KONON

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Para penulis dan tukang cerita pastilah sangat membutuhkan kata “konon” ini. Mereka tidak akan sanggup hidup tanpanya, sekalipun sesekali atau banyak kali dirubahnya dengan kata-kata tersebutlah, diceritakanlah, arkian, alkisah dsb. Konon, ibarat makanan dalam bentuk non materi dan seperti biasa kita jarang hirau dari mana datangnya.

 

Nah, konon, kata konon ini berasal dari bahasa arab: Kaa na, yakuu nu, kaunan. arti harfiahnyaa; “tersebutlah dahulu bahwa telah terjadi” lalu dlm bentuk gerund berubah menjadi kaunan [Ind. kejadian]. Adakah kaitannya sehingga orang lalu mengatakan kalimat konotasi? Saya fikir pasti ada, sebab istilah konotasi hanya bisa diartikan jika sesuatu dengan sesuatu yang lainnya memiliki hubungan kejadian. Dus itulah konon.

 

Sekarang bagaimana dengan orang Sasak ketika mereka mengungkapkan kemarahan: “tie manusie endek ne taok KENE”. apakah kata kene itu berasal dari DNA yang sama dengan Kaa na? Haqqul yakin ini juga pasti berhubungan essensi dari kejadian-kejadian masa lalu. Maka mereka yang reaktif, lalu mulutnya ngoceh bilang “begitu begini”, padahal secuil dia tidak tahu apa-apa tentang kejadian masa lalu dari objek yang dibicarakannya; orang macam itulah yang diketakan manusie endek ne taok kene.

 

Jika sekarang ini orang meletakkan kata konon pada tulisannya, dengan maksud membebaskan diri dari ikatan “harus tahu fakta kejadian sebelumnya”, itu berarti kata konon telah berubah pengertian menjadi “yang sebaliknya”. Mirip sama nasibnya dengan kalimat Insya Allah, yang hanya dipakai untuk berlindung agar terselamatkan dari kebohongan jika dia tidak mampu memenuhi janjinya.

 

Konon, para pejabat dan selebrities sekarang banyak menabur Insya Allah diujung-ujung lidah mereka dan dengan mudah kkita bisa mempredikisi untuk apa mereka melakukannya. Nampaknya konon, yang berkaitan dengan kebenaran masa lalu; dan Insya Allah, yang berkaitan dengan kebenaran masa yang akan datang telah mengalami pemerkosaan makna. Kini terpulang pada kita apakah kita akan ikut memperkosa atau berjihad fii sabilillah untuk mengembalikan kedua peristilahan itu kepada proporsi yang sebenarnya?

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Iklan

One Response to KONON

  1. Genius NTB berkata:

    Reblogged this on Genius NTB and commented:
    Pragmatika Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: