Teknologi Oh Teknologi

Oleh: Mathiyas Thaib

Ada sebuah acara di TVRI. Judulnya Sang Penemu, dan acara yang ditayangkan setiap minggu siang ini membuat saya trenyuh. Dalam acara tersebut tampaklah para generasi muda beradu cerdas untuk mewujudkan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan menjadi penemuan baru ataupun alat-alat yang dapat membuat hidup menjadi lebih muda.

Persoalannya, mengapa acara sestrategis itu ditayangkan oleh TVRI – stasiun televisi yang notabene tergolong rendah ratingnya? Mengapa televisi-televisi swasta justru berlomba-lomba memadatkan dunia informasi publik dengan sinetron utopis, ajang adu bakat penghibur, dan sajian kuliner? Sedemikian kurang menarikkah dunia pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi? Mulanya saya mencoba mencari alasan positif atas trend dunia penyiaran televisi di tanah air. Dan sayangnya, saya tidak menemukannya.

Pikiran saya lantas melompat ke masa silam. Beberapa waktu yang lalu, pada suatu pagi yang dihimpit kemacetan, saya menemukan headline surat kabar bertema “SBY meminta pacu pengembangan IPTEK di tanah air”. Namun di halaman-halaman berikutnya, saya menemukan kontradiksi. Pada halaman-halaman berikutnya, berturut-turut pikiran saya dihajar oleh berita tentang “bedol desanya 100 mantan pegawai PT. Dirgantara Indonesia ke Malaysia”, “Esemka tidak lolos uji emisi” dan “pemerintah belum punya ancang-ancang garap program mobil nasional”. Kenapa kebijakan tertinggi ternyata tidak linier dengan praktik di lapangan? Akh, jangan-jangan di masa depan kita memang harus membaca surat kabar dari halaman belakang.

Pikiran saya meloncat lebih jauh lagi. Pada World Sciences Forum ke 2 di Budapes tahun 2005, ketika Dr Mohammad Hassan, direktur Academy of Sciences of Developing Wold, menyebut bahwa Cina, Brazil, India dan Korea Selatan merupakan pusat-pusat keunggulan ilmu pengetahuan baru di dunia ini. Keempat negara tersebut sudah disejajarkan dengan negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.

Mulanya saya coba bersabar. Baiklah, mereka boleh jadi se-fantatis itu, tapi negara saya, Indonesia tercinta, pasti punya kebanggaan tersendiri. Celakanya, saya lagi-lagi harus gigit jari. Surat Umar Anggara Jenie Ketua LIPI menggunting harapan saya. Dalam surat yang ditujukan kepada Amien Rais tersebut, dinyatakan secara tegas spesifikasi keunggulan teknologi negara-negara berkembang sebagai berikut:

Tabel Keunggulan Teknologi Negara-negara Berkembang

Bidang Negara
Bioteknologi Cina, Brazil, India, Mesir, Kuba,
Korea Selatan, Afrika Selatan dan Iran
Teknologi Informatika & Komunikasi India, Cina, dan Pakistan
Teknologi Antariksa Cina, India, Brazil, Pakistan dan
Iran
Nanoteknologi Cina, Brazil, India dan Afrika
Selatan

Dengan demikian negara-negara yang akan menyusul Cina, Brazil, dan India adalah Pakistan, Iran, Afrika Selatan, Mesir dan Kuba. Negara seperti Cile, Thailand dan Nigeria akan menyusul kemudian. Namun, tetap saja tak ada Indonesia dalam daftar tersebut.

Demikianlah fenomena bangsa kekinian. Ketika Dr. APJ Abdul Kalam, Presiden India periode 2002-2007, berseru “jika bisa buat mengapa harus beli”, ketika Ayatullah Ali Khamanei, pimpinan spiritual tertinggi Iran, menekan Iran untuk menjadi “pemimpin ilmu pengetahuan di dunia muslim”, maka Indonesia terlena dengan pencitraan dan kejayaan masa lalu.

Salah satu kisah paling bombastis tentang keberpihakan pemerintah terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah ketika Presiden Paskistan Pervez Musharaf bersedia memberikan mas kawin pada Dr. Attahaur Rahman yang dipinang untuk menduduki jabatan Menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Mas kawin bagi ilmuwan kimia terkemuka di Pakistan itu adalah:

Pertama, pemerintah harus meningkatkan anggaran pendidikan tinggi sebesar 100 %, dan selanjutnya 50% setiap tahun sampai 5 tahun. Kedua, pemerintah harus meningkatkan pembelanjaan riset sebesar 6000 %. Terakhir, pemerintah harus membayar para peneliti pakistan empat kali lebih besar dari menteri kabinet.

Akibatnya, setelah lima tahun, kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan industri di Pakistan kini sudah mendekati India.

Sebaliknya di Indonesia, pengembangan teknologinya masih terseok-seok. Rasio anggaran APBN untuk riset pengembangan teknologi seolah “belas kasihan”. Sempitnya penayangan acara-acara berbau sciences di televisi kita merupakan gambaran betapa kurangnya apresiasi bangsa ini terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketidakkonsistenan kebijakan dengan praktik di lapangan menggambarkan betapa bangsa ini belum mau belajar dari progresifitas negara-negara berkembang lainnya. Fenomena ini merupakan gambaran bahwa Indonesia belum beranjak dari mental “konsumtif” ke “produktif”.

Kondisi ini akan semakin tampak jika kita mengamati trend bidang studi yang diminati oleh para mahasiswa Indonesia di luar negeri selama tiga puluh tahun terakhir.

Jika bangsa Jepang belajar di Amerika Serikat untuk membuat barang atau produk, maka para mahasiswa Korea pergi ke Jepang untuk menguasai keahlian bangsa Jepang membuat produk. Kemudian mereka pergi ke Amerika untuk belajar bidang yang sama dan bertekad ingin mengalahkan Jepang.

Bangsa Cina setelah revolusi kebudayaan selalu mengamati orang Jepang dan Korea. Mereka merasa tertinggal dari Jepang dan Korea. Kemudian Deng Xiao Ping beserta kader-kader pimpinan partai komunis, yang kebanyakan adalah para insinyur beralamater Universitas Tsing Hua, mengutus orang-orang Cina untuk belajar di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika Serikat.
Tujuannya adalah untuk mendalami ilmu ekonomi dan ilmu manajemen operasi, sehingga bangsa Cina dapat memproduksi barang dan produk melebihi Jepang dan Korea.

Semasa Perdana Menteri Datuk Mahathir Muhammad, bangsa Malaysia juga diwajibkan untuk melihat dan belajar ke timur (Looks to the East).

Sebaliknya, bangsa Indonesia belajar ke Amerika Serikat cenderung untuk mendalami ilmu keuangan (makro dan mikro), pemasaran dan penjualan, serta komunikasi sembari membangun jaringan (network). Akibatnya, ketika negara-negara lainnya mulai menunjukan taringnya, bangsa Indonesia seperti kebakaran janggut. Produk-produk impor, mulai dari Cina, India, Jepang, Amerika Serikat sampai negara-negara Eropa membanjiri pasar domestik. Produk lokal tergerus. Setiap sudut, sepanjang mata memandang, dari bangun pagi sampai kembali tidur kita terus menerus dikepung produk impor.

Setiap rupiah yang ditukar oleh keringat, darah dan air mata dari bangsa kita dibawa keluar negeri dengan cara yang begitu elegan -menjual produk yang tidak dapat kita produksi. Dan kondisi ini terjadi karena kita kurang memberi ruang bagi pengembangan teknologi. Akibat kegagalan kita memahami bahwa di era globalisasi dewasa ini yang dapat mensejahterakan suatu bangsa adalah pengembangan teknologi.

Artikel ini saya Ambil dari: http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/04/16/teknologi-oh-teknologi/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: