupaya mengedepankan hubungan baik yang positif dengan kunjungannya ke Tokyo. Kepemimpinan China juga melihat “jauh kedepan” dibanding dengan cara pandang pemimpin Barat dewasa ini. Sedikit saja negara besar yang telah mengalami penghindaan begitu menyakitkan seperti China dalam dua abad terakhir. Jika China hanya memfokuskan diri pada luka-luka dan penghinaan yang dulu diterima, mereka hanya akan sibuk dengan itu. Akhirnya, ketika China menjadi besar dan digdaya, tetangganya harus meniru kebangkitannya dan mengakui kekuatan China. China tidak perlu memaksakan pandangan-pandangannya atau perspektifnya kepada negara lain. Negara lainlah yang pada akhirnya nantinya yang akan menyesuaikan diri jika China berhasil dalam tujuan tunggalnya mempromosikan pembangunan ekonomi.

Hal itu pula yang sedang China lakukan terhadap Afrika. Di Afrika, disamping mencari sumberdaya alam, China makin membuat kehadirannya terasa dengan banyak cara, dan tidak semua pendekatannya kontroversial. Dengan bantuan PBB, China membentuk China-Africa Business Council guna mendorong pembangunan di kawasan itu. China juga menempatkan pasukan penjaga perdamaian di Liberia dan berkontribusi dalam pembangunan proyek-proyek di Etiophia, Tanzania, dan Zambia. China adalah satu-satunya negara yang paling banyak menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi yang dihadiri pemimpin Afrika.

Kebangkitan China memang dipandang berbeda dengan peran Jepang. Krisis di Asia Tenggara tahun 1997-1998 lalu, membuktikan bahwa China jauh lebih gesit membantu nagara-negara Asia Tenggara daripada Jepang. Pada saat itu, bahkan ketika AS dan beberapa negara Asia meminta Jepang untuk lebih menarik banyak impor pada tetangga-tetangganya ASEAN, PM Hashimoto berkata, “Jepang masih sibuk memikirkan kepentingannya sendiri. Kami tentu tidak layak untuk berfikir arogan bahwa kami dapat memainkan peran sebagai lokomotif Asia”. Mungkin ini bisa dipahami, Jepang adalah negara kalah pada Perang Dunia II, yang masih banyak menanggung “beban sejarah” yang tidak mampu ia lepaskan hingga kini. Berbeda dengan China, yang juga dijajah, pada saat Perang Dunia II, ia bangkit dan memiliki awal sejarah yang sama dengan negara-negara baru merdeka tahun 1950-an. Hal ini bisa diingat pada perannya pada Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955.

Selain itu, kebangkitan China militer juga sangat menakjubkan. Militer China bukan lagi militer China yang lama, yang mengandalkan jumlah prajurit. China telah berubah menjadi salah satu negara industri besar, karena itu postur militer China pun berubah menjadi militer yang modern. Pada akhir tahun 2005, China menyelesaikan putaran terakhir pengurangan personel sebanyak 200.000 orang. Dengan pengurangan tersebut, personel Angkatan Bersenjata China berjumlah sekitar 2,3 juta orang. Dengan memasukkan milisi dan pasukan cadangan, jumlah total personel Angkatan Bersenjata China mencapai 3,2 juta.

Keberhasilan China mengirimkan orang keluar angkasa dengan pesawat ruang angkasa Shenzou 5, dan kembali dengan selamat di Bumi, menjadikan China dapat disejajarkan dengan Rusia dan Amerika Serikat. Memang, dibandingkan dengan Rusia dan Amerika Serikat, China tertinggal 40 tahun, tetapi dari 195 negara di dunia saat ini, China adalah nomor tiga, suatu prestasi yang tidak dapat dianggap remeh.
Meskipun kekuatan China makin disegani dan menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak, termasuk negara-negara tetangganya, dan utamanya adalah Barat, satu hal yang perlu dicatat, China tidak berkeinginan untuk menjadi kekuatan terbesar dunia, sebagaimana peran AS sebagai Polisi Dunia.*

Masad Masrur

Iklan

Satu Balasan ke Resensi Buku: Asia Hemisfer Baru Dunia

  1. […] Mengalami Masalah Kebugaran PemainUniversitas Negeri Yogyakarta dan Yogyakarta State UniversityResensi Buku: Asia Hemisfer Baru Dunia body.custom-background { background-color: #f6ff09; } .set-header:after{ background-image: […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: